MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Psikologi » Sufisme » Teologi » Merindui Kenangan

Minggu, 09 November 2014

Merindui Kenangan


بسم الله الرحمن الرحيم

“Now the minutes feel like hours
And the hours feel like days
While I'm away

You know right now I can't be home
But I'm coming home soon
Coming home soon”[1]

(Bruno Mars; Long Distance)

Ada saat-saat dimana kita dijenuhkan oleh pekerjaan atau kegiatan yang itu-itu saja. Setiap hari mendengarkan bising suara mesin yang dipaksa bekerja 24 jam. Atau suara klakson yang menyebalkan—namun aku tau, kau tak akan menghiraukan itu semua demi kelancaran pekerjaan sendiri. Pekerjaan yang menuntut kedisiplinan, pekerjaan yang banyak peraturan ini-itu ternyata—sadar atau tidak—telah menekan diri kita. Ternyata kita mengalami kejenuhan, kawan. Ya, di saat-sata seperti itu naluri kita akan merindukan, bebunyian sekawanan emprit, pemandangan hijau seperti disawah-sawah, bunyi gemercik aliran air disungai. Kita merindukan suasana semacam itu.
Bagaimana untuk mengatakan tidak, sedangkan memang begitu adanya? Lihat saja bagaimana banyak masyarakat kota yang hari-harinya disibukkan dengan pekerjaannya akan berbondong-bondong ke tempat wisata yang berbau “alam”. Entah itu di desa atau dimana. Para turis mancanegara saja suka sekali berpelancong ke Bali, Lombok, dan tempat-tempat yang dirasa menyejukkan jiwanya. Maka, “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (Q.S. Adz-Dzâriyât [51]: 20).
Bisa jadi, ketika itu mereka sedang amat merindukan dirinya sendiri.

Ya, bisa jadi mereka sedang merindukan dirinya sebagai identitas yang menguasai tubuhnya. Bukan yang dikuasai tubuhnya atau—bahkan yang paling parah—yang dikuasai pekerjaannya. Begitulah mayoritas manusia yang hidup di era modern ini. kita dituntunt ini-itu dengan alasan “kebutuhan hidup” sehingga diri mereka semakin tenggelam, hilang terlupakan. Maka, jangan heran bilamana grafik kejahatan moral akan semakin meningkat. Manusia sudah kehilangan dirinya. Dirinya yang seperti dulu ketika masih bersetatus sebagai bayi. Maka, “Dan (juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Q.S. Adz-Dzâriyât [51] 21).
***
Disaat-saat tertentu kita akan sangat membutuhkan kenangan. Kenangan apa pun itu. Untuk mengingat satu kenangan yang sangat indah, yang terindah dari yang indah-indah! Entah itu kenangan yang terpahit; apakah hatimu dan ingatanmu akan selalu menginginkan untuk melupakannya? Namun semakin kau ingin melupakannya, semakin pula kau mengingatnya. Atau malah kenangan-kenangan yang dibilang akan amat sayang dilupakan. Bahakan kau akan mengatakan; aku ingin hari-hariku semacam hariku pada waktu itu. Meminjam liriknya Slank; terlau manis untuk dilupakan.
Di saat diri kita mempunyai kesempatan untuk sendiri—ketika senja mulai datang, misalnya. Kamu akan duduk diam, seakan senja menceritakan seuatu padamu. Menceritakan kenangan-kenangan yang betapa kau masih ingat itu. Entah itu kenangan pahit atau manis, entah itu kenanganmu yang ketika masih Es-De atau ketika sudah remaja. Kau akan mendengarkan baik-baik, sedetail-detailnya. Seakan kau merindukan itu semua. Dan disaat seperti itu kau amat ingin sekali untuk mengulanginya kembali. Ingin sekali kembali ke masa lalu dan mengulangi cerita yang sama percisnya dengan ceritamu yang dulu. Kau bahkan tidak akan peduli bahwa keinginan konyomu itu hanyalah membuang-buang waktu.
Semakin lama senja bercerita tentang kenangan, semakin kau lebih suka sendiri. Ah, semuanya menyisakan sunyi. Dan membiarkan senja bercerita tentang kesunyian yang mendalam. Sedalam-dalamnya! Sedangakn jiwa kita mendengarkan senja seakan jiwa kita—atau memang benar-benar—telah mengalami kerinduan. Ya, satu kerinduan yang enatah pada siapa? Seakan ada cinta sejati di masa lalu entah kapan tepatnya dan sampai kapan perasaan itu ada. Yang jelas kita merindukannya sampai saat ini. Kita gelisah sekaligus merasa tentram waktu itu. Kita seperti seorang kekasih yang merindu seperti dalam lirik LDR yang dinyanyikan oleh Raisa.
Ketika aku berada di saat-saat seperti itu, aku akan bertanya pada diriku; apakah kamu sedang merindukan sesuatu? Dan membiarkan dirilah yang bercerita, bercerita tentang apa saja. dengarkanlah itu! Maka, "dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menyaksikan.'" (Q.S. Al-A'râf [7]: 172). Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, selasa 04 November 2014
16:54 ketika menunggu senja kembali mengisahkan tentang kesunyian.


[1] Terjemahannya;
Kini semenit terasa seperti satu jam
Dan satu jam terasa seperti sehari
Saat aku jauh

Kau tahu saat ini aku tak bisa pulang
Tapi aku kan segera pulang, segera pulang
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
05.16

Belum ada komentar untuk "Merindui Kenangan"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ▼  November (2)
      • A-K-U
      • Merindui Kenangan
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Minggu, 09 November 2014

Merindui Kenangan


بسم الله الرحمن الرحيم

“Now the minutes feel like hours
And the hours feel like days
While I'm away

You know right now I can't be home
But I'm coming home soon
Coming home soon”[1]

(Bruno Mars; Long Distance)

Ada saat-saat dimana kita dijenuhkan oleh pekerjaan atau kegiatan yang itu-itu saja. Setiap hari mendengarkan bising suara mesin yang dipaksa bekerja 24 jam. Atau suara klakson yang menyebalkan—namun aku tau, kau tak akan menghiraukan itu semua demi kelancaran pekerjaan sendiri. Pekerjaan yang menuntut kedisiplinan, pekerjaan yang banyak peraturan ini-itu ternyata—sadar atau tidak—telah menekan diri kita. Ternyata kita mengalami kejenuhan, kawan. Ya, di saat-sata seperti itu naluri kita akan merindukan, bebunyian sekawanan emprit, pemandangan hijau seperti disawah-sawah, bunyi gemercik aliran air disungai. Kita merindukan suasana semacam itu.
Bagaimana untuk mengatakan tidak, sedangkan memang begitu adanya? Lihat saja bagaimana banyak masyarakat kota yang hari-harinya disibukkan dengan pekerjaannya akan berbondong-bondong ke tempat wisata yang berbau “alam”. Entah itu di desa atau dimana. Para turis mancanegara saja suka sekali berpelancong ke Bali, Lombok, dan tempat-tempat yang dirasa menyejukkan jiwanya. Maka, “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (Q.S. Adz-Dzâriyât [51]: 20).
Bisa jadi, ketika itu mereka sedang amat merindukan dirinya sendiri.

Ya, bisa jadi mereka sedang merindukan dirinya sebagai identitas yang menguasai tubuhnya. Bukan yang dikuasai tubuhnya atau—bahkan yang paling parah—yang dikuasai pekerjaannya. Begitulah mayoritas manusia yang hidup di era modern ini. kita dituntunt ini-itu dengan alasan “kebutuhan hidup” sehingga diri mereka semakin tenggelam, hilang terlupakan. Maka, jangan heran bilamana grafik kejahatan moral akan semakin meningkat. Manusia sudah kehilangan dirinya. Dirinya yang seperti dulu ketika masih bersetatus sebagai bayi. Maka, “Dan (juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Q.S. Adz-Dzâriyât [51] 21).
***
Disaat-saat tertentu kita akan sangat membutuhkan kenangan. Kenangan apa pun itu. Untuk mengingat satu kenangan yang sangat indah, yang terindah dari yang indah-indah! Entah itu kenangan yang terpahit; apakah hatimu dan ingatanmu akan selalu menginginkan untuk melupakannya? Namun semakin kau ingin melupakannya, semakin pula kau mengingatnya. Atau malah kenangan-kenangan yang dibilang akan amat sayang dilupakan. Bahakan kau akan mengatakan; aku ingin hari-hariku semacam hariku pada waktu itu. Meminjam liriknya Slank; terlau manis untuk dilupakan.
Di saat diri kita mempunyai kesempatan untuk sendiri—ketika senja mulai datang, misalnya. Kamu akan duduk diam, seakan senja menceritakan seuatu padamu. Menceritakan kenangan-kenangan yang betapa kau masih ingat itu. Entah itu kenangan pahit atau manis, entah itu kenanganmu yang ketika masih Es-De atau ketika sudah remaja. Kau akan mendengarkan baik-baik, sedetail-detailnya. Seakan kau merindukan itu semua. Dan disaat seperti itu kau amat ingin sekali untuk mengulanginya kembali. Ingin sekali kembali ke masa lalu dan mengulangi cerita yang sama percisnya dengan ceritamu yang dulu. Kau bahkan tidak akan peduli bahwa keinginan konyomu itu hanyalah membuang-buang waktu.
Semakin lama senja bercerita tentang kenangan, semakin kau lebih suka sendiri. Ah, semuanya menyisakan sunyi. Dan membiarkan senja bercerita tentang kesunyian yang mendalam. Sedalam-dalamnya! Sedangakn jiwa kita mendengarkan senja seakan jiwa kita—atau memang benar-benar—telah mengalami kerinduan. Ya, satu kerinduan yang enatah pada siapa? Seakan ada cinta sejati di masa lalu entah kapan tepatnya dan sampai kapan perasaan itu ada. Yang jelas kita merindukannya sampai saat ini. Kita gelisah sekaligus merasa tentram waktu itu. Kita seperti seorang kekasih yang merindu seperti dalam lirik LDR yang dinyanyikan oleh Raisa.
Ketika aku berada di saat-saat seperti itu, aku akan bertanya pada diriku; apakah kamu sedang merindukan sesuatu? Dan membiarkan dirilah yang bercerita, bercerita tentang apa saja. dengarkanlah itu! Maka, "dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menyaksikan.'" (Q.S. Al-A'râf [7]: 172). Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, selasa 04 November 2014
16:54 ketika menunggu senja kembali mengisahkan tentang kesunyian.


[1] Terjemahannya;
Kini semenit terasa seperti satu jam
Dan satu jam terasa seperti sehari
Saat aku jauh

Kau tahu saat ini aku tak bisa pulang
Tapi aku kan segera pulang, segera pulang
Diposting oleh Mas Zain di 05.16
Label: Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger