MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Archive for Oktober 2014

Selasa, 28 Oktober 2014

Salah, Salah, dan Salah….

بسم الله الرحمن الرحيم “Aku terus...terus melakukan kesalahan disamping Mu. Seakan aku tak merasakan Mu. Begitu bodohnya. Ingi...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
18.25
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ▼  Oktober (1)
      • Salah, Salah, dan Salah….
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Selasa, 28 Oktober 2014

Salah, Salah, dan Salah….


بسم الله الرحمن الرحيم

“Aku terus...terus melakukan kesalahan disamping Mu. Seakan aku tak merasakan Mu. Begitu bodohnya. Ingin rasa-rasanya aku meludahi wajahnya. Tapi ternyata, aku pun tak bisa untuk sekedar meludahi wajahku. Karena aku begitu lemahnya. Bagaimana aku bisa menghindar dari sesuatu? Bila aku bisa, itu pun bukan kemampuanku. Tapi ada tangan Mu yang begitu kuat nan indahnya melakukan itu. Subhana al-ladzi sakhkhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin (Q.S. az-Zukhruf [43]; 13).”



Sering kali kita melakukan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Amat sering, bahkan. Seakan-akan diri ini amat ingin mengumpat, marah pada diri kita sendiri. Bahkan, kadang-kadang kita seakan sudah “emoh” untuk menghindarinya. Atau, malah kita tidak sadar bahwa diri ini melakukan kesalahan yang sudah sering kali kita lakukan. Entahlah kenapa begitu—yang lebih tepat; apa “sesuatu” (hikmah) dibalik itu?
Kita adalah manusia. Manusia adalah sebagian dari makhluk-makhluk kereasi Tuhan terbaik. Ya, kita hanyalah makhluk. Dalam permainan logika, makhluk berarti bukan Tuhan. Tuhan wajib benar. Berarti makhluk kebalikannya. Bahasa gamblangnya—meminjam liriknya lagu Manusia—“Dosa dan kesalahan dalam niscaya”. Kita harus mengakui itu. sebagai awal, gerbang untuk menuju pengetahuan diri—atau dalam bahasanya haditsnya “‘arafa nafsah”. Ya, kita harus tahu, melihat dengan sadar diri kita seperti kita berkaca. Lihatlah!
Kita adalah manusia. Dalam bahasa al-Qur’an kita disebut dengan istilah—salah satunya—“insân”, yang berasal dari akar kata nasiya-yansa-nasya-n yang bisa dicari artinya dalam kamus, yaitu “lupa”. Lafadz insân ini, dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 65 kali.[1] Istilah ini, dipakai al-Qur’an untuk menyebut manusia dalam konteks yang dihubungkan dengan keistimewaan-keistimewaan manusia sebagai khalifah Tuhan (misalanya, Q.S. ar-Rahmân; 03-04), kenegatifan-kenegatifan manusia (misalanya, Q.S. al-Qiyâmah; 05), dan proses penciptaannya (misalanya, Q.S. al-Hijr; 26). Salah satu contoh Firman Nya yang menghubungkan insân dengan kesalahan adalah Q.S. Al-Qiyâmah; 05, “Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.” Maka jangan heran bila ada ungkapan yang telah popular—juga dikampenyekan—oleh para Da’i-Da’iyah, “al-Insânu mahallu al-khatha` wa al-nisyân” (Manusia adalah tempatnya kesalahan dan lupa), karena memang salah satu fitrah manusia itu cenderung kepada kenegatifan.
Pernyataan tersebut menjadi bukti bahwa, semua manusia memang tak luput dan tak akan pernah luput dari kesalahan dan dosa. Bahkan para Nabi pun sebagai manusia—dengan tidak mengurangi derajat dan kemuliannya—juga pernah melakukan kesalahan. Nabi Adam as., pernah memakan buah terlarang (khuldi)—ini adalah kesalahan pertama dalam sejarah manusia. Nabi Yunus as., pernah desersi, lari meninggalkan kaumnya. Nabi Musa as., pernah membunuh laki-laki keturunan Bani Israil. Sampai Nabi Muhammad saw.,—hal ini agaknya bertentangan dengan ke-ma’sum-an beliau—juga pernah bermuka masam kepada kedatangan laki-laki buta yang bernama Ibnu Ummi Maktum ketika beliau sedang menerima tamu para pembesar Quraisy dan memperbincangkan sesuatu, sampai-sampai Allah menegurnya dengan Q.S. 'Abasa [80]: 1-42. Setidaknya fakta sejarah ini—dengan tidak mengurangi ke-ma’sum-an beliau—menunjukkan bahwa nabi juga manusia biasa, bukan Tuhan Yang tak punya salah dan celah untuk kesalahan. Bukankah Nabi sendiri pernah bersabda, “Aku ini manusia biasa seperti kalian juga.” Dan sabda beliau, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)
Dalam konteks ini—manusia dalam istilah insân—mempunyai dua sifat (fitrah) yang saling bertentangan seakan ia adalah dua gambar pada koin emas; berpotensi baik namun cenderung pada keburukan. Ya, kita adalah manusia. Manusia yang mempunyai sifat (fitrah) yang cenderung kepada kenegatifan sebagaimana yang sudah diinformasikan dalam al-Qur’an.
***
Kenapa Tuhan menciptakan kesalahan, bila Dia melarangnya? Bahkan Dia tak segan-segan akan menyiksa pedih pelakunya! Bukankah Dia Maha Kuasa dan Maha Pencipta yang—pasti—mampu untuk meniadakan kesalahan-kesalahan atau hanya menciptakan kebenaran saja? Ah, pertanyaan mendasar itu sebenarnya tidaklah pantas untuk ditanyakan pada kita—sebagai manusia; makhluk Nya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut terkesan menggugat Tuhan. Tapi tujuan kita bukan untuk menggugat Tuhan atau apa, namun kita hanya ingin mengorek-ngorek hikmah; ada apa di balik yang ada?
Baiklah, mari kita perbincangkan masalah ini!
Kita adalah manusia, sebagian dari jenis-jenis makhluk Nya. Bila kita makhluk Nya berarti kita bukan Tuhan. memang begitu, kan? Bila kita bukan Tuhan dan sedangkan Tuhan itu Maha Benar tak mempunyai kesalahan secuil pun—“Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa” (Q.S. Thâhâ [20]; 52), berarti kita sebagai makhluk Nya “wajib” mempunyai kesalahan. Ya, “wajib” salah! Sebab kesalahan-kesalahan itulah ciri-ciri ke-makhlukan kita.
Pernahkah kalian memperhatikan air, kawan? Salah satu sifatnya air adalah bisa membersihkan kotoran-kotoran dan mensucikan lantai rumah kita. Namun tahu tidak, bila kita tak akan sadar sebelumnya bahwa air itu bisa membersihkan lantai rumah kita sebelum kalian lantai kita kotor—dengan disengaja atau tidak. Ya, kita perlu “kotoran” untuk mengetahui bahwa air mampu membersihkan kotoran. Coba bayangkan bila di lingkungan kita tak menemukan kotoran satu pun? Jadinya, kita tak akan tahu selamanya bagaimana sifatnya air. Ya, seakan-akan air membutuhkan kotoran untuk mengenalkan bahwa dirinya mampu membersihkan kotoran sebagaimana penjual nasi mengharapkan manusia-manusia merasakan lapar.
Bukankah Tuhan itu Maha Pengampun dan tak ada yang melebihi ampunan Nya meski kita tak tahu—dan tak akan pernah tahu benar—seluas apa batasannya? Lalu bagaimana Dia memperkenalkan diri Nya dengan sifat Nya yang pengampun bila tak ada dosa-dosa yang mengalir dari badan manusia? Maka jangan heran bilamana Kanjeng Nabi Muhammad—shallallahu alaihi wa sallam—pernah bersabda, "Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT mengampuni mereka." (HR. Muslim). Hanya orang-orang yang menyadari kesalahan-kesalahannya lah yang mampu mengenal Nya bahwa Dia benar-benar Maha pengampun, bukan orang-orang yang (merasa) suci. Nabi—shallallahu alaihi wa sallam—pernah bersabda, “Sesunggunya Allah berfirman, Wahai anak Adam, apabila engkau memohon dan mengharapkan pertolongan-Ku maka Aku akan mengampunimu dan Aku tidak menganggap bahawa ia suatu beban. Wahai anak Adam, sekalipun dosa kamu seperti awan meliputi langit kemudian kamu memohon ampunan-Ku, niscaya aku akan mengampuninya. Wahai anak Adam, jika kamu menemuiku dengan kesalahan sebesar bumi, kemudian kamu menemuiku tidak dalam keadaan syirik kepada-Ku dengan suatu apapun. Niscaya Aku akan datang kepadamu dengan pengampunan dosa sebesar bumi itu.” (HR. Tirmidzi)
Maka, semakin banyak kita menyadari kesalahan-kesalahan diri, semakin kita kenal Dia. Semakin sensitif kita pada kesalahan-kesalah diri, semakin kita merasakan kehadiran Nya. Begitu juga sebaliknya. “Katakanlah, hai hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar: 53). Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm!  
Wallahu A’lam![]

5:17. Sambil ngopi dan menghirup keperawanan udara dari jendela rumah sendiri.


[1] Lihat Al-Mu’jam.
Diposting oleh Mas Zain di 18.25 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, East Java, Indonesia
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger