MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Sufisme » Teologi » Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha Hina

Selasa, 02 Desember 2014

Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha Hina


Sudah kamu ketahui bahwa, takbiratul ihram itu mengucapkan “Allahu akbar”. Tapi bukan itu maksud penulis di sini. Terus apa dong?!
Baiklah mari kita berbincang masalah ini!
Sudah kita ketahui, artinya “Allahu akbar” adalah Allah Maha besar; tidak ada yang mengalahi kebesarannya. Juga tak ada yang tahu—ukuran manusia normal—sampaimana kebesaran Nya itu? Sehingga manusia membahasakan dengan “tak ada batas bagi kebesaran Nya”. Bahkan kebesaran Tuhan itu melebihi kata atau bahasa “Maha besar” itu sendiri.
Ketika kita melakukan takbir—diakui atu tidak—bibir kita telah mengagungkan Nya. Seagung-agungnya! Dan begiti juga dengan hati kita, sudah seharusnya ikut mengagungkan Nya—minimal—hanya huruf awal takbir itu diucapkan! Ya, belajar mengagungkan Nya dengan dan dari hati!
Bilamana kita sedikit berfikir, merenungkan apa itu takbir, maka sudah seharusnya kita mengagungkan Dia. Mengagungkan seagung-agungnya! Mengagungkan dengan cara apa saja hatimu mengagungkan Nya. Ya begitulah, salah satu caranya bisa bertakbir dari hati; sepenuh hati. Bukankah kita terkadang perlu merenung terlebih dahulu untuk melaksanakan sesuatu dengan sepenuh hati?
Mengagungkan Dia sama artinya merendahkan diri di depan Nya; tawadhu’. Menunduk merasakan diri yang hina di hadapan Sang Maha Raja yang Agung. Bukankah kita—manusia—di ciptakan dari air yang hina (QS: As-Sajdah [32]: 08)?
Lho, berarti kita harus mengetahui “siapa diri” kita dong; siapa aku?
Tahu pada diri kita atau tidak—sebab penulis akui bahwa mengetahui diri sendiri itu adalah hal yang amat sulit dan itulah ilmu tertinggi bagi manusia (sayyidina Ali r.a.)—yang jelas ketika tubuh dan hati kita mengagungkan Nya dan kita (seakan) ada dihadapan Nya, ketika itu juga—otomatis—kita telah merendahkan diri kita yang seakan bersimpuh tunduk di hadapan Nya.
Tidak percaya? Silakan kamu mencobanya sendiri. Rasakanlah dirimu sendiri ketika bibir-bibir hatimu sengaja mengagungkan Nya. Seagung-agungnya. Dengan pengagungan  yang tak pernah kamu  berikan pada siapa pun. Maka kamu akan  melihat dirimu dihadapan Nya; bersimpuh malu—sebab berlumuran dosa—di hadapan Maha Raja.
Lihatlah!
Renungkanlah!
Rasakanlah!
Semoga kita—minimal—seperti gambaran itu. Amin!
Maka tidaklah heran ada yang menyimbolkan posisi kita di waktu takbiratul ihram (berdiri) dengan huruf alif pada lafadz Jalalah yang diartikan sebagai sirr Allah yang di titipkan pada insân al-kâmil dengan gambaran seorang Avatar Tuhan, Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Entahlah! Apa kita—terutama penulis—apa kita bisa sembahyang (shalat)—minimal takbiratul ihram saja—dengan sebenar-benarnya? Yang jelas sudah semestinya kita bisa sembahyang dengan sebenar-benarnya. Bukankah kita budak (‘abd) Nya? Bukankah kita selalu di sayangi setiap hembusan nafas kita?
Rasakanlah! Renungkanlah!
Semoga kitadi beri anugrah shalat dengan sebenar-benarnya. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm. Âmin!
Wallahu A’lam.[]
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
18.18

Belum ada komentar untuk "Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha Hina"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ▼  Desember (3)
      • Berbicara Tentang Rindu
      • Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan
      • Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha ...
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Selasa, 02 Desember 2014

Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha Hina


Sudah kamu ketahui bahwa, takbiratul ihram itu mengucapkan “Allahu akbar”. Tapi bukan itu maksud penulis di sini. Terus apa dong?!
Baiklah mari kita berbincang masalah ini!
Sudah kita ketahui, artinya “Allahu akbar” adalah Allah Maha besar; tidak ada yang mengalahi kebesarannya. Juga tak ada yang tahu—ukuran manusia normal—sampaimana kebesaran Nya itu? Sehingga manusia membahasakan dengan “tak ada batas bagi kebesaran Nya”. Bahkan kebesaran Tuhan itu melebihi kata atau bahasa “Maha besar” itu sendiri.
Ketika kita melakukan takbir—diakui atu tidak—bibir kita telah mengagungkan Nya. Seagung-agungnya! Dan begiti juga dengan hati kita, sudah seharusnya ikut mengagungkan Nya—minimal—hanya huruf awal takbir itu diucapkan! Ya, belajar mengagungkan Nya dengan dan dari hati!
Bilamana kita sedikit berfikir, merenungkan apa itu takbir, maka sudah seharusnya kita mengagungkan Dia. Mengagungkan seagung-agungnya! Mengagungkan dengan cara apa saja hatimu mengagungkan Nya. Ya begitulah, salah satu caranya bisa bertakbir dari hati; sepenuh hati. Bukankah kita terkadang perlu merenung terlebih dahulu untuk melaksanakan sesuatu dengan sepenuh hati?
Mengagungkan Dia sama artinya merendahkan diri di depan Nya; tawadhu’. Menunduk merasakan diri yang hina di hadapan Sang Maha Raja yang Agung. Bukankah kita—manusia—di ciptakan dari air yang hina (QS: As-Sajdah [32]: 08)?
Lho, berarti kita harus mengetahui “siapa diri” kita dong; siapa aku?
Tahu pada diri kita atau tidak—sebab penulis akui bahwa mengetahui diri sendiri itu adalah hal yang amat sulit dan itulah ilmu tertinggi bagi manusia (sayyidina Ali r.a.)—yang jelas ketika tubuh dan hati kita mengagungkan Nya dan kita (seakan) ada dihadapan Nya, ketika itu juga—otomatis—kita telah merendahkan diri kita yang seakan bersimpuh tunduk di hadapan Nya.
Tidak percaya? Silakan kamu mencobanya sendiri. Rasakanlah dirimu sendiri ketika bibir-bibir hatimu sengaja mengagungkan Nya. Seagung-agungnya. Dengan pengagungan  yang tak pernah kamu  berikan pada siapa pun. Maka kamu akan  melihat dirimu dihadapan Nya; bersimpuh malu—sebab berlumuran dosa—di hadapan Maha Raja.
Lihatlah!
Renungkanlah!
Rasakanlah!
Semoga kita—minimal—seperti gambaran itu. Amin!
Maka tidaklah heran ada yang menyimbolkan posisi kita di waktu takbiratul ihram (berdiri) dengan huruf alif pada lafadz Jalalah yang diartikan sebagai sirr Allah yang di titipkan pada insân al-kâmil dengan gambaran seorang Avatar Tuhan, Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Entahlah! Apa kita—terutama penulis—apa kita bisa sembahyang (shalat)—minimal takbiratul ihram saja—dengan sebenar-benarnya? Yang jelas sudah semestinya kita bisa sembahyang dengan sebenar-benarnya. Bukankah kita budak (‘abd) Nya? Bukankah kita selalu di sayangi setiap hembusan nafas kita?
Rasakanlah! Renungkanlah!
Semoga kitadi beri anugrah shalat dengan sebenar-benarnya. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm. Âmin!
Wallahu A’lam.[]
Diposting oleh Mas Zain di 18.18
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger