MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Sufisme » Teologi » Tentang Kehilangan

Senin, 20 April 2015

Tentang Kehilangan



“Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya”

(Letto; Memiliki Kehilangan)


K E H I L A N G A N, kalian pasti pernah merasakan kehilangan, bukan? Kehilangan adalah hal yang pasti terjadi dan kita rasakan dalam hidup kita. Menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja; mustahil.
Kehilangan diartikan sebagai “hal hilangnya sesuatu; kematian”.[1] Dalam dunia psikologi, kehilangan menjadi nama untuk suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.
Mau tidak mau—kita sebagai manusia normal—pasti merasakan perasaan ini. bahkan manusia terhebat, termulia, tersempurna, Nabi Muhammad saw. tidak luput dari perasaan ini. Sesempurna apapun, beliau adalah manusia dan itu menjadi ciri has manusia. Bukankah dalam al-Qur’an, “Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu'” (Q.S. al-Kahfi: 110)    
Kira-kira tahun kedelapan setelah kenabian, sang Nabi saw. kehilangan orang yang sering menolongnya dari gangguan orang Quraisy, paman yang paling beliau sayangi meski non muslim; Abu Thalib. Tidak lama setelah itu, beliau kehilangan istri satu-satunya, istri yang paling dicintainya, Siti Khadijah ra. dalam usia 65 tahun. Coba bayangkan, betapa kehilangannya, beliau. Betapa sedihnya.  Itulah kenapa tahun itu dinamakan “amul huzni” (tahun kesedihan).
“Rasa kehilangan hanya akan ada/jika kau pernah merasa memilikinya”.[2] Bila tidak merasa memiliki maka tak aka nada perasaan kehilangan. Mustahil kita menghindarinya. Ya, sudah aku katakana pertama kali, menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja. Bahkan ada teori psikologi, menurut Daniel Kahneman bahwa, “secara umum manusia akan lebih merasa sakit jika kehilangan sesuatu daripada gagal ketika berusaha memperoleh sesuatu itu”. Mungkin hal ini tidak beda dengan yang di ungkapkan oleh tokoh Nagato dalam film Naruto, “Sangat sulit menerima kematian seseorang yang di cintai. Bahkan kita meyakini bahwa mereka tidak akan pernah mati... Kamu mencoba menemukan arti kematian, tetapi hanya ada kepedihan dan kebencian.... Kebencian yang tak pernah berahir, sakit yang tak pernah bisa sembuhkan.”
Entahlah untuk apa (hikmahnya) Tuhan menjadikan rasa kehilangan di hati manusia? Apakah Dia ingin kita tidak merasa memiliki apa-apa di dunia ini? Ah, sepertinya hal itu hampir tidak mungkin bagi manusia. Sebab manusia dititipkan ego (nafs). Sama saja Tuhan menyuruh hal yang tidak mungkin bagi manusia. Atau Dia ingin kita tahu betul dan menyadari bahwa, kita tidaklah memiliki apa-apa dan hanya Dia lah yang memiliki semuanya—semua-muanya, termasuk diri kita? Entahlah, yang jelas perasaan itu termasuk salah satu bentuk ujian Nya—apa pun itu namanya. Bila kita mampu melewatinya, tentu kita mendapat “sesuatu” dari Nya sebagaimana kisah Nabi Muhammad saw. yang diundang oleh Nya ke langit ke-7; mi’raj, setelah melewati tahun kesedihan. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 19 April 2015


[1] Lihat Kamus Besar bahasa Indonesia.
[2] Letto, Memiliki Kehilangan.
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.13

Belum ada komentar untuk "Tentang Kehilangan"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ▼  April (3)
      • Tentang Kehilangan
      • Hal yang Amat Membahagiakan
      • Belajar pada Bocah
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Senin, 20 April 2015

Tentang Kehilangan



“Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya”

(Letto; Memiliki Kehilangan)


K E H I L A N G A N, kalian pasti pernah merasakan kehilangan, bukan? Kehilangan adalah hal yang pasti terjadi dan kita rasakan dalam hidup kita. Menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja; mustahil.
Kehilangan diartikan sebagai “hal hilangnya sesuatu; kematian”.[1] Dalam dunia psikologi, kehilangan menjadi nama untuk suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.
Mau tidak mau—kita sebagai manusia normal—pasti merasakan perasaan ini. bahkan manusia terhebat, termulia, tersempurna, Nabi Muhammad saw. tidak luput dari perasaan ini. Sesempurna apapun, beliau adalah manusia dan itu menjadi ciri has manusia. Bukankah dalam al-Qur’an, “Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu'” (Q.S. al-Kahfi: 110)    
Kira-kira tahun kedelapan setelah kenabian, sang Nabi saw. kehilangan orang yang sering menolongnya dari gangguan orang Quraisy, paman yang paling beliau sayangi meski non muslim; Abu Thalib. Tidak lama setelah itu, beliau kehilangan istri satu-satunya, istri yang paling dicintainya, Siti Khadijah ra. dalam usia 65 tahun. Coba bayangkan, betapa kehilangannya, beliau. Betapa sedihnya.  Itulah kenapa tahun itu dinamakan “amul huzni” (tahun kesedihan).
“Rasa kehilangan hanya akan ada/jika kau pernah merasa memilikinya”.[2] Bila tidak merasa memiliki maka tak aka nada perasaan kehilangan. Mustahil kita menghindarinya. Ya, sudah aku katakana pertama kali, menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja. Bahkan ada teori psikologi, menurut Daniel Kahneman bahwa, “secara umum manusia akan lebih merasa sakit jika kehilangan sesuatu daripada gagal ketika berusaha memperoleh sesuatu itu”. Mungkin hal ini tidak beda dengan yang di ungkapkan oleh tokoh Nagato dalam film Naruto, “Sangat sulit menerima kematian seseorang yang di cintai. Bahkan kita meyakini bahwa mereka tidak akan pernah mati... Kamu mencoba menemukan arti kematian, tetapi hanya ada kepedihan dan kebencian.... Kebencian yang tak pernah berahir, sakit yang tak pernah bisa sembuhkan.”
Entahlah untuk apa (hikmahnya) Tuhan menjadikan rasa kehilangan di hati manusia? Apakah Dia ingin kita tidak merasa memiliki apa-apa di dunia ini? Ah, sepertinya hal itu hampir tidak mungkin bagi manusia. Sebab manusia dititipkan ego (nafs). Sama saja Tuhan menyuruh hal yang tidak mungkin bagi manusia. Atau Dia ingin kita tahu betul dan menyadari bahwa, kita tidaklah memiliki apa-apa dan hanya Dia lah yang memiliki semuanya—semua-muanya, termasuk diri kita? Entahlah, yang jelas perasaan itu termasuk salah satu bentuk ujian Nya—apa pun itu namanya. Bila kita mampu melewatinya, tentu kita mendapat “sesuatu” dari Nya sebagaimana kisah Nabi Muhammad saw. yang diundang oleh Nya ke langit ke-7; mi’raj, setelah melewati tahun kesedihan. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 19 April 2015


[1] Lihat Kamus Besar bahasa Indonesia.
[2] Letto, Memiliki Kehilangan.
Diposting oleh Mas Zain di 20.13
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger