MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Archive for Maret 2015

Rabu, 18 Maret 2015

Cemburu (1)

C E M B U R U , pernahkan kalian mengalaminya? Ah, tentu saja pernah, bukan? Bagaimanakah rasanya? Ah…ah…! Sakitnya itu di sini (menunj...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
14.53

Rabu, 11 Maret 2015

Mimpi itu Jembatan

“Wahai ayahku, inilah arti mimpiku yang dahulu itu, sesungguhnya Tuhan ku telah menjadikannya kenyataan.” (Q.S. Yusuf: 100) K...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
21.22

Minggu, 01 Maret 2015

Tingkahku

“Aneh rasanya menemukan bahwa tak ada apa pun dalam diri kita yang pantas dicintai oleh seseorang bahkan oleh Tuhan.” (Herlinatie...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.26
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ▼  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ▼  Maret (3)
      • Cemburu (1)
      • Mimpi itu Jembatan
      • Tingkahku
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Rabu, 18 Maret 2015

Cemburu (1)


C E M B U R U, pernahkan kalian mengalaminya? Ah, tentu saja pernah, bukan? Bagaimanakah rasanya? Ah…ah…! Sakitnya itu di sini (menunjuk ke dada)! Yah, begitulah sedikit ungkapan berbau guyonan ala anak muda jaman sekarang. Kata Dewa 19, “Ingin ku bunuh pacarmu/saat dia cium bibir merahmu/di depan kedua mataku/hatiku terbakar…”. Bila kata Andrea Hirata, “Cemburu adalah perahu Nabi Nuh yang tergenang di dalam hati yang karam. Lalu naiklah ke geladak perahu itu, binatang yang berpasang-pasangan; perasaan tak berdaya ingin mengalahkan, rencana jahat-penyesalan, kesedihan-gengsi….”
Hem…sepertinya kita tak perlu mendefinisikan “cemburu”. Yah, saya mengira, kalian sudah mengerti betul apa itu cemburu sebelum kalian mencari dan tahu definisinya di kamus atau buku-buku lainnya.

Cemburu pada Kekasih
Pernah suatu ketika salah seorang sahabat dekat saya mendapatkan surat dari orang yang mencintainya. Cukup romantis. Kata-katanya penuh makna, seperti ada ruh yang menghidupkannya. Kentara sekali, bila seseorang yang mengungkapkan kata memang dari hatinya—bisa dikatakan itu jujur, itulah yang ada di hatinya saat itu—sangatlah bermakna sekali. Tak salah bila banyak orang mengatakan, bila itu dari hati akan sampai ke hati. entah bagi sahabat saya tsb., sampai atau tidak; aku tidak tahu? Yang jelas sampai ke hatiku. Bisa jadi, akan sampai juga ke hati kalian, tentu saja bila kalian membacanya.
Kita lanjutkan cerita itu. ternyata isi surat itu adalah curahan hatinya sendiri yang lagi terkena kecemburuan yang begitu besarnya kepada sahabatku. Cukup membuat kira-kira, sebesar apa cintanya kepada sahabatku. Tentu saja rasa cemburu itu sebanding dengan rasa cintanya. Yang paling “lucu” nya—setidaknya begitulah pandangan orang normal yang melihatnya—ternyata aku seketika itu merasakan dadaku sesak. Yah, aku cemburu pada sahabatku sendiri (maka jangan ditanyakan; apakah aku mencintainya?). Lebih-lebih bila ia mengirimkan surat ungkapan sayangnya kepada sahabatku itu. Rasa-rasanya…..ah!

Ya, begitulah cemburu, seperti ketika siti Sarah meminta Nabi Ibrahim as. untuk menjauhkan siti Hajar—istri kedua yang awalnya adalah budaknya siti Sarah sendiri—dari pandangan matanya, karena ia lebih dahulu melahirkan putra, Ismail as. sedangkan ia belum dikaruniai anak. Seperti ketika Nabi Muhammad saw. menghampiri Hafshah ra. dan berjalan bersamanya spontan Siti Aisyah ra. merasa kehilangan lalu menendangkan kakinya pada tetumbuhan izkhir sambil berkata; Ya Tuhanku! Semoga ada kalajengking atau ular yang menggigitku sedang aku tidak dapat mengatakan sesuatu apapun kepada rasul Mu. (Shahih Muslim)
Membicarakan hal ini memang sangat melankolis sih. Kata sebagian orang, gak jantan banget! Sama saja membicarakan ke-“tidak jantanan kita (bila kamu adalah lelaki) sendiri”. Bisa jadi. Memang, kita—sebagai manusia normal—mempunyai sisi melankolis. Siapa pun itu! Bahkan di saat-saat tertentu kita akan membutuhkannya, bahkan. Kangen saat-saat melankolis.[]
Diposting oleh Mas Zain di 14.53 0 komentar
Label: Psikologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Rabu, 11 Maret 2015

Mimpi itu Jembatan



“Wahai ayahku, inilah arti mimpiku yang dahulu itu, sesungguhnya Tuhan ku telah menjadikannya kenyataan.”
(Q.S. Yusuf: 100)

K I S A H dalam al-Qur’an, ketika Kanjeng Nabi Yusuf as., menceritakan perihal tentang mimpinya kepada sang ayah, "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (Q.S. Yusuf: 04). Merenungi informasi al-Qur’an tersebut, secara logika (berdasarkan alam nyata), pernahkah kamu bertanya-tanya; apakah bintang, matahari, dan bulan bisa sujud? Bagaimana cara mereka bersujud? Ya, itu karena terlanjur persepsi kita tentang sujud adalah “sujud” seperti salah satu gerakan dalam shalat. Pernahkah kamu melihat—atau paling tidak membayangkan—bagaimana bintang, matahari, dan bulan bersujud?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, bisa jadi kita menjawabnya dengan sok ringan tanpa mensyaratkan berpikir panjang, kira-kira begini; lah, namanya juga mimpi, semuanya bisa terjadi. Jawaban yang sederhana sih dan sedikit bernada “ngeles”. Namun jawaban itu benar dan menyimpan pengetahuan tentang mimpi. Paling tidak kita mengetahui sedikit sifatnya mimpi.
Dalam mimpi, sesuatu yang tak mungkin bisa mungkin dan sesuatu yang mungkin bisa tak mungkin. Menurut Ibnu Arabi mimpi termasuk kedalam alam imajinasi. Menurut beliau, imajinasi adalah tempat penampakan wujud-wujud spiritual, para malaikat dan roh, tempat mereka memperoleh bentuk dan figur-figur “rupa penampakan” mereka, dan karena disana konsep-konsep murni (ma`ani) dan data indera (mahsusat) bertemu dan memekar menjadi figur-figur personal yang dipersiapkan untuk menghadapi drama event rohani. Ya, imajinasi adalah jembatan—atau dalam bahasa santri “wasilah”—antara alam ghaib dan nyata, antara alam ruhani dan indrawi. Dan kemampuan imajinasi ini, masih kata Ibnu Arabi, tetaplah aktif meski kita dalam keadaan terjaga. Namun imajinasi kalah dengan aktifitas panca indra kita. hal ini mengingatkan saya pada kata-kata Imam al-Ghazali, bahwa ketika manusia menutup semua pintu indra—yakni dalam keadaan tidur—maka pintu ghaib pun terbuka. Maka jangan heran bila bagi sebagian manusia, mimpi adalah salah satu sumber informasi dan ilmu. Bahkan mimpi menjadi perantara wahyu dan ilham yang disampaikan oleh Tuhan pada manusia. Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu a’lam![]
Rembang-Pasuruan, 16 Februari 2015

Diposting oleh Mas Zain di 21.22 0 komentar
Label: Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Minggu, 01 Maret 2015

Tingkahku



“Aneh rasanya menemukan bahwa tak ada apa pun dalam diri kita yang pantas dicintai oleh seseorang bahkan oleh Tuhan.”

(Herlinatiens)


Ma'af, bila saya masih nakal dengan pikiran sendiri. Sebab saya masih belum paham betul tentang diriku, tentang alam, dan tentang Kau. Namun, apakah bila kita (manusia) sudah paham betul tentang diri, itu bakal menjadi tak mempunya kesalahan dan hal-hal bodoh? Entahlah. Yang jelas manusia itu memang sifatnya adalah salah dan salah. “Dosa dan kesalahan adalah niscaya.”[1] Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi). Bahkan beliau juga bersabda, "Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT. mengampuni mereka." (HR. Muslim).
Suatu ketika, saya merasa seringkali melakukan hal-hal bodoh. Dan lebih bodohnya lagi saya masih melakukan hal itu terus menurus. Susah payah saya untuk menghindari hal itu, tapi semakin saya merasa tak berdaya. Seakan sudah tidak mampu menghindarinya semacam melewati jalan yang amat licin. Ketika itu rasa-rasanya saya seperti debu yang terlempar jauh. Jauh ditengah padang pasir dan ditinggal sendiri di dalam rasa keterpisahan. Dan ketika itu saya sadar bahwa, saya memang tidaklah mampu. Bahkan untuk sekedar meludahi muka sendiri tak mampu! Lebih jauh lagi, saya berpikir dan merenung lama-lama saya menemukan diriku seperti dalam kutipan Novel diatas, “Aneh rasanya menemukan bahwa tak ada apa pun dalam diri kita yang pantas dicintai oleh seseorang bahkan oleh Tuhan.” (Herlinatiens). Saya bertanya-tanya duga; apakah ini cara Tuhan menelanjangiku?
Saya teringat kata mutiara dalam al-Hikam nya Ibnu Atha’illah:
“Termasuk dari tanda-tandanya bersandar kepada amal adalah berkurangnya harapan (pada Allah) ketika adanya kesalahan”
Bisa jadi sebelumnya saya merasa mengagumi amal-amal (baik) sendiri dan menuntut sesuatu dari kebaikanku itu. Lalu, ketika merasa begitu Tuhan menelanjangiku dengan cara melemparku jauh ketengah padang pasir seperti sebutir pasir yang terlempar entah kemana. Meski lama sudah saya mendengar dan tahu bahwa “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Q.S. ash-Shâffât: 96). Namun, tentu saja Tuhan belum menelanjangiku—atau bila meminjam kata-katanya Karen Armstrong; sedang mengalami. Memang, ketika jatuh rasa-rasanya diri ingin sekali bangkit. Namun, setiap kali bangkit akan jatuh. Seakan tak ada pilihan selain jatuh dan ketika itu Tuhan mengenalkan  dirimu sekaligus diri Nya. Sebab, sebenarnya memang tak ada pilihan (kita). Maka, “Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (Q.S. az-Zukhruf; 13) Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 05 Februari 2015


[1] Lirik lagu Manusia yang dinyanyikan oleh Ahmad Dhani dan Indra Lesmana.
Diposting oleh Mas Zain di 20.26 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger