MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Sufisme » Teologi » Berbicara Tentang Rindu

Kamis, 18 Desember 2014

Berbicara Tentang Rindu


بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi”
(Letto)

Berbicara tentang rindu. Rindu, katanya banyak orang adalah luka yang ternikmat yang pernah ada dalam dunia manusia. Apakah rindu juga dialami oleh makhlu lainnya? Entahlah, sebab aku manusia. Kata rindu, dalam kamus bahasa Indonesia dimaknai; sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu; memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu.
Tentu kalian pernah mengalami rindu bukan? Rindu, kangen atau kata sejenisnya, seperti apa yang dicurahkan dalam lirik lagu Dewa 19 yang booming tahun 90-an;
“Kau tanyakan padaku Kapan aku akan kembali lagi
Katamu kau tak kuasa Melawan gejolak didalam dada
Yang membara menahan rasa Pertemuan kita nanti
Saat bersama dirimu”

Lagu itu sama juga dengan LDR-nya mbak Raisa;
“Ku teringat dalam lamunan
Rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar
Suara tawamu, sungguh ku rindu”

Coba dengarkan saja lagu-lagu itu—atau semacamnya—dan rasakan tatkala kamu sendiri di malam hari. Seakan kamu sedang merindukan sesuatu. Bahkan, tiba-tiba saja kamu merasakan telah merindukan sesuatu saat itu! Entah tahu apa itu. yang jelas perasaan itu semacam perasaan rindu kepada seorang kekasih; kehilangan yang menyisakan sunyi.
Memang benar apa kata banyak orang bahwa rindu itu adalah luka ternikmat. Entahlah, memakai logika apa aku menggambarkannya; mana ada luka tapi nikmat? Kedua rasa yang saling bertentangan. Namun nyatanya ada, bukan? Sudah, rasakan saja sendiri dan aku tak mau mendeskripsikan lagi. Karena rindu bukan untuk dideskripsikan sebab memang tidak bisa.
Ketika kita rindu, apa yang kita rasakan? Sunyi. Sepeti tak ada hingar-bingar kehidupan di luar. Kalau pun ada, kita tak mempedulikannya, kita lebih memilih diam sendiri, duduk sambil ngopi atau merokok. Atau bahkan hanya duduk-duduk saja dengan merenungkan apa yang dirindui.
Dikala kita rindu, satu hal yang amat kita inginkan adalah bertemu dengan yang kita rindukan. Hanya itu saja; bertemu. Namun, tahu tidak? Disaat kita sudah bersua dengan yang kita rindui apa yang terjadi? Apakah kerinduan kita akan hilang begitu saja semacam asap yang lenyap? Ternyata ketika itu perasaan cinta kita pada yang di rindui akan semakin bertambah dari sebelumnya, kawan. Bila sudah begitu—cintanya semakin besar—maka kerinduan kita akan semakin berlipat. Dan terus begitu; membesar dan membesar!
Saya teringat ungkapan sufi besar, Ibnu Arabi yang sedang mengalami rindu ini;
“Aku tak hadir, kerinduanku memusnahkan jiwaku, lalu aku bertemu (namun) tidak dapat menyembuhkanku. Maka kerinduan ini ada ketika tak hadir dan (mau pun) hadir
Pertemuan dengannya menjadikan aku sesuatu yang tak pernah ku duga, maka obatnya adalah penyakit yang lain; cinta baru” (Tarjumân al-Asywâq)

Dalam syair tersebut, beliau menjelaskan bahwa, “Dalam ketidak hadirannya, kerinduan akan membinasakannya. Dalam pertemuan, kerinduan (juga) akan membinasakannya. Jadi ia terus menerus dalam keadaan tersiksa, sedangkan ia berada dalam kepedihan ketidak hadiran yang mengharapkan kesembuhan dengan pertemuan. (Namun) bilamana telah bertemu, bertambahlah cintanya” (Dakhâir al-A'lâq)
***
Pada dasarnya, setiap saat kita telah merindukan sesuatu. Entah merindukan apa, rasakanlah sendiri; sedang merindukan apakah aku ini? Bukankah kalian seringkali galau—terkesan—tanpa sebab ketika sendiri atau ketika sepi? Itu tandanya jiwa kita mengalami rindu. Ya, rindu yang entah kepada siapa dan untuk siapa; apakah kita pernah jatuh cinta pada sesuatu itu sebelumnya? Atau—minimal—pernahkah kita bertemu dengan sesuatu itu sebelumnya?
Diamlah dalam sunyi. Dan diam. Rasakan saja. Lalu “dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi” (Letto). Sebab manusia tak akan sadar dengan keterpisahannya sampai ia merasakan sepi, sunyi. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]
Rembang-Pasuruan, 18 Desember 2014

f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
13.49

Belum ada komentar untuk "Berbicara Tentang Rindu"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ▼  Desember (3)
      • Berbicara Tentang Rindu
      • Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan
      • Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha ...
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Kamis, 18 Desember 2014

Berbicara Tentang Rindu


بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi”
(Letto)

Berbicara tentang rindu. Rindu, katanya banyak orang adalah luka yang ternikmat yang pernah ada dalam dunia manusia. Apakah rindu juga dialami oleh makhlu lainnya? Entahlah, sebab aku manusia. Kata rindu, dalam kamus bahasa Indonesia dimaknai; sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu; memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu.
Tentu kalian pernah mengalami rindu bukan? Rindu, kangen atau kata sejenisnya, seperti apa yang dicurahkan dalam lirik lagu Dewa 19 yang booming tahun 90-an;
“Kau tanyakan padaku Kapan aku akan kembali lagi
Katamu kau tak kuasa Melawan gejolak didalam dada
Yang membara menahan rasa Pertemuan kita nanti
Saat bersama dirimu”

Lagu itu sama juga dengan LDR-nya mbak Raisa;
“Ku teringat dalam lamunan
Rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar
Suara tawamu, sungguh ku rindu”

Coba dengarkan saja lagu-lagu itu—atau semacamnya—dan rasakan tatkala kamu sendiri di malam hari. Seakan kamu sedang merindukan sesuatu. Bahkan, tiba-tiba saja kamu merasakan telah merindukan sesuatu saat itu! Entah tahu apa itu. yang jelas perasaan itu semacam perasaan rindu kepada seorang kekasih; kehilangan yang menyisakan sunyi.
Memang benar apa kata banyak orang bahwa rindu itu adalah luka ternikmat. Entahlah, memakai logika apa aku menggambarkannya; mana ada luka tapi nikmat? Kedua rasa yang saling bertentangan. Namun nyatanya ada, bukan? Sudah, rasakan saja sendiri dan aku tak mau mendeskripsikan lagi. Karena rindu bukan untuk dideskripsikan sebab memang tidak bisa.
Ketika kita rindu, apa yang kita rasakan? Sunyi. Sepeti tak ada hingar-bingar kehidupan di luar. Kalau pun ada, kita tak mempedulikannya, kita lebih memilih diam sendiri, duduk sambil ngopi atau merokok. Atau bahkan hanya duduk-duduk saja dengan merenungkan apa yang dirindui.
Dikala kita rindu, satu hal yang amat kita inginkan adalah bertemu dengan yang kita rindukan. Hanya itu saja; bertemu. Namun, tahu tidak? Disaat kita sudah bersua dengan yang kita rindui apa yang terjadi? Apakah kerinduan kita akan hilang begitu saja semacam asap yang lenyap? Ternyata ketika itu perasaan cinta kita pada yang di rindui akan semakin bertambah dari sebelumnya, kawan. Bila sudah begitu—cintanya semakin besar—maka kerinduan kita akan semakin berlipat. Dan terus begitu; membesar dan membesar!
Saya teringat ungkapan sufi besar, Ibnu Arabi yang sedang mengalami rindu ini;
“Aku tak hadir, kerinduanku memusnahkan jiwaku, lalu aku bertemu (namun) tidak dapat menyembuhkanku. Maka kerinduan ini ada ketika tak hadir dan (mau pun) hadir
Pertemuan dengannya menjadikan aku sesuatu yang tak pernah ku duga, maka obatnya adalah penyakit yang lain; cinta baru” (Tarjumân al-Asywâq)

Dalam syair tersebut, beliau menjelaskan bahwa, “Dalam ketidak hadirannya, kerinduan akan membinasakannya. Dalam pertemuan, kerinduan (juga) akan membinasakannya. Jadi ia terus menerus dalam keadaan tersiksa, sedangkan ia berada dalam kepedihan ketidak hadiran yang mengharapkan kesembuhan dengan pertemuan. (Namun) bilamana telah bertemu, bertambahlah cintanya” (Dakhâir al-A'lâq)
***
Pada dasarnya, setiap saat kita telah merindukan sesuatu. Entah merindukan apa, rasakanlah sendiri; sedang merindukan apakah aku ini? Bukankah kalian seringkali galau—terkesan—tanpa sebab ketika sendiri atau ketika sepi? Itu tandanya jiwa kita mengalami rindu. Ya, rindu yang entah kepada siapa dan untuk siapa; apakah kita pernah jatuh cinta pada sesuatu itu sebelumnya? Atau—minimal—pernahkah kita bertemu dengan sesuatu itu sebelumnya?
Diamlah dalam sunyi. Dan diam. Rasakan saja. Lalu “dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi” (Letto). Sebab manusia tak akan sadar dengan keterpisahannya sampai ia merasakan sepi, sunyi. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]
Rembang-Pasuruan, 18 Desember 2014

Diposting oleh Mas Zain di 13.49
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger