MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Sufisme » Teologi » Hal yang Amat Membahagiakan

Jumat, 17 April 2015

Hal yang Amat Membahagiakan



S E P E R T I N Y A, hal yang amat sangat menyedihkan adalah ketika kita mati masih dalam keadaan ditolak oleh yang kita cintai. Lebih-lebih kita ditolaknya tidak hanya sekali. Menyedihkan sekali.
Sebagian orang, hal yang amat di carinya, lebih dari mendambakan hasrat untuk memasuki surga, adalah berkumpul dengan kekasih. Bahkan kita tidak peduli itu di tempat mana; surga atau neraka. Sepertinya tidak berlebihan bila ada yang menyenandungkan;

Meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
(Padi: Tempat Terakhir)

Bolehlah kita meyakini, kamu dapat menemui kekasih hanya di surga sebagaimana firman Nya "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat." (Q.S. al-Qiyâmah:22-23). Paling tidak kamu sudah menemukan motivasi untuk lebih berbuat kebajikan untuk memasuki surga. Surga dan surga, itu seakan menjadi jargon religiaus untuk melakukan kebajikan demi kebajikan. Sampai-sampai kita sering lupa hasrat utama jiwa kita; berjumpa kekasih.
Bagaimana bila itu sebaliknya; kita dapat menemui kekasih hanya di neraka? Apakah kita masih mau, berhasrat percis seperti kita berhasrat menemui kekasih di surga? Sepertinya kita perlu menjawabnya di hati saja. Sejujur-jujurnya! Tak perlu takut untuk diketahui orang-orang, kita tak perlu mengatakan jawabannya kepada orang.
Masih sudikah kita menemui kekasih meski di tempat yang tidak mengenakkan?
Terkadang kita memerlukan perenungan yang sebaliknya untuk mengukur diri. Apakah kita benar-benar menemui sang kekasih atau tempat yang menyenangka; surga? Maka jangan heran bilamana ada seorang sufi perempuan, Rabiah al-Adawiyah, ingin membakar surga dan neraka. Bukan karena beliau mampu membakar dua tempat itu. Sepertinya beliau tidak sehebat itu. Namun beliau mencoba membakar hasrat-hasrat nafsu yang lebih menginginkan surga dan takut neraka dari pada untuk menemui kekasihnya. Bukankah manusia yang dinamakan hebat adalah yang mampu menaklukkan musuh terbesar kita; nafsu sendiri? Sebagaimana sabda kekasih Tuhan; Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar; melawan hawa nafsu (ego).[1] Bukan setan. Maka janganlah sering menyalahkan kesalahan sendiri pada setan. Semoga saja kita termasuk orang yang mampu mengalahkan nafsu sendiri sehingga kita lebih berhasrat menemui kekasih daripada memasuki surga itu sendiri. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]


 Rembang-Pasuruan, 07 April 2015



[1] Hadits riwayat Al-Baihaqi.
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
14.09

Belum ada komentar untuk "Hal yang Amat Membahagiakan"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ▼  April (3)
      • Tentang Kehilangan
      • Hal yang Amat Membahagiakan
      • Belajar pada Bocah
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Jumat, 17 April 2015

Hal yang Amat Membahagiakan



S E P E R T I N Y A, hal yang amat sangat menyedihkan adalah ketika kita mati masih dalam keadaan ditolak oleh yang kita cintai. Lebih-lebih kita ditolaknya tidak hanya sekali. Menyedihkan sekali.
Sebagian orang, hal yang amat di carinya, lebih dari mendambakan hasrat untuk memasuki surga, adalah berkumpul dengan kekasih. Bahkan kita tidak peduli itu di tempat mana; surga atau neraka. Sepertinya tidak berlebihan bila ada yang menyenandungkan;

Meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
(Padi: Tempat Terakhir)

Bolehlah kita meyakini, kamu dapat menemui kekasih hanya di surga sebagaimana firman Nya "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat." (Q.S. al-Qiyâmah:22-23). Paling tidak kamu sudah menemukan motivasi untuk lebih berbuat kebajikan untuk memasuki surga. Surga dan surga, itu seakan menjadi jargon religiaus untuk melakukan kebajikan demi kebajikan. Sampai-sampai kita sering lupa hasrat utama jiwa kita; berjumpa kekasih.
Bagaimana bila itu sebaliknya; kita dapat menemui kekasih hanya di neraka? Apakah kita masih mau, berhasrat percis seperti kita berhasrat menemui kekasih di surga? Sepertinya kita perlu menjawabnya di hati saja. Sejujur-jujurnya! Tak perlu takut untuk diketahui orang-orang, kita tak perlu mengatakan jawabannya kepada orang.
Masih sudikah kita menemui kekasih meski di tempat yang tidak mengenakkan?
Terkadang kita memerlukan perenungan yang sebaliknya untuk mengukur diri. Apakah kita benar-benar menemui sang kekasih atau tempat yang menyenangka; surga? Maka jangan heran bilamana ada seorang sufi perempuan, Rabiah al-Adawiyah, ingin membakar surga dan neraka. Bukan karena beliau mampu membakar dua tempat itu. Sepertinya beliau tidak sehebat itu. Namun beliau mencoba membakar hasrat-hasrat nafsu yang lebih menginginkan surga dan takut neraka dari pada untuk menemui kekasihnya. Bukankah manusia yang dinamakan hebat adalah yang mampu menaklukkan musuh terbesar kita; nafsu sendiri? Sebagaimana sabda kekasih Tuhan; Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar; melawan hawa nafsu (ego).[1] Bukan setan. Maka janganlah sering menyalahkan kesalahan sendiri pada setan. Semoga saja kita termasuk orang yang mampu mengalahkan nafsu sendiri sehingga kita lebih berhasrat menemui kekasih daripada memasuki surga itu sendiri. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]


 Rembang-Pasuruan, 07 April 2015



[1] Hadits riwayat Al-Baihaqi.
Diposting oleh Mas Zain di 14.09
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger