MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Teologi » Hasratku (Manusia)

Selasa, 05 Mei 2015

Hasratku (Manusia)



“Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hidupku tak akan bermakna jika aku tidak melakukannya.”

(Roger Housden)[1]


Para filosof amat ingin mencari hakikat sesuatu. Para senima mencari-cari sesuatu yang indah yang bahkan aneh menurut orang lain. Para ilmuwan ingin untuk mengetahui kebenaran di balik sesuatu. Para pelancong amat merindukan tempat pulang. Para pecinta menuntut  bertemu kekasihnya. Semua itu adalah hasrat. Hasrat yang sulit sekali kita hilangkan dalam diri kita sebagai manusia. Perasaan itu muncul entah dari mana, entah bagaimana menghilangkannya. Yang kita tahu kita amat tertarik untuk memnuhinya. Itu adalah permulaan dari peristiwa. Semenjak Kanjeng Nabi Adam as. diturunkaan dari surga “Turunlah kalian!” (Q.S. al-Baqarah: 36) “Turunlah kalian dari surga!” (Q.S. al-Baqarah: 38). Ketika tepat di bumi—tempat asing bagi spesies manusia—beliau terpisah bertahun-tahun dari istrinya, siti Hawa, ibu dari semua manusia dalam mitologi agama samawi, lalu beliau amat merindukannya dan ingin sekali bersua.
Ya, semua manusia memiliki hasrat dengan rasa yang sama; hasrat. Tak peduli apa yang menjadi hasratnya. Tak peduli datang dari mana. Bahkan kita tak peduli apa itu namanya. Yang kita tahu, kita dituntut untuk memenuhinya. Hal itu sudah ada semenjak kepala kita muncul dari rahim ibu kita. Bahkan sebelum itu terjadi. Lihat saja bagaimana tingkah laku sperma dan sel telur dalam rahim ibu; sperma tak sabar, selalu ingin keluar dari epididimis seakan ia tahu tugasnya adalah membuahi sel telur yang bahkan ia sendiri belum pernah bertemu dan sel telur setiap bulan meninggalkan indung telur menuju ke pembuluh fallopian, menunggu untuk di buahi, berharap sesuatu yang ia rindukan datang meski ia belum pernah tahu bagaimana dan apa itu sebelumnya.
(Sepertinya) Tuhan memang sengaja menumbuhkan hasrat dalam diri kita. Entah untuk apa sebenarnya—apakah kamu tahu untuk apa? Semenjak kita masih berbentuk sperma dan ovum, sebelum kita mempunya otak yang bisa berpikir ini-itu kita sudah mempunyai hasrat seperti yang aku katakan tadi. Sampai sekarang kita masih mempunyai hasrat meski mempunyai otak yang mampu berpikir, bahkan hasrat kita terlihat semakin kompleks lagi. Aih…!
Apakah hidup adalah kumpulan hasrat-hasrat alami manusia? Entahlah. Kita sendiri tak tahu, tak paham betul dari mana hasrat itu muncul. Bahkan sebelum kita tahu apa itu namanya kita sudah memilikinya. Sepertinya, selama kita ada hasrat itu ada, menyumbul tak tertahankan, sekali pun tanpa mengharap untuk muncul.
Hasrat, aku bahkan akan kebingungan mempertanyakan tentangnya.
Kita pasti memiliki hasrat terindah, terbesar dalam hidup kita, entah kita tidak tahu betul apa itu. Misalnya saja ketika kita masih sekolah Es-De dan berhasrat untuk meraih nilai tertinggi dalam kelas. Setelah kita berhasil meraihnya kita amat bahagianya sekali. Namun, itu masih belum. Kita kembali berhasrat untuk meraih nilai tertinggi selanjutnya sekan kita belum terpuaskan ketika memperoleh pertama kali. Dan begitu seterusnya seakan kita benar-benar tidak akan pernah terpuaskan dengan dugaan hasrat kita. Hal itu nyaris sama seperti hasrat-hasrat lainnya. Apakah kamu juga merasakan yang sama?
Apakah diri kita sebenarnya berhasrat untuk mencari sesuatu yang entah apa itu? Bahkan kita tak tahu bagaimana caranya memenuhinya. Seakan kita terus, terus, dan terus sampai kita memenuhi hasrat yang entah apa itu. Itulah yang aku maksud dengan hasrat terbesar dalam hudup. Apakah bila kita telah mati hasrat itu masih ada? Atau malah bertambah? Entahlah, aku tak tahu. Aku belum mati. Apakah do’a para muslim setiap hari dalam shalat kita—tunjukkanlah kami jalan yang “lurus”—adalah untuk pemenuhan hasrat terbesar kita? Entahlah, aku terlalu buta untuk melihat kenyataannya. Aku disini hanya berceloteh tentang hasratku dan mencoba melihat. Maka…”harus kutemukan sekali lagi/jalan yang hilang/kan kutempuh di kegelapan… bolehkah ku menujumu/ di jalan yang hilang/di jalan yang hilang”.[2] Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm!
Wallahu A’lam![]
Rabu 23:30
Rembang-Pasuruan, 29 April 2015


[1] Dikutib dari Novel “Memburu Rumi; Kisah Tentang Pencarian Cinta Sejati” karya Roger Housden.
[2] Lirik dari lagu “Jalan yang Hilang” dari Letto.
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
19.08

Belum ada komentar untuk "Hasratku (Manusia)"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ▼  Mei (1)
      • Hasratku (Manusia)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Selasa, 05 Mei 2015

Hasratku (Manusia)



“Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hidupku tak akan bermakna jika aku tidak melakukannya.”

(Roger Housden)[1]


Para filosof amat ingin mencari hakikat sesuatu. Para senima mencari-cari sesuatu yang indah yang bahkan aneh menurut orang lain. Para ilmuwan ingin untuk mengetahui kebenaran di balik sesuatu. Para pelancong amat merindukan tempat pulang. Para pecinta menuntut  bertemu kekasihnya. Semua itu adalah hasrat. Hasrat yang sulit sekali kita hilangkan dalam diri kita sebagai manusia. Perasaan itu muncul entah dari mana, entah bagaimana menghilangkannya. Yang kita tahu kita amat tertarik untuk memnuhinya. Itu adalah permulaan dari peristiwa. Semenjak Kanjeng Nabi Adam as. diturunkaan dari surga “Turunlah kalian!” (Q.S. al-Baqarah: 36) “Turunlah kalian dari surga!” (Q.S. al-Baqarah: 38). Ketika tepat di bumi—tempat asing bagi spesies manusia—beliau terpisah bertahun-tahun dari istrinya, siti Hawa, ibu dari semua manusia dalam mitologi agama samawi, lalu beliau amat merindukannya dan ingin sekali bersua.
Ya, semua manusia memiliki hasrat dengan rasa yang sama; hasrat. Tak peduli apa yang menjadi hasratnya. Tak peduli datang dari mana. Bahkan kita tak peduli apa itu namanya. Yang kita tahu, kita dituntut untuk memenuhinya. Hal itu sudah ada semenjak kepala kita muncul dari rahim ibu kita. Bahkan sebelum itu terjadi. Lihat saja bagaimana tingkah laku sperma dan sel telur dalam rahim ibu; sperma tak sabar, selalu ingin keluar dari epididimis seakan ia tahu tugasnya adalah membuahi sel telur yang bahkan ia sendiri belum pernah bertemu dan sel telur setiap bulan meninggalkan indung telur menuju ke pembuluh fallopian, menunggu untuk di buahi, berharap sesuatu yang ia rindukan datang meski ia belum pernah tahu bagaimana dan apa itu sebelumnya.
(Sepertinya) Tuhan memang sengaja menumbuhkan hasrat dalam diri kita. Entah untuk apa sebenarnya—apakah kamu tahu untuk apa? Semenjak kita masih berbentuk sperma dan ovum, sebelum kita mempunya otak yang bisa berpikir ini-itu kita sudah mempunyai hasrat seperti yang aku katakan tadi. Sampai sekarang kita masih mempunyai hasrat meski mempunyai otak yang mampu berpikir, bahkan hasrat kita terlihat semakin kompleks lagi. Aih…!
Apakah hidup adalah kumpulan hasrat-hasrat alami manusia? Entahlah. Kita sendiri tak tahu, tak paham betul dari mana hasrat itu muncul. Bahkan sebelum kita tahu apa itu namanya kita sudah memilikinya. Sepertinya, selama kita ada hasrat itu ada, menyumbul tak tertahankan, sekali pun tanpa mengharap untuk muncul.
Hasrat, aku bahkan akan kebingungan mempertanyakan tentangnya.
Kita pasti memiliki hasrat terindah, terbesar dalam hidup kita, entah kita tidak tahu betul apa itu. Misalnya saja ketika kita masih sekolah Es-De dan berhasrat untuk meraih nilai tertinggi dalam kelas. Setelah kita berhasil meraihnya kita amat bahagianya sekali. Namun, itu masih belum. Kita kembali berhasrat untuk meraih nilai tertinggi selanjutnya sekan kita belum terpuaskan ketika memperoleh pertama kali. Dan begitu seterusnya seakan kita benar-benar tidak akan pernah terpuaskan dengan dugaan hasrat kita. Hal itu nyaris sama seperti hasrat-hasrat lainnya. Apakah kamu juga merasakan yang sama?
Apakah diri kita sebenarnya berhasrat untuk mencari sesuatu yang entah apa itu? Bahkan kita tak tahu bagaimana caranya memenuhinya. Seakan kita terus, terus, dan terus sampai kita memenuhi hasrat yang entah apa itu. Itulah yang aku maksud dengan hasrat terbesar dalam hudup. Apakah bila kita telah mati hasrat itu masih ada? Atau malah bertambah? Entahlah, aku tak tahu. Aku belum mati. Apakah do’a para muslim setiap hari dalam shalat kita—tunjukkanlah kami jalan yang “lurus”—adalah untuk pemenuhan hasrat terbesar kita? Entahlah, aku terlalu buta untuk melihat kenyataannya. Aku disini hanya berceloteh tentang hasratku dan mencoba melihat. Maka…”harus kutemukan sekali lagi/jalan yang hilang/kan kutempuh di kegelapan… bolehkah ku menujumu/ di jalan yang hilang/di jalan yang hilang”.[2] Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm!
Wallahu A’lam![]
Rabu 23:30
Rembang-Pasuruan, 29 April 2015


[1] Dikutib dari Novel “Memburu Rumi; Kisah Tentang Pencarian Cinta Sejati” karya Roger Housden.
[2] Lirik dari lagu “Jalan yang Hilang” dari Letto.
Diposting oleh Mas Zain di 19.08
Label: Filsafat, Psikologi, Teologi

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger