MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Archive for 2015

Selasa, 05 Mei 2015

Hasratku (Manusia)

“Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
19.08

Senin, 20 April 2015

Tentang Kehilangan

“Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa rasa kehilangan hanya akan ada jika kau per...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.13

Jumat, 17 April 2015

Hal yang Amat Membahagiakan

S E P E R T I N Y A , hal yang amat sangat menyedihkan adalah ketika kita mati masih dalam keadaan ditolak oleh yang kita cintai. Leb...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
14.09

Senin, 13 April 2015

Belajar pada Bocah

“ Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau saja …”    (Q . S. Muhammad: 36) A K U mesti ...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
19.50
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ▼  Mei (1)
      • Hasratku (Manusia)
    • ►  April (3)
      • Tentang Kehilangan
      • Hal yang Amat Membahagiakan
      • Belajar pada Bocah
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Selasa, 05 Mei 2015

Hasratku (Manusia)



“Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hidupku tak akan bermakna jika aku tidak melakukannya.”

(Roger Housden)[1]


Para filosof amat ingin mencari hakikat sesuatu. Para senima mencari-cari sesuatu yang indah yang bahkan aneh menurut orang lain. Para ilmuwan ingin untuk mengetahui kebenaran di balik sesuatu. Para pelancong amat merindukan tempat pulang. Para pecinta menuntut  bertemu kekasihnya. Semua itu adalah hasrat. Hasrat yang sulit sekali kita hilangkan dalam diri kita sebagai manusia. Perasaan itu muncul entah dari mana, entah bagaimana menghilangkannya. Yang kita tahu kita amat tertarik untuk memnuhinya. Itu adalah permulaan dari peristiwa. Semenjak Kanjeng Nabi Adam as. diturunkaan dari surga “Turunlah kalian!” (Q.S. al-Baqarah: 36) “Turunlah kalian dari surga!” (Q.S. al-Baqarah: 38). Ketika tepat di bumi—tempat asing bagi spesies manusia—beliau terpisah bertahun-tahun dari istrinya, siti Hawa, ibu dari semua manusia dalam mitologi agama samawi, lalu beliau amat merindukannya dan ingin sekali bersua.
Ya, semua manusia memiliki hasrat dengan rasa yang sama; hasrat. Tak peduli apa yang menjadi hasratnya. Tak peduli datang dari mana. Bahkan kita tak peduli apa itu namanya. Yang kita tahu, kita dituntut untuk memenuhinya. Hal itu sudah ada semenjak kepala kita muncul dari rahim ibu kita. Bahkan sebelum itu terjadi. Lihat saja bagaimana tingkah laku sperma dan sel telur dalam rahim ibu; sperma tak sabar, selalu ingin keluar dari epididimis seakan ia tahu tugasnya adalah membuahi sel telur yang bahkan ia sendiri belum pernah bertemu dan sel telur setiap bulan meninggalkan indung telur menuju ke pembuluh fallopian, menunggu untuk di buahi, berharap sesuatu yang ia rindukan datang meski ia belum pernah tahu bagaimana dan apa itu sebelumnya.
(Sepertinya) Tuhan memang sengaja menumbuhkan hasrat dalam diri kita. Entah untuk apa sebenarnya—apakah kamu tahu untuk apa? Semenjak kita masih berbentuk sperma dan ovum, sebelum kita mempunya otak yang bisa berpikir ini-itu kita sudah mempunyai hasrat seperti yang aku katakan tadi. Sampai sekarang kita masih mempunyai hasrat meski mempunyai otak yang mampu berpikir, bahkan hasrat kita terlihat semakin kompleks lagi. Aih…!
Apakah hidup adalah kumpulan hasrat-hasrat alami manusia? Entahlah. Kita sendiri tak tahu, tak paham betul dari mana hasrat itu muncul. Bahkan sebelum kita tahu apa itu namanya kita sudah memilikinya. Sepertinya, selama kita ada hasrat itu ada, menyumbul tak tertahankan, sekali pun tanpa mengharap untuk muncul.
Hasrat, aku bahkan akan kebingungan mempertanyakan tentangnya.
Kita pasti memiliki hasrat terindah, terbesar dalam hidup kita, entah kita tidak tahu betul apa itu. Misalnya saja ketika kita masih sekolah Es-De dan berhasrat untuk meraih nilai tertinggi dalam kelas. Setelah kita berhasil meraihnya kita amat bahagianya sekali. Namun, itu masih belum. Kita kembali berhasrat untuk meraih nilai tertinggi selanjutnya sekan kita belum terpuaskan ketika memperoleh pertama kali. Dan begitu seterusnya seakan kita benar-benar tidak akan pernah terpuaskan dengan dugaan hasrat kita. Hal itu nyaris sama seperti hasrat-hasrat lainnya. Apakah kamu juga merasakan yang sama?
Apakah diri kita sebenarnya berhasrat untuk mencari sesuatu yang entah apa itu? Bahkan kita tak tahu bagaimana caranya memenuhinya. Seakan kita terus, terus, dan terus sampai kita memenuhi hasrat yang entah apa itu. Itulah yang aku maksud dengan hasrat terbesar dalam hudup. Apakah bila kita telah mati hasrat itu masih ada? Atau malah bertambah? Entahlah, aku tak tahu. Aku belum mati. Apakah do’a para muslim setiap hari dalam shalat kita—tunjukkanlah kami jalan yang “lurus”—adalah untuk pemenuhan hasrat terbesar kita? Entahlah, aku terlalu buta untuk melihat kenyataannya. Aku disini hanya berceloteh tentang hasratku dan mencoba melihat. Maka…”harus kutemukan sekali lagi/jalan yang hilang/kan kutempuh di kegelapan… bolehkah ku menujumu/ di jalan yang hilang/di jalan yang hilang”.[2] Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm!
Wallahu A’lam![]
Rabu 23:30
Rembang-Pasuruan, 29 April 2015


[1] Dikutib dari Novel “Memburu Rumi; Kisah Tentang Pencarian Cinta Sejati” karya Roger Housden.
[2] Lirik dari lagu “Jalan yang Hilang” dari Letto.
Diposting oleh Mas Zain di 19.08 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Teologi

Senin, 20 April 2015

Tentang Kehilangan



“Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya”

(Letto; Memiliki Kehilangan)


K E H I L A N G A N, kalian pasti pernah merasakan kehilangan, bukan? Kehilangan adalah hal yang pasti terjadi dan kita rasakan dalam hidup kita. Menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja; mustahil.
Kehilangan diartikan sebagai “hal hilangnya sesuatu; kematian”.[1] Dalam dunia psikologi, kehilangan menjadi nama untuk suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.
Mau tidak mau—kita sebagai manusia normal—pasti merasakan perasaan ini. bahkan manusia terhebat, termulia, tersempurna, Nabi Muhammad saw. tidak luput dari perasaan ini. Sesempurna apapun, beliau adalah manusia dan itu menjadi ciri has manusia. Bukankah dalam al-Qur’an, “Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu'” (Q.S. al-Kahfi: 110)    
Kira-kira tahun kedelapan setelah kenabian, sang Nabi saw. kehilangan orang yang sering menolongnya dari gangguan orang Quraisy, paman yang paling beliau sayangi meski non muslim; Abu Thalib. Tidak lama setelah itu, beliau kehilangan istri satu-satunya, istri yang paling dicintainya, Siti Khadijah ra. dalam usia 65 tahun. Coba bayangkan, betapa kehilangannya, beliau. Betapa sedihnya.  Itulah kenapa tahun itu dinamakan “amul huzni” (tahun kesedihan).
“Rasa kehilangan hanya akan ada/jika kau pernah merasa memilikinya”.[2] Bila tidak merasa memiliki maka tak aka nada perasaan kehilangan. Mustahil kita menghindarinya. Ya, sudah aku katakana pertama kali, menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja. Bahkan ada teori psikologi, menurut Daniel Kahneman bahwa, “secara umum manusia akan lebih merasa sakit jika kehilangan sesuatu daripada gagal ketika berusaha memperoleh sesuatu itu”. Mungkin hal ini tidak beda dengan yang di ungkapkan oleh tokoh Nagato dalam film Naruto, “Sangat sulit menerima kematian seseorang yang di cintai. Bahkan kita meyakini bahwa mereka tidak akan pernah mati... Kamu mencoba menemukan arti kematian, tetapi hanya ada kepedihan dan kebencian.... Kebencian yang tak pernah berahir, sakit yang tak pernah bisa sembuhkan.”
Entahlah untuk apa (hikmahnya) Tuhan menjadikan rasa kehilangan di hati manusia? Apakah Dia ingin kita tidak merasa memiliki apa-apa di dunia ini? Ah, sepertinya hal itu hampir tidak mungkin bagi manusia. Sebab manusia dititipkan ego (nafs). Sama saja Tuhan menyuruh hal yang tidak mungkin bagi manusia. Atau Dia ingin kita tahu betul dan menyadari bahwa, kita tidaklah memiliki apa-apa dan hanya Dia lah yang memiliki semuanya—semua-muanya, termasuk diri kita? Entahlah, yang jelas perasaan itu termasuk salah satu bentuk ujian Nya—apa pun itu namanya. Bila kita mampu melewatinya, tentu kita mendapat “sesuatu” dari Nya sebagaimana kisah Nabi Muhammad saw. yang diundang oleh Nya ke langit ke-7; mi’raj, setelah melewati tahun kesedihan. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 19 April 2015


[1] Lihat Kamus Besar bahasa Indonesia.
[2] Letto, Memiliki Kehilangan.
Diposting oleh Mas Zain di 20.13 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Jumat, 17 April 2015

Hal yang Amat Membahagiakan



S E P E R T I N Y A, hal yang amat sangat menyedihkan adalah ketika kita mati masih dalam keadaan ditolak oleh yang kita cintai. Lebih-lebih kita ditolaknya tidak hanya sekali. Menyedihkan sekali.
Sebagian orang, hal yang amat di carinya, lebih dari mendambakan hasrat untuk memasuki surga, adalah berkumpul dengan kekasih. Bahkan kita tidak peduli itu di tempat mana; surga atau neraka. Sepertinya tidak berlebihan bila ada yang menyenandungkan;

Meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
(Padi: Tempat Terakhir)

Bolehlah kita meyakini, kamu dapat menemui kekasih hanya di surga sebagaimana firman Nya "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat." (Q.S. al-Qiyâmah:22-23). Paling tidak kamu sudah menemukan motivasi untuk lebih berbuat kebajikan untuk memasuki surga. Surga dan surga, itu seakan menjadi jargon religiaus untuk melakukan kebajikan demi kebajikan. Sampai-sampai kita sering lupa hasrat utama jiwa kita; berjumpa kekasih.
Bagaimana bila itu sebaliknya; kita dapat menemui kekasih hanya di neraka? Apakah kita masih mau, berhasrat percis seperti kita berhasrat menemui kekasih di surga? Sepertinya kita perlu menjawabnya di hati saja. Sejujur-jujurnya! Tak perlu takut untuk diketahui orang-orang, kita tak perlu mengatakan jawabannya kepada orang.
Masih sudikah kita menemui kekasih meski di tempat yang tidak mengenakkan?
Terkadang kita memerlukan perenungan yang sebaliknya untuk mengukur diri. Apakah kita benar-benar menemui sang kekasih atau tempat yang menyenangka; surga? Maka jangan heran bilamana ada seorang sufi perempuan, Rabiah al-Adawiyah, ingin membakar surga dan neraka. Bukan karena beliau mampu membakar dua tempat itu. Sepertinya beliau tidak sehebat itu. Namun beliau mencoba membakar hasrat-hasrat nafsu yang lebih menginginkan surga dan takut neraka dari pada untuk menemui kekasihnya. Bukankah manusia yang dinamakan hebat adalah yang mampu menaklukkan musuh terbesar kita; nafsu sendiri? Sebagaimana sabda kekasih Tuhan; Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar; melawan hawa nafsu (ego).[1] Bukan setan. Maka janganlah sering menyalahkan kesalahan sendiri pada setan. Semoga saja kita termasuk orang yang mampu mengalahkan nafsu sendiri sehingga kita lebih berhasrat menemui kekasih daripada memasuki surga itu sendiri. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]


 Rembang-Pasuruan, 07 April 2015



[1] Hadits riwayat Al-Baihaqi.
Diposting oleh Mas Zain di 14.09 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Senin, 13 April 2015

Belajar pada Bocah



“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan
dan senda gurau saja…”  
 (Q.S. Muhammad: 36)


A K U mesti senang berkumpul—bercanda atau sekedar melihat tingkah lugunya—dengan anak kecil. Lihatlah mereka; bermain, bercanda, bergurau tanpa berfikir apakah aku besok makan atau tidak? Tanpa beban, kawan. Seakan mereka sudah begitu mengertinya apa itu kehidupan sebenarnya. Lihat saja mereka enjoy terhadap hari-harinya seakan tanpa beban. Bila mereka bertengkar—merebutkan salah satu mainan—esoknya hilang, akrab bermain bersama kembali seperti tak terjadi konflik apa-apa. Bukankah kita—sebagai manusia yang (ingin) paripurna—semestinya seperti itu? mema’afkan kesalahan orang lain seperti yang dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad—shalawat dan salam semoga atasnya?
Apakah mereka tahu apa itu hidup sebenarnya? Apakah mereka tahu bagaimana musti menjalani hidup ini?
Ah, kehidupan mereka amatlah enjoy mengarungi hidup yang terasa rumit bila dijalani para manusia yang mengaku dewasa semacam para Arif billah yang menjalani hidup ini tawakkal penuh, gembira ria—apa pun yang terjadi padanya—seperti jalan-jalannya kita menuju taman kota untuk memenuhi dan menemui sang kekasih tercinta. Namun tahukah bila sebaliknya—kita kalangan manusia yang mengaku dewasa—pusing tujuh keliling mengarungi hidup ini semacam kapten kapal yang mengarung luasnya samudra bertepatan dengan cuaca buruk. Cemas!
Tidaklah salah memang, bilamana terkadang kita musti melihat anak-anak kecil, merenunginya, dan mencontoh bagaimana kita musti menjalani hidup ini. Apakah mereka tahu apa itu hidup sebenarnya? Apakah mereka tahu bagaimana musti menjalani hidup ini? bukanlah tanpa alasan kenapa penulis membicarakan hal ini. Sebab, memang masa anak-anak adalah masa gambaran nafs muthmainnah—yang begitu enjoy menjalani hidup sebab mengembalikan—menyerahkan kembali—semua urusan kepada Pencipta dan Penyebab semua urusan yang ada didunia materi ini semenjak urusan itu nampak oleh mata, bahkan sebelum terjadi pun sudah diserahkan!
Sebaliknya kita—yang sudah mengaku dewasa—amatlah susah dan gundah gulana mengarungi kehidupan ini. Maka kita musti melihat diri kita kezaman kanak-kanak. Zaman dimana kamu menjalani diri sendiri menjadi jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah) yang amatlah menjalani hidup tawakkal. Lebih-lebih kita merenungi bagaimana gambaran kita di rahim ibu; masih berupa segumpal daging yang total diperankan dan diserahkan oleh Tuhan; dari Tuhan, oleh Tuhan, dan karena Tuhan. Lebih jauh lagi… bila kita merenungkan pertemuan sperma bertemu dengan ovum. Di mana kita? Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]

Bonot Lor – Pasuruan, 21 Oktober 2013
Diposting oleh Mas Zain di 19.50 0 komentar
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger