MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Archive for Desember 2014

Kamis, 18 Desember 2014

Berbicara Tentang Rindu

بسم الله الرحمن الرحيم “Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi” (Letto) Berbicara tentang rindu. Rindu, kata...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
13.49

Minggu, 07 Desember 2014

Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan

Dalam setahun ada dua belas bulan. Dalam sebulan ada empat minggu lebih. Dalam seminggu ada tujuh hari. Dalam sehari dibulatkan menjad...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
22.39

Selasa, 02 Desember 2014

Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha Hina

Sudah kamu ketahui bahwa, takbiratul ihram itu mengucapkan “Allahu akbar” . Tapi bukan itu maksud penulis di sini. Terus apa dong?! ...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
18.18
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ▼  Desember (3)
      • Berbicara Tentang Rindu
      • Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan
      • Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha ...
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Kamis, 18 Desember 2014

Berbicara Tentang Rindu


بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi”
(Letto)

Berbicara tentang rindu. Rindu, katanya banyak orang adalah luka yang ternikmat yang pernah ada dalam dunia manusia. Apakah rindu juga dialami oleh makhlu lainnya? Entahlah, sebab aku manusia. Kata rindu, dalam kamus bahasa Indonesia dimaknai; sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu; memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu.
Tentu kalian pernah mengalami rindu bukan? Rindu, kangen atau kata sejenisnya, seperti apa yang dicurahkan dalam lirik lagu Dewa 19 yang booming tahun 90-an;
“Kau tanyakan padaku Kapan aku akan kembali lagi
Katamu kau tak kuasa Melawan gejolak didalam dada
Yang membara menahan rasa Pertemuan kita nanti
Saat bersama dirimu”

Lagu itu sama juga dengan LDR-nya mbak Raisa;
“Ku teringat dalam lamunan
Rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar
Suara tawamu, sungguh ku rindu”

Coba dengarkan saja lagu-lagu itu—atau semacamnya—dan rasakan tatkala kamu sendiri di malam hari. Seakan kamu sedang merindukan sesuatu. Bahkan, tiba-tiba saja kamu merasakan telah merindukan sesuatu saat itu! Entah tahu apa itu. yang jelas perasaan itu semacam perasaan rindu kepada seorang kekasih; kehilangan yang menyisakan sunyi.
Memang benar apa kata banyak orang bahwa rindu itu adalah luka ternikmat. Entahlah, memakai logika apa aku menggambarkannya; mana ada luka tapi nikmat? Kedua rasa yang saling bertentangan. Namun nyatanya ada, bukan? Sudah, rasakan saja sendiri dan aku tak mau mendeskripsikan lagi. Karena rindu bukan untuk dideskripsikan sebab memang tidak bisa.
Ketika kita rindu, apa yang kita rasakan? Sunyi. Sepeti tak ada hingar-bingar kehidupan di luar. Kalau pun ada, kita tak mempedulikannya, kita lebih memilih diam sendiri, duduk sambil ngopi atau merokok. Atau bahkan hanya duduk-duduk saja dengan merenungkan apa yang dirindui.
Dikala kita rindu, satu hal yang amat kita inginkan adalah bertemu dengan yang kita rindukan. Hanya itu saja; bertemu. Namun, tahu tidak? Disaat kita sudah bersua dengan yang kita rindui apa yang terjadi? Apakah kerinduan kita akan hilang begitu saja semacam asap yang lenyap? Ternyata ketika itu perasaan cinta kita pada yang di rindui akan semakin bertambah dari sebelumnya, kawan. Bila sudah begitu—cintanya semakin besar—maka kerinduan kita akan semakin berlipat. Dan terus begitu; membesar dan membesar!
Saya teringat ungkapan sufi besar, Ibnu Arabi yang sedang mengalami rindu ini;
“Aku tak hadir, kerinduanku memusnahkan jiwaku, lalu aku bertemu (namun) tidak dapat menyembuhkanku. Maka kerinduan ini ada ketika tak hadir dan (mau pun) hadir
Pertemuan dengannya menjadikan aku sesuatu yang tak pernah ku duga, maka obatnya adalah penyakit yang lain; cinta baru” (Tarjumân al-Asywâq)

Dalam syair tersebut, beliau menjelaskan bahwa, “Dalam ketidak hadirannya, kerinduan akan membinasakannya. Dalam pertemuan, kerinduan (juga) akan membinasakannya. Jadi ia terus menerus dalam keadaan tersiksa, sedangkan ia berada dalam kepedihan ketidak hadiran yang mengharapkan kesembuhan dengan pertemuan. (Namun) bilamana telah bertemu, bertambahlah cintanya” (Dakhâir al-A'lâq)
***
Pada dasarnya, setiap saat kita telah merindukan sesuatu. Entah merindukan apa, rasakanlah sendiri; sedang merindukan apakah aku ini? Bukankah kalian seringkali galau—terkesan—tanpa sebab ketika sendiri atau ketika sepi? Itu tandanya jiwa kita mengalami rindu. Ya, rindu yang entah kepada siapa dan untuk siapa; apakah kita pernah jatuh cinta pada sesuatu itu sebelumnya? Atau—minimal—pernahkah kita bertemu dengan sesuatu itu sebelumnya?
Diamlah dalam sunyi. Dan diam. Rasakan saja. Lalu “dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi” (Letto). Sebab manusia tak akan sadar dengan keterpisahannya sampai ia merasakan sepi, sunyi. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]
Rembang-Pasuruan, 18 Desember 2014

Diposting oleh Mas Zain di 13.49 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Minggu, 07 Desember 2014

Ngomong-Ngomong Tentang Kehidupan


Dalam setahun ada dua belas bulan. Dalam sebulan ada empat minggu lebih. Dalam seminggu ada tujuh hari. Dalam sehari dibulatkan menjadi dua puluh empat jam. Dan dalam sehari ada pagi, siang, sore, dan malam. Begitu semuanya. Seakan setiap hari kita mengalami waktu yang itu-itu saja. Pernahkah kamu merasa heran dan bertanya-tanya ketika pagi hari duduk-duduk santai diteras sambil menikmati kopi dan udara segar; Bukankah ini adalah pagi yang sama dengan hari sebelumnya; ada mentari pagi yang menyinarkan sinarnya yang terlihat kekuning-kuningan dan disambut oleh nynyian burung pipit dan kepakan semangat sayap kupu-kupu? 5-6 jam lagi pasti siang. 9-10 jam lagi pasti sore. 12 jam lagi pasti senja datang dan datanglah malam. Atau—kalau boleh lebih ekstrim sedikit—ketika kita berpikir; Saya saat ini adalah seorang pemuda. Sebentar lagi mencari kerja yang mapan. Menikah. Punya anak. Punya cucu. Tinggallah saya seorang kakek-kakek yang tinggal menunggu ajalnya. Dan begitu seturusnya. Kita tak bisa menghindari itu semua. Seakan-akan kita memang berputar-putar dalam waktu yang sama. Begitu saja adanya. Seakan tak ada yang spsial. Namun kita terlanjur dibedakan oleh aktivitas-aktivitas yang membuat kita sibuk seakan terbawa oleh ombak yang menderu-deru, tenggelam dan kehilangan makna adanya diri kita.
Ah, hidup ini memang terasa aneh, bukan?
Ya, begitulah kehidupan. Tak akan mampu kita bisa keluar dari dinding ruang dan waktu. Namun, meskipun begitu, adanya waktu pun terbukti “terasa” relatif meski dalam kehidupan manusia disekat menjadi “per-jam” untuk mempermudahkan mengukur aktivitas kita. Bahkan secara teori fisika pun bisa dibuktikan dengan deretan angka-angka yang telah dirumuskan oleh seorang ilmuan keturunan Yahudi, Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitas waktu yang menggemparkan ilmuwan pada masanya. Contoh sederhananya saja bila kamu pergi ketaman—atau kemanalah—bersama sang kekasih. Hem...tentu saja perasaanmu seakan waktu berjalan tak secepat biasanya. Atau sebaliknya, ketika kamu dalam keadaan patah hati. Ah, hari-hari itu terasa lambat. Bahkan sampai lambatnya seakan kamu menghitung per-detik seakan lama tak seprti biasanya.
Ah, hidup ini memang terasa aneh!

Kehidupan. Apa sih kehidup ini? Ada yang mengatakan bahwa kehidupan hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Ya, itu adalah penggalan lirik dari single yang dinyanyikan grup band Dewa. Ada yang mengatakan bahwa hidup ini adalah proses pendidikan semacam sekolah yang tak mengenal kata ijazah yang perlu dilegalisir oleh suatu lembaga pendidikan. Ada yang menarik dan mengejutkan tentang sms salah satu sahabat penulis ketika ditanya tentang hidup ini apa, ia menulis “Hidup ini ruwet, bro!” Entahlah apa yang sebenarnya ada dibenak sahabat penulis tersebut. Yang jelas sms tadi menyolek penulis bahwa hidup ini memang rumit bila di pertanyakan. Memang ini adalah pertanyaan dasar yang jarang sekali manusia berpikir keras—meski pun penulis yakin setiap orang pernah mempertanyakan dalam hidupnya tapi tak terlalu ambil pusing dengan jawabannya. Sebab mereka berpikir; toh saya masih tetap hidup tak menemukan jawabannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata hidup ini terdapat banyak arti, diantaranya hidup adalah; masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Berarti “kehidupan” adalah cara (keadaan, hal) hidup. Secara istilah, masih sulit sekali mendefinisikan “kehidupan” secara jelas. Sebab kehidupan adalah sebuah proses bukan sebuah substansi murni. Maka jangan heran bila ada yang mengatakan kehidupan ini dengan satu kata; perjalanan. Dimana perjalanan satu dengan perjalanan lainnya (terkadang) berbeda meskipun tujuannya sama.
Secara biologis—mengingat-ingat pelajaran IPA dizaman Es-De—materi yang ada (mawjȗd) di dunia ini di kategorikan menjadi dua; benda hidup dan benda mati. Benda hidup ini mempunyai ciri husus, diantaranya bisa bergerak (sendiri), tumbuh, dan berkembang biak. Ditinjau dari aspek  sosiologi, berbicara tentang hidup ini akan berkaitan erat dengan semua aktifitas manusia untuk saling berinteraksi yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Berarti, hidup adalah semua aktifitas yang dilakukan manusia untuk saling berintrraksi dengan lainnya dalam kehidupan sehari-hari—apa pun itu. Maka bisa diartikan, tak ada interaksi atau mengasingkan diri berarti mati.
Sebenarnaya dalam dunia ini, manusia sudah dipastikan selalu bertanya-tanya tentang kehidupannya dalam benaknya masing-masing, semenjak berabad-abad yang lalu pun begitu. Sudah menjadi naluri manusia bila keadaannya merasa terancam atau merasa tak sesuai dengan yang ada dibenaknya, mereka akan berfikir “kenapa?” dan “kenapa?” Sehingga mereka pun akan mempertanyakan dan mencari apa sih kehidupan ini sebenarnya? Begitu pula dalam dunia filsafat, pertanyaan inilah salah satunya yang di cari-cari oleh para filosof. Dan karena faktor ini pula, muncul salah satu aliran filsafat eksistensialisme.[1] Aliran ini dilatarbelakangi oleh beberapa golongan filusuf yang menyadari bahwa aktifitas teknologi yang menenggelamkan manusia dan membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sendiri sebagai manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan lingkungan sekitar yang dalam Islam dibahasakan dengan “rahmatan li al-‘âlamîn”.
Entahlah, masih belum ada definisi dan konsep yang global yang dijelaskan para Tokoh dan golongan tertentu sampai saat ini. Definisi yang ada hanyalah deskripsi-deskripsi tentang hidupnya dan apa yang terlihat oleh mata. Dan tentu saja hal itu amatlah kurang mencangkup untuk mendefinisikan apa itu kehidupan. Tapi yang jelas kehidupan kita, semua apa yang kita alami, kita rasakan, kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari adalah kenyataan yang menggambarkan kita sebenarnya.[2] Sehingga apa pun yang ada dalam kehidupan kita adalah makna-makna yang tercecer-cecer seperti potongan-potongan puzzle yang perlu kita susun kembali. Kita tak tahu apa yang terjadi di hari esok meski esok hari sudah ada yang mengatur sedemikian rupa senyata dan serupa—tak ada yang terlewatkan sedikit pun—seperti apa yang kita lihat dengan kedua mata kita esok hari. Oleh karena itu penulis akan mengorek-ngorek “kehidupan” dalam catatan ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi kamu juga pernah mempertanyakannya. Ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm. Âmin!
Wallahu A’lam bi al-shawâb![]

Bonot Lor – Pasuruan, 06 Mei 2014


[1] Eksistensialisme adalah salah satu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan segala sesuatu terhadap manusia dan segala sesuatu yang mengiringinya.
[2] Baca lebih lanjut tentang konsep alam mikrokosmos dan alam mikrokosmos menurut kalangan sufi.
Diposting oleh Mas Zain di 22.39 0 komentar
Label: Filsafat
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Selasa, 02 Desember 2014

Takbir itu Pengakuan; Dia Maha Agung dan Aku Maha Hina


Sudah kamu ketahui bahwa, takbiratul ihram itu mengucapkan “Allahu akbar”. Tapi bukan itu maksud penulis di sini. Terus apa dong?!
Baiklah mari kita berbincang masalah ini!
Sudah kita ketahui, artinya “Allahu akbar” adalah Allah Maha besar; tidak ada yang mengalahi kebesarannya. Juga tak ada yang tahu—ukuran manusia normal—sampaimana kebesaran Nya itu? Sehingga manusia membahasakan dengan “tak ada batas bagi kebesaran Nya”. Bahkan kebesaran Tuhan itu melebihi kata atau bahasa “Maha besar” itu sendiri.
Ketika kita melakukan takbir—diakui atu tidak—bibir kita telah mengagungkan Nya. Seagung-agungnya! Dan begiti juga dengan hati kita, sudah seharusnya ikut mengagungkan Nya—minimal—hanya huruf awal takbir itu diucapkan! Ya, belajar mengagungkan Nya dengan dan dari hati!
Bilamana kita sedikit berfikir, merenungkan apa itu takbir, maka sudah seharusnya kita mengagungkan Dia. Mengagungkan seagung-agungnya! Mengagungkan dengan cara apa saja hatimu mengagungkan Nya. Ya begitulah, salah satu caranya bisa bertakbir dari hati; sepenuh hati. Bukankah kita terkadang perlu merenung terlebih dahulu untuk melaksanakan sesuatu dengan sepenuh hati?
Mengagungkan Dia sama artinya merendahkan diri di depan Nya; tawadhu’. Menunduk merasakan diri yang hina di hadapan Sang Maha Raja yang Agung. Bukankah kita—manusia—di ciptakan dari air yang hina (QS: As-Sajdah [32]: 08)?
Lho, berarti kita harus mengetahui “siapa diri” kita dong; siapa aku?
Tahu pada diri kita atau tidak—sebab penulis akui bahwa mengetahui diri sendiri itu adalah hal yang amat sulit dan itulah ilmu tertinggi bagi manusia (sayyidina Ali r.a.)—yang jelas ketika tubuh dan hati kita mengagungkan Nya dan kita (seakan) ada dihadapan Nya, ketika itu juga—otomatis—kita telah merendahkan diri kita yang seakan bersimpuh tunduk di hadapan Nya.
Tidak percaya? Silakan kamu mencobanya sendiri. Rasakanlah dirimu sendiri ketika bibir-bibir hatimu sengaja mengagungkan Nya. Seagung-agungnya. Dengan pengagungan  yang tak pernah kamu  berikan pada siapa pun. Maka kamu akan  melihat dirimu dihadapan Nya; bersimpuh malu—sebab berlumuran dosa—di hadapan Maha Raja.
Lihatlah!
Renungkanlah!
Rasakanlah!
Semoga kita—minimal—seperti gambaran itu. Amin!
Maka tidaklah heran ada yang menyimbolkan posisi kita di waktu takbiratul ihram (berdiri) dengan huruf alif pada lafadz Jalalah yang diartikan sebagai sirr Allah yang di titipkan pada insân al-kâmil dengan gambaran seorang Avatar Tuhan, Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Entahlah! Apa kita—terutama penulis—apa kita bisa sembahyang (shalat)—minimal takbiratul ihram saja—dengan sebenar-benarnya? Yang jelas sudah semestinya kita bisa sembahyang dengan sebenar-benarnya. Bukankah kita budak (‘abd) Nya? Bukankah kita selalu di sayangi setiap hembusan nafas kita?
Rasakanlah! Renungkanlah!
Semoga kitadi beri anugrah shalat dengan sebenar-benarnya. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm. Âmin!
Wallahu A’lam.[]
Diposting oleh Mas Zain di 18.18 0 komentar
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger