MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Archive for 2019

Sabtu, 26 Januari 2019

DUA HATI

بسم الله الرحمن الرحيم Kemarin aku tertarik kepada salah satu setatus Facebook seseorang: Lalu siapa yang bertahta di dalamnya, Tuan?...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
12.10

DUNGU-KU

بسم الله الرحمن الرحيم Duh, betapa bebalnya kami. Bahkan setiap detak jantung, kami memaksiati Mu, alpa pada Mu. Kau ma'afkan...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
11.43

R I N D U

Pecinta sejati mati perlahan di bakar dinginnya rindu. Ketika senja datang, ia mulai merasa sunyi. Ketika malam, hatinya semakin pilu...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
11.24
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2019 (3)
    • ▼  Januari (3)
      • DUA HATI
      • DUNGU-KU
      • R I N D U
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Sabtu, 26 Januari 2019

DUA HATI

بسم الله الرحمن الرحيم

Kemarin aku tertarik kepada salah satu setatus Facebook seseorang:
Lalu siapa yang bertahta di dalamnya, Tuan?

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ
“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya”
(QS. al-Ahzab: 04)
Benakku memojok ke kalimat “قَلْبَيْنِ”. Sepontan aku mengomentari:
Lalu siapakah yang memegang hati seperti lekeran?
***
Didalam tafsir an-Nukat wa al-‘Uyûn (النُكَت والعيون) karya Imam Mawardi asy-Syafi’i (w. 450 H/1058 M), ditulis bahwa ayat ini ada enam pendapat yang salah satunya seperti yang ditulis oleh Syihabuddin Muhammad bin Abdullah al-Alusi dalam kitab tafsirnya, Rûh al-Ma’âni (روح المعاني):
“Dikeluarkan oleh Ahmad, Tirmidzi (beliau memandang hasan hal ini), Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Hakim (beliau memandang shahih hal ini), Ibnu Mardawiyah.....dari Ibnu Abbas—semoga Allah meridhai keduanya (anak-bapak) berkata bahwa; Kanjeng Nabi saw pada suatu hari beliau sedang shalat, lalu terlintas suatu pikiran. Kemudian orang-orang munafik yang shalat bersama beliau berkata [untuk menyindir Nabi] ‘Apakah kamu tidak melihat bahwa ia mempunyai dua hati? Satu bersama kaian, satu bersama mereka?’
Kemudian turunlah ayat ini”
***
Lalu aku mencari makna secara isyari pada naskah-naskah tafsir yang bercorak isyari atau tafsir sufistik. Di dalam tafsir Lathâif al-Isyârât (لطائف الإشارات) milik Imam al-Qusyairi dalam menjelaskan ayat penggalan ayat ini:
“Hati, ketika sibuk dengan sesuatu, maka ia dibuat sibuk dari yang lainnya. .....malam dan siang tak akan menyatu”
Sedangkan menurut at-Tastari (w. 283 H) dalam kitab tafsirnya:
“Orang yang menghadap pada Allah azza wa jalla dengan menghadap/lurus tanpa menoleh [kepada yang lain]. Jadi, barang siapa yang memandang kepada sesuatu selain Allah, maka ia bukanlah orang yang bermaksud menuju kepada Rabb nya.”
Di dalam tafsir Rûh al-Bayân, Syaikh Ismail Haqqi al-Barausawi (daerah Turki) al-Hanafy al-Khalwaty (w. 1137 H/1715 M) ayat ini mengisyaratkan:
“Sesungguhnya hati itu diciptakan untuk kekasih saja; hati itu satu dan sedangkan kekasih itu [juga] satu. Jadi hati itu tidaklah pantas kecuali untuk satu kekasih, tak ada madu lain baginya”
***
Di dalam kitab Ihya’ Imam al-Ghazali ketika menerangkan perihal faktor yang menguatkan cinta Allah, dalam poin satu adalah memutus hubungan dengan dunia dan mengusir cinta kepada selain Allah dari hati. Beliau memberikan analogi “Sesungguhnya hati itu seperti sebuah bejana; ia tak bisa memuat cuka/arak—misalnya—selama air tak keluar darinya.” Lalau beliau mengutip ayat ini “ما جعل الله لرجل من قلبين في جوفه”.

Kemudian beliau menjelaskan bagaimana cinta yang sempurna itu, bahwa “Sempurnanya cinta dalam cinta Allah azza wa jalla adalah dengan seluruh hati. Selama ia berpaling kepada selain Nya, maka di pojok hatinya itu disibukkan dengan selain Nya.” Beliau melanjutkan lebih dalam.... “Bahkan ini adalah makna ucapanmu ‘لا إله إلا الله’; [Dia] yang disembah dan tak ada kekasih selain Dia. Maka setiap kekasih, sesungguhnya ia adalah yang disembah. Jadi, seorang hamba adalah orang yang berhubungan dan [sedangkan] yang disembah adalah yang dihubungkan dengannya. Dan setiap pecinta itu dikaitkan dengan apa yang dicintainya.” Beliau melanjutkan “Oleh karena itu Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda; ‘Siapa yang mengucapkan la ilaha illallah dengan murni/ikhlas/jujur, [pasti] ia masuk surga.’ Adapun maknanya ikhlas [di sini], bahwa hatinya murni untuk Allah; tak ada yang tersisa didalam hatinya madu (شرك) selain Allah. Jadi Allah adalah kekasih hatinya sekaligus yang disembah hatinya dan yang dimaksud oleh hatinya saja.” Lalu, “Oleh dari itu—keadaan orang yang seperti itu—dunia adalah penjaranya karena dunia adalah penghalang dari musyahadah/memandang kekasihnya. Sedangkan kematian adalah kebebasan dari penjara dan pertemuan atas kekasih.”
Kemudian beliau menganalogikakan keniscayaan satu kekasih dalam hati, “Sebagaimana hal itu, manusia tak bisa mendekati timur kecuali—dengan otomatis—menjauhi barat—seukurannya. .... Jadi dunia dan akhirat adalah dua kebutuhan, keduanya seperti timur dan barat.”
***
“Lalu siapa yang bertahta di dalamnya, Tuan?”
Aku menjawab; Lalu siapakah yang memegang hati seperti lekeran?
Ya, Dia memegang hati kita seperti lekeran yang ada diantara jemari Nya:
إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati ada diantara dua jari dari jari-jemari Allah; Dia membolak-baliknya semau Nya!”
(HR. Imam at-Tirmidzi)
Di dalam riwayat lain ditulis “مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ” (...dari jari-jemari ar-Rahman...)— selain memakai nama “Allah”, kenapa musti memakai nama “ar-Rahman”? kenapa tidak yang lain? Tentu pertanyaan ini perlu pembahasan lain.
Lalu, apa relevansi antara komentarku dengan pertanyaan setatus diatas?
Pertama, dalam konteks mencintai sesama manusia, maka penjelasannya bahwa, hati itu ada di bawah kehendak Nya; hati kita mau condong kemana, cinta kepada siapa? Bukankah cinta itu sendiri masih misteri? Semisteri takdir itu sendiri—maka disini aku pernah mengungkapkan; cinta adalah miniatur takdir. (Masih) ada rahasia dalam cinta—jika masih seperti ini, maka kita belumlah pantas dinamakan cinta sejati. Seperti misteri yang unik dalam cinta; Orang jatuh cinta emang unik ya. Sampek gak mau yang lain selain dia. Kata seorang gadis asal Kejayan.
Pecinta sejati adalah orang yang menerima luka seakan-akan Dia berbisik mesra; mencintai Aku adalah luka!

Kedua, dalam konteks mencintai Dia—disini aku hanya mengira-ngira karena penulis belumlah pantas disebut sebagai pecinta. Bagaimana ada seseorang yang bertahta di dalam hatiku sedangkan hatiku berada diantara “dua jemari” Nya?
***
Apa itu cinta; tak akan memahaminya kecuali orang yang telah menerima lukanya cinta. Ketika kita sedang jatuh cinta pada seseorang; siapakah yang sebenarnya kita cintai? “Allahummarzuqny—wa iyyaha—hubba-Ka wa hubba man ahabba-Ka”
Ihdina ash-shirâth al-mustaqîm! Wallahu a’lam.[]



Selasa 21: 58
Bonot Lor, 03 Juli 2018
Ditulis hanya untuk memuskan penasaranku
dengan makna “dua hati”
pada ungkapan seorang gadis;
entahlah, tulisan ini murni atau tidak?
Aku telah mencoba memurnikannya

seperti biasanya, tapi gadis itu tetap muncul juga.
Diposting oleh Mas Zain di 12.10 0 komentar

DUNGU-KU

بسم الله الرحمن الرحيم
Duh, betapa bebalnya kami. Bahkan setiap detak jantung, kami memaksiati Mu, alpa pada Mu.
Kau ma'afkanlah kami, karena maksiat kami itu tanda ke-debuan kami yang tak sanggup mencapai Kudus Mu yang melangit. Karena tak sanggupnya kami untuk menerjemahkan dan melampiaskan rindu warisan Adam as.—yang entah bagaimana. Kami kecelek dalam ke-tercelek-an kami. Karena kami bukanlah kekasih terkasih Mu, yang Kau terangi langkahnya di jalan cinta meski hidupnya merana (karena dalam cinta). Maka ambillah hati kami, lalu Kau ukirlah nama Mu disana sehingga kami mampu membaca & menerjemahkan Nya. sehingga kami mampu melampiaskannya dengan cara membaca ukiran itu, seakan melihat wajah Mu. Bila tidak, maka sungguhlah kami tak akan pernah sanggup menari, karena Kau terlalu Kudus untuk aku yang terlalu debu.

Bonot Lor, 03 Mei 2017

Isya’ yang berdebu
Diposting oleh Mas Zain di 11.43 0 komentar
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi

R I N D U


Pecinta sejati mati perlahan di bakar dinginnya rindu.
Ketika senja datang, ia mulai merasa sunyi. Ketika malam, hatinya semakin pilu. Meronta tanpa gerak. Menjerit tanpa suara.
Pecinta sejati itu seperti lilin. Berkobar-kobar rindunya. Perlahan-lahan ia mati terbakar rindunya sendiri. Sampai ia mati dalam hidup.

Aku adalah lilin mu, bakarlah!

Bonot Lor, 31 Oktober 2017

Di waktu senja
Diposting oleh Mas Zain di 11.24 0 komentar
Label: Sastra
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger