MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Sufisme » Teologi » Belajar pada Bocah

Senin, 13 April 2015

Belajar pada Bocah



“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan
dan senda gurau saja…”  
 (Q.S. Muhammad: 36)


A K U mesti senang berkumpul—bercanda atau sekedar melihat tingkah lugunya—dengan anak kecil. Lihatlah mereka; bermain, bercanda, bergurau tanpa berfikir apakah aku besok makan atau tidak? Tanpa beban, kawan. Seakan mereka sudah begitu mengertinya apa itu kehidupan sebenarnya. Lihat saja mereka enjoy terhadap hari-harinya seakan tanpa beban. Bila mereka bertengkar—merebutkan salah satu mainan—esoknya hilang, akrab bermain bersama kembali seperti tak terjadi konflik apa-apa. Bukankah kita—sebagai manusia yang (ingin) paripurna—semestinya seperti itu? mema’afkan kesalahan orang lain seperti yang dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad—shalawat dan salam semoga atasnya?
Apakah mereka tahu apa itu hidup sebenarnya? Apakah mereka tahu bagaimana musti menjalani hidup ini?
Ah, kehidupan mereka amatlah enjoy mengarungi hidup yang terasa rumit bila dijalani para manusia yang mengaku dewasa semacam para Arif billah yang menjalani hidup ini tawakkal penuh, gembira ria—apa pun yang terjadi padanya—seperti jalan-jalannya kita menuju taman kota untuk memenuhi dan menemui sang kekasih tercinta. Namun tahukah bila sebaliknya—kita kalangan manusia yang mengaku dewasa—pusing tujuh keliling mengarungi hidup ini semacam kapten kapal yang mengarung luasnya samudra bertepatan dengan cuaca buruk. Cemas!
Tidaklah salah memang, bilamana terkadang kita musti melihat anak-anak kecil, merenunginya, dan mencontoh bagaimana kita musti menjalani hidup ini. Apakah mereka tahu apa itu hidup sebenarnya? Apakah mereka tahu bagaimana musti menjalani hidup ini? bukanlah tanpa alasan kenapa penulis membicarakan hal ini. Sebab, memang masa anak-anak adalah masa gambaran nafs muthmainnah—yang begitu enjoy menjalani hidup sebab mengembalikan—menyerahkan kembali—semua urusan kepada Pencipta dan Penyebab semua urusan yang ada didunia materi ini semenjak urusan itu nampak oleh mata, bahkan sebelum terjadi pun sudah diserahkan!
Sebaliknya kita—yang sudah mengaku dewasa—amatlah susah dan gundah gulana mengarungi kehidupan ini. Maka kita musti melihat diri kita kezaman kanak-kanak. Zaman dimana kamu menjalani diri sendiri menjadi jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah) yang amatlah menjalani hidup tawakkal. Lebih-lebih kita merenungi bagaimana gambaran kita di rahim ibu; masih berupa segumpal daging yang total diperankan dan diserahkan oleh Tuhan; dari Tuhan, oleh Tuhan, dan karena Tuhan. Lebih jauh lagi… bila kita merenungkan pertemuan sperma bertemu dengan ovum. Di mana kita? Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]

Bonot Lor – Pasuruan, 21 Oktober 2013
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
19.50

Belum ada komentar untuk "Belajar pada Bocah"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ▼  April (3)
      • Tentang Kehilangan
      • Hal yang Amat Membahagiakan
      • Belajar pada Bocah
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Senin, 13 April 2015

Belajar pada Bocah



“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan
dan senda gurau saja…”  
 (Q.S. Muhammad: 36)


A K U mesti senang berkumpul—bercanda atau sekedar melihat tingkah lugunya—dengan anak kecil. Lihatlah mereka; bermain, bercanda, bergurau tanpa berfikir apakah aku besok makan atau tidak? Tanpa beban, kawan. Seakan mereka sudah begitu mengertinya apa itu kehidupan sebenarnya. Lihat saja mereka enjoy terhadap hari-harinya seakan tanpa beban. Bila mereka bertengkar—merebutkan salah satu mainan—esoknya hilang, akrab bermain bersama kembali seperti tak terjadi konflik apa-apa. Bukankah kita—sebagai manusia yang (ingin) paripurna—semestinya seperti itu? mema’afkan kesalahan orang lain seperti yang dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad—shalawat dan salam semoga atasnya?
Apakah mereka tahu apa itu hidup sebenarnya? Apakah mereka tahu bagaimana musti menjalani hidup ini?
Ah, kehidupan mereka amatlah enjoy mengarungi hidup yang terasa rumit bila dijalani para manusia yang mengaku dewasa semacam para Arif billah yang menjalani hidup ini tawakkal penuh, gembira ria—apa pun yang terjadi padanya—seperti jalan-jalannya kita menuju taman kota untuk memenuhi dan menemui sang kekasih tercinta. Namun tahukah bila sebaliknya—kita kalangan manusia yang mengaku dewasa—pusing tujuh keliling mengarungi hidup ini semacam kapten kapal yang mengarung luasnya samudra bertepatan dengan cuaca buruk. Cemas!
Tidaklah salah memang, bilamana terkadang kita musti melihat anak-anak kecil, merenunginya, dan mencontoh bagaimana kita musti menjalani hidup ini. Apakah mereka tahu apa itu hidup sebenarnya? Apakah mereka tahu bagaimana musti menjalani hidup ini? bukanlah tanpa alasan kenapa penulis membicarakan hal ini. Sebab, memang masa anak-anak adalah masa gambaran nafs muthmainnah—yang begitu enjoy menjalani hidup sebab mengembalikan—menyerahkan kembali—semua urusan kepada Pencipta dan Penyebab semua urusan yang ada didunia materi ini semenjak urusan itu nampak oleh mata, bahkan sebelum terjadi pun sudah diserahkan!
Sebaliknya kita—yang sudah mengaku dewasa—amatlah susah dan gundah gulana mengarungi kehidupan ini. Maka kita musti melihat diri kita kezaman kanak-kanak. Zaman dimana kamu menjalani diri sendiri menjadi jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah) yang amatlah menjalani hidup tawakkal. Lebih-lebih kita merenungi bagaimana gambaran kita di rahim ibu; masih berupa segumpal daging yang total diperankan dan diserahkan oleh Tuhan; dari Tuhan, oleh Tuhan, dan karena Tuhan. Lebih jauh lagi… bila kita merenungkan pertemuan sperma bertemu dengan ovum. Di mana kita? Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]

Bonot Lor – Pasuruan, 21 Oktober 2013
Diposting oleh Mas Zain di 19.50
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger