MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan

Minggu, 07 Desember 2014

Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan


Dalam setahun ada dua belas bulan. Dalam sebulan ada empat minggu lebih. Dalam seminggu ada tujuh hari. Dalam sehari dibulatkan menjadi dua puluh empat jam. Dan dalam sehari ada pagi, siang, sore, dan malam. Begitu semuanya. Seakan setiap hari kita mengalami waktu yang itu-itu saja. Pernahkah kamu merasa heran dan bertanya-tanya ketika pagi hari duduk-duduk santai diteras sambil menikmati kopi dan udara segar; Bukankah ini adalah pagi yang sama dengan hari sebelumnya; ada mentari pagi yang menyinarkan sinarnya yang terlihat kekuning-kuningan dan disambut oleh nynyian burung pipit dan kepakan semangat sayap kupu-kupu? 5-6 jam lagi pasti siang. 9-10 jam lagi pasti sore. 12 jam lagi pasti senja datang dan datanglah malam. Atau—kalau boleh lebih ekstrim sedikit—ketika kita berpikir; Saya saat ini adalah seorang pemuda. Sebentar lagi mencari kerja yang mapan. Menikah. Punya anak. Punya cucu. Tinggallah saya seorang kakek-kakek yang tinggal menunggu ajalnya. Dan begitu seturusnya. Kita tak bisa menghindari itu semua. Seakan-akan kita memang berputar-putar dalam waktu yang sama. Begitu saja adanya. Seakan tak ada yang spsial. Namun kita terlanjur dibedakan oleh aktivitas-aktivitas yang membuat kita sibuk seakan terbawa oleh ombak yang menderu-deru, tenggelam dan kehilangan makna adanya diri kita.
Ah, hidup ini memang terasa aneh, bukan?
Ya, begitulah kehidupan. Tak akan mampu kita bisa keluar dari dinding ruang dan waktu. Namun, meskipun begitu, adanya waktu pun terbukti “terasa” relatif meski dalam kehidupan manusia disekat menjadi “per-jam” untuk mempermudahkan mengukur aktivitas kita. Bahkan secara teori fisika pun bisa dibuktikan dengan deretan angka-angka yang telah dirumuskan oleh seorang ilmuan keturunan Yahudi, Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitas waktu yang menggemparkan ilmuwan pada masanya. Contoh sederhananya saja bila kamu pergi ketaman—atau kemanalah—bersama sang kekasih. Hem...tentu saja perasaanmu seakan waktu berjalan tak secepat biasanya. Atau sebaliknya, ketika kamu dalam keadaan patah hati. Ah, hari-hari itu terasa lambat. Bahkan sampai lambatnya seakan kamu menghitung per-detik seakan lama tak seprti biasanya.
Ah, hidup ini memang terasa aneh!

Kehidupan. Apa sih kehidup ini? Ada yang mengatakan bahwa kehidupan hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Ya, itu adalah penggalan lirik dari single yang dinyanyikan grup band Dewa. Ada yang mengatakan bahwa hidup ini adalah proses pendidikan semacam sekolah yang tak mengenal kata ijazah yang perlu dilegalisir oleh suatu lembaga pendidikan. Ada yang menarik dan mengejutkan tentang sms salah satu sahabat penulis ketika ditanya tentang hidup ini apa, ia menulis “Hidup ini ruwet, bro!” Entahlah apa yang sebenarnya ada dibenak sahabat penulis tersebut. Yang jelas sms tadi menyolek penulis bahwa hidup ini memang rumit bila di pertanyakan. Memang ini adalah pertanyaan dasar yang jarang sekali manusia berpikir keras—meski pun penulis yakin setiap orang pernah mempertanyakan dalam hidupnya tapi tak terlalu ambil pusing dengan jawabannya. Sebab mereka berpikir; toh saya masih tetap hidup tak menemukan jawabannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata hidup ini terdapat banyak arti, diantaranya hidup adalah; masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Berarti “kehidupan” adalah cara (keadaan, hal) hidup. Secara istilah, masih sulit sekali mendefinisikan “kehidupan” secara jelas. Sebab kehidupan adalah sebuah proses bukan sebuah substansi murni. Maka jangan heran bila ada yang mengatakan kehidupan ini dengan satu kata; perjalanan. Dimana perjalanan satu dengan perjalanan lainnya (terkadang) berbeda meskipun tujuannya sama.
Secara biologis—mengingat-ingat pelajaran IPA dizaman Es-De—materi yang ada (mawjȗd) di dunia ini di kategorikan menjadi dua; benda hidup dan benda mati. Benda hidup ini mempunyai ciri husus, diantaranya bisa bergerak (sendiri), tumbuh, dan berkembang biak. Ditinjau dari aspek  sosiologi, berbicara tentang hidup ini akan berkaitan erat dengan semua aktifitas manusia untuk saling berinteraksi yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Berarti, hidup adalah semua aktifitas yang dilakukan manusia untuk saling berintrraksi dengan lainnya dalam kehidupan sehari-hari—apa pun itu. Maka bisa diartikan, tak ada interaksi atau mengasingkan diri berarti mati.
Sebenarnaya dalam dunia ini, manusia sudah dipastikan selalu bertanya-tanya tentang kehidupannya dalam benaknya masing-masing, semenjak berabad-abad yang lalu pun begitu. Sudah menjadi naluri manusia bila keadaannya merasa terancam atau merasa tak sesuai dengan yang ada dibenaknya, mereka akan berfikir “kenapa?” dan “kenapa?” Sehingga mereka pun akan mempertanyakan dan mencari apa sih kehidupan ini sebenarnya? Begitu pula dalam dunia filsafat, pertanyaan inilah salah satunya yang di cari-cari oleh para filosof. Dan karena faktor ini pula, muncul salah satu aliran filsafat eksistensialisme.[1] Aliran ini dilatarbelakangi oleh beberapa golongan filusuf yang menyadari bahwa aktifitas teknologi yang menenggelamkan manusia dan membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sendiri sebagai manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan lingkungan sekitar yang dalam Islam dibahasakan dengan “rahmatan li al-‘âlamîn”.
Entahlah, masih belum ada definisi dan konsep yang global yang dijelaskan para Tokoh dan golongan tertentu sampai saat ini. Definisi yang ada hanyalah deskripsi-deskripsi tentang hidupnya dan apa yang terlihat oleh mata. Dan tentu saja hal itu amatlah kurang mencangkup untuk mendefinisikan apa itu kehidupan. Tapi yang jelas kehidupan kita, semua apa yang kita alami, kita rasakan, kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari adalah kenyataan yang menggambarkan kita sebenarnya.[2] Sehingga apa pun yang ada dalam kehidupan kita adalah makna-makna yang tercecer-cecer seperti potongan-potongan puzzle yang perlu kita susun kembali. Kita tak tahu apa yang terjadi di hari esok meski esok hari sudah ada yang mengatur sedemikian rupa senyata dan serupa—tak ada yang terlewatkan sedikit pun—seperti apa yang kita lihat dengan kedua mata kita esok hari. Oleh karena itu penulis akan mengorek-ngorek “kehidupan” dalam catatan ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi kamu juga pernah mempertanyakannya. Ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm. Âmin!
Wallahu A’lam bi al-shawâb![]

Bonot Lor – Pasuruan, 06 Mei 2014


[1] Eksistensialisme adalah salah satu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan segala sesuatu terhadap manusia dan segala sesuatu yang mengiringinya.
[2] Baca lebih lanjut tentang konsep alam mikrokosmos dan alam mikrokosmos menurut kalangan sufi.
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
22.39

Belum ada komentar untuk "Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ▼  Desember (3)
      • Berbicara Tentang Rindu
      • Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan
      • Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha ...
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Minggu, 07 Desember 2014

Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan


Dalam setahun ada dua belas bulan. Dalam sebulan ada empat minggu lebih. Dalam seminggu ada tujuh hari. Dalam sehari dibulatkan menjadi dua puluh empat jam. Dan dalam sehari ada pagi, siang, sore, dan malam. Begitu semuanya. Seakan setiap hari kita mengalami waktu yang itu-itu saja. Pernahkah kamu merasa heran dan bertanya-tanya ketika pagi hari duduk-duduk santai diteras sambil menikmati kopi dan udara segar; Bukankah ini adalah pagi yang sama dengan hari sebelumnya; ada mentari pagi yang menyinarkan sinarnya yang terlihat kekuning-kuningan dan disambut oleh nynyian burung pipit dan kepakan semangat sayap kupu-kupu? 5-6 jam lagi pasti siang. 9-10 jam lagi pasti sore. 12 jam lagi pasti senja datang dan datanglah malam. Atau—kalau boleh lebih ekstrim sedikit—ketika kita berpikir; Saya saat ini adalah seorang pemuda. Sebentar lagi mencari kerja yang mapan. Menikah. Punya anak. Punya cucu. Tinggallah saya seorang kakek-kakek yang tinggal menunggu ajalnya. Dan begitu seturusnya. Kita tak bisa menghindari itu semua. Seakan-akan kita memang berputar-putar dalam waktu yang sama. Begitu saja adanya. Seakan tak ada yang spsial. Namun kita terlanjur dibedakan oleh aktivitas-aktivitas yang membuat kita sibuk seakan terbawa oleh ombak yang menderu-deru, tenggelam dan kehilangan makna adanya diri kita.
Ah, hidup ini memang terasa aneh, bukan?
Ya, begitulah kehidupan. Tak akan mampu kita bisa keluar dari dinding ruang dan waktu. Namun, meskipun begitu, adanya waktu pun terbukti “terasa” relatif meski dalam kehidupan manusia disekat menjadi “per-jam” untuk mempermudahkan mengukur aktivitas kita. Bahkan secara teori fisika pun bisa dibuktikan dengan deretan angka-angka yang telah dirumuskan oleh seorang ilmuan keturunan Yahudi, Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitas waktu yang menggemparkan ilmuwan pada masanya. Contoh sederhananya saja bila kamu pergi ketaman—atau kemanalah—bersama sang kekasih. Hem...tentu saja perasaanmu seakan waktu berjalan tak secepat biasanya. Atau sebaliknya, ketika kamu dalam keadaan patah hati. Ah, hari-hari itu terasa lambat. Bahkan sampai lambatnya seakan kamu menghitung per-detik seakan lama tak seprti biasanya.
Ah, hidup ini memang terasa aneh!

Kehidupan. Apa sih kehidup ini? Ada yang mengatakan bahwa kehidupan hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Ya, itu adalah penggalan lirik dari single yang dinyanyikan grup band Dewa. Ada yang mengatakan bahwa hidup ini adalah proses pendidikan semacam sekolah yang tak mengenal kata ijazah yang perlu dilegalisir oleh suatu lembaga pendidikan. Ada yang menarik dan mengejutkan tentang sms salah satu sahabat penulis ketika ditanya tentang hidup ini apa, ia menulis “Hidup ini ruwet, bro!” Entahlah apa yang sebenarnya ada dibenak sahabat penulis tersebut. Yang jelas sms tadi menyolek penulis bahwa hidup ini memang rumit bila di pertanyakan. Memang ini adalah pertanyaan dasar yang jarang sekali manusia berpikir keras—meski pun penulis yakin setiap orang pernah mempertanyakan dalam hidupnya tapi tak terlalu ambil pusing dengan jawabannya. Sebab mereka berpikir; toh saya masih tetap hidup tak menemukan jawabannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata hidup ini terdapat banyak arti, diantaranya hidup adalah; masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Berarti “kehidupan” adalah cara (keadaan, hal) hidup. Secara istilah, masih sulit sekali mendefinisikan “kehidupan” secara jelas. Sebab kehidupan adalah sebuah proses bukan sebuah substansi murni. Maka jangan heran bila ada yang mengatakan kehidupan ini dengan satu kata; perjalanan. Dimana perjalanan satu dengan perjalanan lainnya (terkadang) berbeda meskipun tujuannya sama.
Secara biologis—mengingat-ingat pelajaran IPA dizaman Es-De—materi yang ada (mawjȗd) di dunia ini di kategorikan menjadi dua; benda hidup dan benda mati. Benda hidup ini mempunyai ciri husus, diantaranya bisa bergerak (sendiri), tumbuh, dan berkembang biak. Ditinjau dari aspek  sosiologi, berbicara tentang hidup ini akan berkaitan erat dengan semua aktifitas manusia untuk saling berinteraksi yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Berarti, hidup adalah semua aktifitas yang dilakukan manusia untuk saling berintrraksi dengan lainnya dalam kehidupan sehari-hari—apa pun itu. Maka bisa diartikan, tak ada interaksi atau mengasingkan diri berarti mati.
Sebenarnaya dalam dunia ini, manusia sudah dipastikan selalu bertanya-tanya tentang kehidupannya dalam benaknya masing-masing, semenjak berabad-abad yang lalu pun begitu. Sudah menjadi naluri manusia bila keadaannya merasa terancam atau merasa tak sesuai dengan yang ada dibenaknya, mereka akan berfikir “kenapa?” dan “kenapa?” Sehingga mereka pun akan mempertanyakan dan mencari apa sih kehidupan ini sebenarnya? Begitu pula dalam dunia filsafat, pertanyaan inilah salah satunya yang di cari-cari oleh para filosof. Dan karena faktor ini pula, muncul salah satu aliran filsafat eksistensialisme.[1] Aliran ini dilatarbelakangi oleh beberapa golongan filusuf yang menyadari bahwa aktifitas teknologi yang menenggelamkan manusia dan membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sendiri sebagai manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan lingkungan sekitar yang dalam Islam dibahasakan dengan “rahmatan li al-‘âlamîn”.
Entahlah, masih belum ada definisi dan konsep yang global yang dijelaskan para Tokoh dan golongan tertentu sampai saat ini. Definisi yang ada hanyalah deskripsi-deskripsi tentang hidupnya dan apa yang terlihat oleh mata. Dan tentu saja hal itu amatlah kurang mencangkup untuk mendefinisikan apa itu kehidupan. Tapi yang jelas kehidupan kita, semua apa yang kita alami, kita rasakan, kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari adalah kenyataan yang menggambarkan kita sebenarnya.[2] Sehingga apa pun yang ada dalam kehidupan kita adalah makna-makna yang tercecer-cecer seperti potongan-potongan puzzle yang perlu kita susun kembali. Kita tak tahu apa yang terjadi di hari esok meski esok hari sudah ada yang mengatur sedemikian rupa senyata dan serupa—tak ada yang terlewatkan sedikit pun—seperti apa yang kita lihat dengan kedua mata kita esok hari. Oleh karena itu penulis akan mengorek-ngorek “kehidupan” dalam catatan ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi kamu juga pernah mempertanyakannya. Ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm. Âmin!
Wallahu A’lam bi al-shawâb![]

Bonot Lor – Pasuruan, 06 Mei 2014


[1] Eksistensialisme adalah salah satu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan segala sesuatu terhadap manusia dan segala sesuatu yang mengiringinya.
[2] Baca lebih lanjut tentang konsep alam mikrokosmos dan alam mikrokosmos menurut kalangan sufi.
Diposting oleh Mas Zain di 22.39
Label: Filsafat
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger