MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Archive for Februari 2015

Minggu, 22 Februari 2015

Aku Mau Karena Kau Mau

"…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (Q.S. al-Anf â l : 17) K E ...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
09.17

Sabtu, 21 Februari 2015

Aku Kau Tinggalkan Begini

Seperti para pemuda mendengar suara hingar bingar hiburan malam. Seperti para â bid mendengar suara adzan . Namun aku bukan dua golong...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
14.56
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ▼  Februari (2)
      • Aku Mau Karena Kau Mau
      • Aku Kau Tinggalkan Begini
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Minggu, 22 Februari 2015

Aku Mau Karena Kau Mau

"…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar."

(Q.S. al-Anfâl: 17)

K E T I K A hujan lebat dikampung, iseng-iseng aku mendengarkan radio dan ketika itu, kebetulan—entah itu pantas disebut kebetulan atau tidak?—di putarkan lagu “Jangan Bimbang Walau Galau” milik Lyla. Ketika saya mendengar liriknya “Tuhan tak mau merubah/Mereka yang tak mau berubah”. Spontan sebagian dariku berpikir nakal sebagai logika lirik itu; bila kita mau, maka Tuhan mau? Itu, menjadi “seakan-akan” kemauan Tuhan itu menunggu kemauan kita dan “seakan-akan” Tuhan bisa didikte dengan kemauan kita dong. Bila begitu sama saja Tuhan bukan yang berdiri sendiri. Bukannya Tuhan itu tidak didikte—dan tak akan bisa di dikte—oleh siapa pun dan apa pun? Kemauan Tuhan juga tidak menunggu kemauan kita. Bahkan kemauan Tuhan lebih dulu dari pada kemauan kita.
Bisa jadi lirik tsb. mengambil dari terjemahan al-Qur’an yang sering di suarakan oleh banyak Da’i:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. ar-Ra’d: 11)
Dari terjemahan ayat diatas—dan tema di banyak ceramah Da’i—sepintas “seakan” bertentangan dengan rukun iman ke-6[1] dan ayat al-Qur’an yang lain. Namun ayat itu sebenarnya tidaklah bertentangan. Bila terjemahan itu benar, maka sama dengan terjemahan ayat bahwa bumi itu datar “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (Q.S. an-Naba’: 06)[2] yang “seakan” bertentangan dengan "Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia menutupkan malam atas siang menutupkan siang atas malam..." (Q.S. az-Zumar: 05); ini bukti bahwa bumi itu bulat. Gampangnya—meminjam penjelasan K.H. Nawawi Sidogiri ketika saya sowan—bahwa ar-Ra’d: 11 itu adalah ayat yang menjelaskan tentang syari’at-nya, bukan sisi hakikat. Namun saya lebih tertarik dengan tafsiran yang pernah di jelaskan salah satu ustadz di pondok waktu khutbah jum’at, bahwa “ما” dalam ayat tsb. adalah isim mausul yang biasa diartikan “sesuatu” atau “apa saja” bukan bermakna “nasib”—secara mufradat. Sedangkan maksud “ما”—yang popular diterjemahkan dengan “keadaan/nasib”—adalah “nikmat”.[3] Maka, maksud ayat tsb. kira-kira begini; “Allah tidak mengambil nikmat yang telah di limpahkan Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tidak merubah ketaatannya kepada perbuatan maksiat.” Maksud tsb. sesuai dengan maksud surah al-Anfâl: 53 yang artinya “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
***
Saya jadi ingat dalam al-Qur’an dalam surah al-Insân ayat 30;
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
 “Dan kalian tidak akan berkehendak (pada sesuatu) kecuali (ketika) Allah menghendaki (pada yang kalian kehendaki). Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana.” (Q.S. al-Insân; 30)
Keterangan ulama’ tafsir dalam menafsiri ayat itu, bahwa ”Dan kalian tidak berkehandak kepada hal itu kecuali pada waktu Allah menghendaki sesuatu yang dikehendaki kalian”[4] Jadi, bila kita berkehendak untuk melakukan sesuatu itu di dahului oleh kemauan Allah. Bila Allah mau maka itu terealisasikan kepada kehendak kita untuk melakukan sesuatu; bila Allah tidak mau, maka terealiasasikan dalam bentuntuk kita tidak berkehendak untuk melakukan sesuatu. Maka mana mungkin bila kita tidak mau, maka Allah tidak mau. Pernyataan tersebut—saya katakana lagi—“seakan-akan” menyandarkan kemauan Tuhan kepada kemauan kita.
Suatu waktu pernah “menduga”—maaf, mungkin ini hanyalah pikiran nakalku—dalam mengartikan ayat diatas, dengan begini:
“Dan tidaklah kalian berkehendak kecuali kepada kehendaknya Allah. Allah itu Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana.”
Lama aku berpikir; apakah arti semacam itu menyimpang atau tidak (dalam pandangan sebenarnya)? Setelah beberapa lama, aku menemukan komentar Ibnu Arabi dalam mengomentari ayat tersebut:
“(Dan kalian tidak menghendaki kecuali) dengan yang dikehendaki Ku (Allah), Sebab Aku berkehendak kepada mereka. Lalu mereka mengehendaki pada (yang dikehendaki) Ku. Jadi, kehendaknya mereka itu di dahului dengan kehendak Ku. Bahkan esensi ('ain) kehendak Ku yang nampak/nyata itu ada pada sesuatu yang nampak pada mereka.”[5]
Bukankah….“Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah” dan “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Q.S. ash-Shâffât: 96)?
Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 04 Februari 2015


[1] Rasulullah saw. bersabda أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ... (رواه مسلم) Artinya: “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, & kamu beriman kepada takdir yang baik & yang buruk.” (HR. Muslim)
[2] Lihat juga Q.S. adz-Zâriyât:48, Al-Hijr:19, Qâf:07, Nuh:19, an-Nâzi’ât:30, al-Ghâsyiyah:20, at-Taubah:06, ar-dan Ra’d:03.
[3] Lihat tafsir Jalâlain dan bandingkan dengan Tafsir Baidhawy.
[4] Tafsîr al-Baidhâwî. Hampir mirip juga dengan apa yang diungkapkan dalam Rûh al-Ma'ânî milik Imam al-Lusi.
[5] Tafsir Ibnu Arabi.
Diposting oleh Mas Zain di 09.17 0 komentar
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Sabtu, 21 Februari 2015

Aku Kau Tinggalkan Begini



Seperti para pemuda mendengar suara hingar bingar hiburan malam. Seperti para âbid mendengar suara adzan. Namun aku bukan dua golongan itu. Aku hanyalah pelancong yang mendengar suara kekasih di tengah hutan belantara. Ya, aku mendengar indah suaranya yang mendayu di relung kalbu seakan terjemahkan dalam kata; mari…mari…kesinilah duhai kekasih! Sebentar saja. Naluri jiwa menghampirinya. Menghampiri sumber suara yang mendayu itu; hei, dimana kau berada? Aku akan kesana.
Aku berjalan dan terus berjalan sampai di tengah hutan belantara aku kau tinggalkan; tak ada suara mendayu itu lagi. Dimanakah kau? Kenapa aku kau tinggalkan setelah kau panggil aku sampai tengah hutan belantara begini?
Dia meninggalkanku. Seperti kanjeng sunan kalijaga yang ditinggal kanjeng sunan boning di sebrang kali. Seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jilan yang di tinggal Khidir di tengah padang pasir. Seperti Kanjeng Nabi Muhammad saw. ketika beliau merasa di tinggalkan oleh Nya setelah menerima wahyu pertama kalinya. Oh nabi, apakah perasaanku ini sama denganmu? Kemana kau berada?
Sudah lama aku kau tinggalkan begini. Meski aku tak lari, tapi aku akan terus berjalan (terseok-seok) mengikuti. Berharap tanganmu menyentuhku. Atau berharap ada utusanmu menjemputku untuk bersua denganmu. Atau kau kirimkan Khirdir untuk mengajarkan peta tempatmu. Oh, dimana kau?
Sudah lama aku kau tinggakan begini.
Rembang-Pasuruan, 22 Januari 2015
Diposting oleh Mas Zain di 14.56 0 komentar
Label: Psikologi, Sufisme
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger