MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Sufisme » Teologi » Tingkahku

Minggu, 01 Maret 2015

Tingkahku



“Aneh rasanya menemukan bahwa tak ada apa pun dalam diri kita yang pantas dicintai oleh seseorang bahkan oleh Tuhan.”

(Herlinatiens)


Ma'af, bila saya masih nakal dengan pikiran sendiri. Sebab saya masih belum paham betul tentang diriku, tentang alam, dan tentang Kau. Namun, apakah bila kita (manusia) sudah paham betul tentang diri, itu bakal menjadi tak mempunya kesalahan dan hal-hal bodoh? Entahlah. Yang jelas manusia itu memang sifatnya adalah salah dan salah. “Dosa dan kesalahan adalah niscaya.”[1] Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi). Bahkan beliau juga bersabda, "Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT. mengampuni mereka." (HR. Muslim).
Suatu ketika, saya merasa seringkali melakukan hal-hal bodoh. Dan lebih bodohnya lagi saya masih melakukan hal itu terus menurus. Susah payah saya untuk menghindari hal itu, tapi semakin saya merasa tak berdaya. Seakan sudah tidak mampu menghindarinya semacam melewati jalan yang amat licin. Ketika itu rasa-rasanya saya seperti debu yang terlempar jauh. Jauh ditengah padang pasir dan ditinggal sendiri di dalam rasa keterpisahan. Dan ketika itu saya sadar bahwa, saya memang tidaklah mampu. Bahkan untuk sekedar meludahi muka sendiri tak mampu! Lebih jauh lagi, saya berpikir dan merenung lama-lama saya menemukan diriku seperti dalam kutipan Novel diatas, “Aneh rasanya menemukan bahwa tak ada apa pun dalam diri kita yang pantas dicintai oleh seseorang bahkan oleh Tuhan.” (Herlinatiens). Saya bertanya-tanya duga; apakah ini cara Tuhan menelanjangiku?
Saya teringat kata mutiara dalam al-Hikam nya Ibnu Atha’illah:
“Termasuk dari tanda-tandanya bersandar kepada amal adalah berkurangnya harapan (pada Allah) ketika adanya kesalahan”
Bisa jadi sebelumnya saya merasa mengagumi amal-amal (baik) sendiri dan menuntut sesuatu dari kebaikanku itu. Lalu, ketika merasa begitu Tuhan menelanjangiku dengan cara melemparku jauh ketengah padang pasir seperti sebutir pasir yang terlempar entah kemana. Meski lama sudah saya mendengar dan tahu bahwa “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Q.S. ash-Shâffât: 96). Namun, tentu saja Tuhan belum menelanjangiku—atau bila meminjam kata-katanya Karen Armstrong; sedang mengalami. Memang, ketika jatuh rasa-rasanya diri ingin sekali bangkit. Namun, setiap kali bangkit akan jatuh. Seakan tak ada pilihan selain jatuh dan ketika itu Tuhan mengenalkan  dirimu sekaligus diri Nya. Sebab, sebenarnya memang tak ada pilihan (kita). Maka, “Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (Q.S. az-Zukhruf; 13) Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 05 Februari 2015


[1] Lirik lagu Manusia yang dinyanyikan oleh Ahmad Dhani dan Indra Lesmana.
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.26

Belum ada komentar untuk "Tingkahku"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ▼  Maret (3)
      • Cemburu (1)
      • Mimpi itu Jembatan
      • Tingkahku
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Minggu, 01 Maret 2015

Tingkahku



“Aneh rasanya menemukan bahwa tak ada apa pun dalam diri kita yang pantas dicintai oleh seseorang bahkan oleh Tuhan.”

(Herlinatiens)


Ma'af, bila saya masih nakal dengan pikiran sendiri. Sebab saya masih belum paham betul tentang diriku, tentang alam, dan tentang Kau. Namun, apakah bila kita (manusia) sudah paham betul tentang diri, itu bakal menjadi tak mempunya kesalahan dan hal-hal bodoh? Entahlah. Yang jelas manusia itu memang sifatnya adalah salah dan salah. “Dosa dan kesalahan adalah niscaya.”[1] Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi). Bahkan beliau juga bersabda, "Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT. mengampuni mereka." (HR. Muslim).
Suatu ketika, saya merasa seringkali melakukan hal-hal bodoh. Dan lebih bodohnya lagi saya masih melakukan hal itu terus menurus. Susah payah saya untuk menghindari hal itu, tapi semakin saya merasa tak berdaya. Seakan sudah tidak mampu menghindarinya semacam melewati jalan yang amat licin. Ketika itu rasa-rasanya saya seperti debu yang terlempar jauh. Jauh ditengah padang pasir dan ditinggal sendiri di dalam rasa keterpisahan. Dan ketika itu saya sadar bahwa, saya memang tidaklah mampu. Bahkan untuk sekedar meludahi muka sendiri tak mampu! Lebih jauh lagi, saya berpikir dan merenung lama-lama saya menemukan diriku seperti dalam kutipan Novel diatas, “Aneh rasanya menemukan bahwa tak ada apa pun dalam diri kita yang pantas dicintai oleh seseorang bahkan oleh Tuhan.” (Herlinatiens). Saya bertanya-tanya duga; apakah ini cara Tuhan menelanjangiku?
Saya teringat kata mutiara dalam al-Hikam nya Ibnu Atha’illah:
“Termasuk dari tanda-tandanya bersandar kepada amal adalah berkurangnya harapan (pada Allah) ketika adanya kesalahan”
Bisa jadi sebelumnya saya merasa mengagumi amal-amal (baik) sendiri dan menuntut sesuatu dari kebaikanku itu. Lalu, ketika merasa begitu Tuhan menelanjangiku dengan cara melemparku jauh ketengah padang pasir seperti sebutir pasir yang terlempar entah kemana. Meski lama sudah saya mendengar dan tahu bahwa “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Q.S. ash-Shâffât: 96). Namun, tentu saja Tuhan belum menelanjangiku—atau bila meminjam kata-katanya Karen Armstrong; sedang mengalami. Memang, ketika jatuh rasa-rasanya diri ingin sekali bangkit. Namun, setiap kali bangkit akan jatuh. Seakan tak ada pilihan selain jatuh dan ketika itu Tuhan mengenalkan  dirimu sekaligus diri Nya. Sebab, sebenarnya memang tak ada pilihan (kita). Maka, “Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (Q.S. az-Zukhruf; 13) Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 05 Februari 2015


[1] Lirik lagu Manusia yang dinyanyikan oleh Ahmad Dhani dan Indra Lesmana.
Diposting oleh Mas Zain di 20.26
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger