MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku

Sabtu, 26 Januari 2019

DUA HATI

بسم الله الرحمن الرحيم Kemarin aku tertarik kepada salah satu setatus Facebook seseorang: Lalu siapa yang bertahta di dalamnya, Tuan?...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
12.10

DUNGU-KU

بسم الله الرحمن الرحيم Duh, betapa bebalnya kami. Bahkan setiap detak jantung, kami memaksiati Mu, alpa pada Mu. Kau ma'afkan...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
11.43

R I N D U

Pecinta sejati mati perlahan di bakar dinginnya rindu. Ketika senja datang, ia mulai merasa sunyi. Ketika malam, hatinya semakin pilu...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
11.24

Kamis, 23 November 2017

MERENGEK RENGEK

بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
10.55

Selasa, 05 Mei 2015

Hasratku (Manusia)

“Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
19.08

Senin, 20 April 2015

Tentang Kehilangan

“Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa rasa kehilangan hanya akan ada jika kau per...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.13

Jumat, 17 April 2015

Hal yang Amat Membahagiakan

S E P E R T I N Y A , hal yang amat sangat menyedihkan adalah ketika kita mati masih dalam keadaan ditolak oleh yang kita cintai. Leb...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
14.09
Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2019 (3)
    • ▼  Januari (3)
      • DUA HATI
      • DUNGU-KU
      • R I N D U
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Sabtu, 26 Januari 2019

DUA HATI

بسم الله الرحمن الرحيم

Kemarin aku tertarik kepada salah satu setatus Facebook seseorang:
Lalu siapa yang bertahta di dalamnya, Tuan?

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ
“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya”
(QS. al-Ahzab: 04)
Benakku memojok ke kalimat “قَلْبَيْنِ”. Sepontan aku mengomentari:
Lalu siapakah yang memegang hati seperti lekeran?
***
Didalam tafsir an-Nukat wa al-‘Uyûn (النُكَت والعيون) karya Imam Mawardi asy-Syafi’i (w. 450 H/1058 M), ditulis bahwa ayat ini ada enam pendapat yang salah satunya seperti yang ditulis oleh Syihabuddin Muhammad bin Abdullah al-Alusi dalam kitab tafsirnya, Rûh al-Ma’âni (روح المعاني):
“Dikeluarkan oleh Ahmad, Tirmidzi (beliau memandang hasan hal ini), Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Hakim (beliau memandang shahih hal ini), Ibnu Mardawiyah.....dari Ibnu Abbas—semoga Allah meridhai keduanya (anak-bapak) berkata bahwa; Kanjeng Nabi saw pada suatu hari beliau sedang shalat, lalu terlintas suatu pikiran. Kemudian orang-orang munafik yang shalat bersama beliau berkata [untuk menyindir Nabi] ‘Apakah kamu tidak melihat bahwa ia mempunyai dua hati? Satu bersama kaian, satu bersama mereka?’
Kemudian turunlah ayat ini”
***
Lalu aku mencari makna secara isyari pada naskah-naskah tafsir yang bercorak isyari atau tafsir sufistik. Di dalam tafsir Lathâif al-Isyârât (لطائف الإشارات) milik Imam al-Qusyairi dalam menjelaskan ayat penggalan ayat ini:
“Hati, ketika sibuk dengan sesuatu, maka ia dibuat sibuk dari yang lainnya. .....malam dan siang tak akan menyatu”
Sedangkan menurut at-Tastari (w. 283 H) dalam kitab tafsirnya:
“Orang yang menghadap pada Allah azza wa jalla dengan menghadap/lurus tanpa menoleh [kepada yang lain]. Jadi, barang siapa yang memandang kepada sesuatu selain Allah, maka ia bukanlah orang yang bermaksud menuju kepada Rabb nya.”
Di dalam tafsir Rûh al-Bayân, Syaikh Ismail Haqqi al-Barausawi (daerah Turki) al-Hanafy al-Khalwaty (w. 1137 H/1715 M) ayat ini mengisyaratkan:
“Sesungguhnya hati itu diciptakan untuk kekasih saja; hati itu satu dan sedangkan kekasih itu [juga] satu. Jadi hati itu tidaklah pantas kecuali untuk satu kekasih, tak ada madu lain baginya”
***
Di dalam kitab Ihya’ Imam al-Ghazali ketika menerangkan perihal faktor yang menguatkan cinta Allah, dalam poin satu adalah memutus hubungan dengan dunia dan mengusir cinta kepada selain Allah dari hati. Beliau memberikan analogi “Sesungguhnya hati itu seperti sebuah bejana; ia tak bisa memuat cuka/arak—misalnya—selama air tak keluar darinya.” Lalau beliau mengutip ayat ini “ما جعل الله لرجل من قلبين في جوفه”.

Kemudian beliau menjelaskan bagaimana cinta yang sempurna itu, bahwa “Sempurnanya cinta dalam cinta Allah azza wa jalla adalah dengan seluruh hati. Selama ia berpaling kepada selain Nya, maka di pojok hatinya itu disibukkan dengan selain Nya.” Beliau melanjutkan lebih dalam.... “Bahkan ini adalah makna ucapanmu ‘لا إله إلا الله’; [Dia] yang disembah dan tak ada kekasih selain Dia. Maka setiap kekasih, sesungguhnya ia adalah yang disembah. Jadi, seorang hamba adalah orang yang berhubungan dan [sedangkan] yang disembah adalah yang dihubungkan dengannya. Dan setiap pecinta itu dikaitkan dengan apa yang dicintainya.” Beliau melanjutkan “Oleh karena itu Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda; ‘Siapa yang mengucapkan la ilaha illallah dengan murni/ikhlas/jujur, [pasti] ia masuk surga.’ Adapun maknanya ikhlas [di sini], bahwa hatinya murni untuk Allah; tak ada yang tersisa didalam hatinya madu (شرك) selain Allah. Jadi Allah adalah kekasih hatinya sekaligus yang disembah hatinya dan yang dimaksud oleh hatinya saja.” Lalu, “Oleh dari itu—keadaan orang yang seperti itu—dunia adalah penjaranya karena dunia adalah penghalang dari musyahadah/memandang kekasihnya. Sedangkan kematian adalah kebebasan dari penjara dan pertemuan atas kekasih.”
Kemudian beliau menganalogikakan keniscayaan satu kekasih dalam hati, “Sebagaimana hal itu, manusia tak bisa mendekati timur kecuali—dengan otomatis—menjauhi barat—seukurannya. .... Jadi dunia dan akhirat adalah dua kebutuhan, keduanya seperti timur dan barat.”
***
“Lalu siapa yang bertahta di dalamnya, Tuan?”
Aku menjawab; Lalu siapakah yang memegang hati seperti lekeran?
Ya, Dia memegang hati kita seperti lekeran yang ada diantara jemari Nya:
إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati ada diantara dua jari dari jari-jemari Allah; Dia membolak-baliknya semau Nya!”
(HR. Imam at-Tirmidzi)
Di dalam riwayat lain ditulis “مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ” (...dari jari-jemari ar-Rahman...)— selain memakai nama “Allah”, kenapa musti memakai nama “ar-Rahman”? kenapa tidak yang lain? Tentu pertanyaan ini perlu pembahasan lain.
Lalu, apa relevansi antara komentarku dengan pertanyaan setatus diatas?
Pertama, dalam konteks mencintai sesama manusia, maka penjelasannya bahwa, hati itu ada di bawah kehendak Nya; hati kita mau condong kemana, cinta kepada siapa? Bukankah cinta itu sendiri masih misteri? Semisteri takdir itu sendiri—maka disini aku pernah mengungkapkan; cinta adalah miniatur takdir. (Masih) ada rahasia dalam cinta—jika masih seperti ini, maka kita belumlah pantas dinamakan cinta sejati. Seperti misteri yang unik dalam cinta; Orang jatuh cinta emang unik ya. Sampek gak mau yang lain selain dia. Kata seorang gadis asal Kejayan.
Pecinta sejati adalah orang yang menerima luka seakan-akan Dia berbisik mesra; mencintai Aku adalah luka!

Kedua, dalam konteks mencintai Dia—disini aku hanya mengira-ngira karena penulis belumlah pantas disebut sebagai pecinta. Bagaimana ada seseorang yang bertahta di dalam hatiku sedangkan hatiku berada diantara “dua jemari” Nya?
***
Apa itu cinta; tak akan memahaminya kecuali orang yang telah menerima lukanya cinta. Ketika kita sedang jatuh cinta pada seseorang; siapakah yang sebenarnya kita cintai? “Allahummarzuqny—wa iyyaha—hubba-Ka wa hubba man ahabba-Ka”
Ihdina ash-shirâth al-mustaqîm! Wallahu a’lam.[]



Selasa 21: 58
Bonot Lor, 03 Juli 2018
Ditulis hanya untuk memuskan penasaranku
dengan makna “dua hati”
pada ungkapan seorang gadis;
entahlah, tulisan ini murni atau tidak?
Aku telah mencoba memurnikannya

seperti biasanya, tapi gadis itu tetap muncul juga.
Diposting oleh Mas Zain di 12.10 0 komentar

DUNGU-KU

بسم الله الرحمن الرحيم
Duh, betapa bebalnya kami. Bahkan setiap detak jantung, kami memaksiati Mu, alpa pada Mu.
Kau ma'afkanlah kami, karena maksiat kami itu tanda ke-debuan kami yang tak sanggup mencapai Kudus Mu yang melangit. Karena tak sanggupnya kami untuk menerjemahkan dan melampiaskan rindu warisan Adam as.—yang entah bagaimana. Kami kecelek dalam ke-tercelek-an kami. Karena kami bukanlah kekasih terkasih Mu, yang Kau terangi langkahnya di jalan cinta meski hidupnya merana (karena dalam cinta). Maka ambillah hati kami, lalu Kau ukirlah nama Mu disana sehingga kami mampu membaca & menerjemahkan Nya. sehingga kami mampu melampiaskannya dengan cara membaca ukiran itu, seakan melihat wajah Mu. Bila tidak, maka sungguhlah kami tak akan pernah sanggup menari, karena Kau terlalu Kudus untuk aku yang terlalu debu.

Bonot Lor, 03 Mei 2017

Isya’ yang berdebu
Diposting oleh Mas Zain di 11.43 0 komentar
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi

R I N D U


Pecinta sejati mati perlahan di bakar dinginnya rindu.
Ketika senja datang, ia mulai merasa sunyi. Ketika malam, hatinya semakin pilu. Meronta tanpa gerak. Menjerit tanpa suara.
Pecinta sejati itu seperti lilin. Berkobar-kobar rindunya. Perlahan-lahan ia mati terbakar rindunya sendiri. Sampai ia mati dalam hidup.

Aku adalah lilin mu, bakarlah!

Bonot Lor, 31 Oktober 2017

Di waktu senja
Diposting oleh Mas Zain di 11.24 0 komentar
Label: Sastra

Kamis, 23 November 2017

MERENGEK RENGEK

بسم الله الرحمن الرحيم

“Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak akan pernah sirna meskipun aku menaati Mu.”
(Ibnu Athaillah dalam Lathâ'if al-Minan)

Suatu pagi yang syahdu sedikit, aku membaca tafsir al-Qur’an surat Alam Nasrah ayat 5 dan 6, lalu menemukan kalimat yang disukai mataku, dadaku; ان الله يحب الملحين فى الدعاء. Ternyata itu adalah hadits Kanjeng Nabi saw.
Aku maknai satu per satu, namun kesulitan dalam memaknai lafadz “الملحين”.
Iseng-iseng, aku tak sengaja menekan frekuaensi radio yang ternyata menyiarkan pengajiannya entah siapa—semoga Allah meridhai dan menjadikan ilmunya manfaat-berkah untuknya juga untuk kita—yang seakan kebetulan mengucapkan hadits ini; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang merengek dalam berdoa'.

Oh, duhai yang hatiku ada di dua jarinya
Bagaimana aku tak merindukan bila ternyata aku Kau jauhkan dari Mu
Semakin Kau jauhkan, semakinlah aku merindu
Kau berbisik pada kekasih terkasih Mu; bila hamba Ku mendekat sejangkal, Aku mendekat.....
Bagaimana aku mendekat bila Kau tak mendekat, duhai Kekasih para atom?
Entahlah; karena bagaimanaku tanpa bagaimana

“Oh, Kekasihku, betapa indahnya terbuang tanpa aduh dalam pecahmu yang paling jauh. Betapa manisnya tertusuk tanpa desir paling gurun dalam musim semimu. Entah siapa aku jika aku sungguh-sungguh kehilangan dirimu, meski aku juga tidak akan tahu siapa diriku jika bersama dirimu.” (herlinatiens)
اهدنا الصراط المستقيم

Senin di pagi yang sedikit syahdu 06. 45

Bonot, 17 April 2017
Diposting oleh Mas Zain di 10.55 0 komentar
Label: Filsafat, Sufisme, Teologi

Selasa, 05 Mei 2015

Hasratku (Manusia)



“Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hidupku tak akan bermakna jika aku tidak melakukannya.”

(Roger Housden)[1]


Para filosof amat ingin mencari hakikat sesuatu. Para senima mencari-cari sesuatu yang indah yang bahkan aneh menurut orang lain. Para ilmuwan ingin untuk mengetahui kebenaran di balik sesuatu. Para pelancong amat merindukan tempat pulang. Para pecinta menuntut  bertemu kekasihnya. Semua itu adalah hasrat. Hasrat yang sulit sekali kita hilangkan dalam diri kita sebagai manusia. Perasaan itu muncul entah dari mana, entah bagaimana menghilangkannya. Yang kita tahu kita amat tertarik untuk memnuhinya. Itu adalah permulaan dari peristiwa. Semenjak Kanjeng Nabi Adam as. diturunkaan dari surga “Turunlah kalian!” (Q.S. al-Baqarah: 36) “Turunlah kalian dari surga!” (Q.S. al-Baqarah: 38). Ketika tepat di bumi—tempat asing bagi spesies manusia—beliau terpisah bertahun-tahun dari istrinya, siti Hawa, ibu dari semua manusia dalam mitologi agama samawi, lalu beliau amat merindukannya dan ingin sekali bersua.
Ya, semua manusia memiliki hasrat dengan rasa yang sama; hasrat. Tak peduli apa yang menjadi hasratnya. Tak peduli datang dari mana. Bahkan kita tak peduli apa itu namanya. Yang kita tahu, kita dituntut untuk memenuhinya. Hal itu sudah ada semenjak kepala kita muncul dari rahim ibu kita. Bahkan sebelum itu terjadi. Lihat saja bagaimana tingkah laku sperma dan sel telur dalam rahim ibu; sperma tak sabar, selalu ingin keluar dari epididimis seakan ia tahu tugasnya adalah membuahi sel telur yang bahkan ia sendiri belum pernah bertemu dan sel telur setiap bulan meninggalkan indung telur menuju ke pembuluh fallopian, menunggu untuk di buahi, berharap sesuatu yang ia rindukan datang meski ia belum pernah tahu bagaimana dan apa itu sebelumnya.
(Sepertinya) Tuhan memang sengaja menumbuhkan hasrat dalam diri kita. Entah untuk apa sebenarnya—apakah kamu tahu untuk apa? Semenjak kita masih berbentuk sperma dan ovum, sebelum kita mempunya otak yang bisa berpikir ini-itu kita sudah mempunyai hasrat seperti yang aku katakan tadi. Sampai sekarang kita masih mempunyai hasrat meski mempunyai otak yang mampu berpikir, bahkan hasrat kita terlihat semakin kompleks lagi. Aih…!
Apakah hidup adalah kumpulan hasrat-hasrat alami manusia? Entahlah. Kita sendiri tak tahu, tak paham betul dari mana hasrat itu muncul. Bahkan sebelum kita tahu apa itu namanya kita sudah memilikinya. Sepertinya, selama kita ada hasrat itu ada, menyumbul tak tertahankan, sekali pun tanpa mengharap untuk muncul.
Hasrat, aku bahkan akan kebingungan mempertanyakan tentangnya.
Kita pasti memiliki hasrat terindah, terbesar dalam hidup kita, entah kita tidak tahu betul apa itu. Misalnya saja ketika kita masih sekolah Es-De dan berhasrat untuk meraih nilai tertinggi dalam kelas. Setelah kita berhasil meraihnya kita amat bahagianya sekali. Namun, itu masih belum. Kita kembali berhasrat untuk meraih nilai tertinggi selanjutnya sekan kita belum terpuaskan ketika memperoleh pertama kali. Dan begitu seterusnya seakan kita benar-benar tidak akan pernah terpuaskan dengan dugaan hasrat kita. Hal itu nyaris sama seperti hasrat-hasrat lainnya. Apakah kamu juga merasakan yang sama?
Apakah diri kita sebenarnya berhasrat untuk mencari sesuatu yang entah apa itu? Bahkan kita tak tahu bagaimana caranya memenuhinya. Seakan kita terus, terus, dan terus sampai kita memenuhi hasrat yang entah apa itu. Itulah yang aku maksud dengan hasrat terbesar dalam hudup. Apakah bila kita telah mati hasrat itu masih ada? Atau malah bertambah? Entahlah, aku tak tahu. Aku belum mati. Apakah do’a para muslim setiap hari dalam shalat kita—tunjukkanlah kami jalan yang “lurus”—adalah untuk pemenuhan hasrat terbesar kita? Entahlah, aku terlalu buta untuk melihat kenyataannya. Aku disini hanya berceloteh tentang hasratku dan mencoba melihat. Maka…”harus kutemukan sekali lagi/jalan yang hilang/kan kutempuh di kegelapan… bolehkah ku menujumu/ di jalan yang hilang/di jalan yang hilang”.[2] Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm!
Wallahu A’lam![]
Rabu 23:30
Rembang-Pasuruan, 29 April 2015


[1] Dikutib dari Novel “Memburu Rumi; Kisah Tentang Pencarian Cinta Sejati” karya Roger Housden.
[2] Lirik dari lagu “Jalan yang Hilang” dari Letto.
Diposting oleh Mas Zain di 19.08 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Teologi

Senin, 20 April 2015

Tentang Kehilangan



“Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya”

(Letto; Memiliki Kehilangan)


K E H I L A N G A N, kalian pasti pernah merasakan kehilangan, bukan? Kehilangan adalah hal yang pasti terjadi dan kita rasakan dalam hidup kita. Menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja; mustahil.
Kehilangan diartikan sebagai “hal hilangnya sesuatu; kematian”.[1] Dalam dunia psikologi, kehilangan menjadi nama untuk suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.
Mau tidak mau—kita sebagai manusia normal—pasti merasakan perasaan ini. bahkan manusia terhebat, termulia, tersempurna, Nabi Muhammad saw. tidak luput dari perasaan ini. Sesempurna apapun, beliau adalah manusia dan itu menjadi ciri has manusia. Bukankah dalam al-Qur’an, “Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu'” (Q.S. al-Kahfi: 110)    
Kira-kira tahun kedelapan setelah kenabian, sang Nabi saw. kehilangan orang yang sering menolongnya dari gangguan orang Quraisy, paman yang paling beliau sayangi meski non muslim; Abu Thalib. Tidak lama setelah itu, beliau kehilangan istri satu-satunya, istri yang paling dicintainya, Siti Khadijah ra. dalam usia 65 tahun. Coba bayangkan, betapa kehilangannya, beliau. Betapa sedihnya.  Itulah kenapa tahun itu dinamakan “amul huzni” (tahun kesedihan).
“Rasa kehilangan hanya akan ada/jika kau pernah merasa memilikinya”.[2] Bila tidak merasa memiliki maka tak aka nada perasaan kehilangan. Mustahil kita menghindarinya. Ya, sudah aku katakana pertama kali, menghindari kehilangan sama saja dengan lari dari kematian. Amat melelahkan dan sia-sia saja. Bahkan ada teori psikologi, menurut Daniel Kahneman bahwa, “secara umum manusia akan lebih merasa sakit jika kehilangan sesuatu daripada gagal ketika berusaha memperoleh sesuatu itu”. Mungkin hal ini tidak beda dengan yang di ungkapkan oleh tokoh Nagato dalam film Naruto, “Sangat sulit menerima kematian seseorang yang di cintai. Bahkan kita meyakini bahwa mereka tidak akan pernah mati... Kamu mencoba menemukan arti kematian, tetapi hanya ada kepedihan dan kebencian.... Kebencian yang tak pernah berahir, sakit yang tak pernah bisa sembuhkan.”
Entahlah untuk apa (hikmahnya) Tuhan menjadikan rasa kehilangan di hati manusia? Apakah Dia ingin kita tidak merasa memiliki apa-apa di dunia ini? Ah, sepertinya hal itu hampir tidak mungkin bagi manusia. Sebab manusia dititipkan ego (nafs). Sama saja Tuhan menyuruh hal yang tidak mungkin bagi manusia. Atau Dia ingin kita tahu betul dan menyadari bahwa, kita tidaklah memiliki apa-apa dan hanya Dia lah yang memiliki semuanya—semua-muanya, termasuk diri kita? Entahlah, yang jelas perasaan itu termasuk salah satu bentuk ujian Nya—apa pun itu namanya. Bila kita mampu melewatinya, tentu kita mendapat “sesuatu” dari Nya sebagaimana kisah Nabi Muhammad saw. yang diundang oleh Nya ke langit ke-7; mi’raj, setelah melewati tahun kesedihan. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]

Rembang-Pasuruan, 19 April 2015


[1] Lihat Kamus Besar bahasa Indonesia.
[2] Letto, Memiliki Kehilangan.
Diposting oleh Mas Zain di 20.13 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Jumat, 17 April 2015

Hal yang Amat Membahagiakan



S E P E R T I N Y A, hal yang amat sangat menyedihkan adalah ketika kita mati masih dalam keadaan ditolak oleh yang kita cintai. Lebih-lebih kita ditolaknya tidak hanya sekali. Menyedihkan sekali.
Sebagian orang, hal yang amat di carinya, lebih dari mendambakan hasrat untuk memasuki surga, adalah berkumpul dengan kekasih. Bahkan kita tidak peduli itu di tempat mana; surga atau neraka. Sepertinya tidak berlebihan bila ada yang menyenandungkan;

Meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
(Padi: Tempat Terakhir)

Bolehlah kita meyakini, kamu dapat menemui kekasih hanya di surga sebagaimana firman Nya "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat." (Q.S. al-Qiyâmah:22-23). Paling tidak kamu sudah menemukan motivasi untuk lebih berbuat kebajikan untuk memasuki surga. Surga dan surga, itu seakan menjadi jargon religiaus untuk melakukan kebajikan demi kebajikan. Sampai-sampai kita sering lupa hasrat utama jiwa kita; berjumpa kekasih.
Bagaimana bila itu sebaliknya; kita dapat menemui kekasih hanya di neraka? Apakah kita masih mau, berhasrat percis seperti kita berhasrat menemui kekasih di surga? Sepertinya kita perlu menjawabnya di hati saja. Sejujur-jujurnya! Tak perlu takut untuk diketahui orang-orang, kita tak perlu mengatakan jawabannya kepada orang.
Masih sudikah kita menemui kekasih meski di tempat yang tidak mengenakkan?
Terkadang kita memerlukan perenungan yang sebaliknya untuk mengukur diri. Apakah kita benar-benar menemui sang kekasih atau tempat yang menyenangka; surga? Maka jangan heran bilamana ada seorang sufi perempuan, Rabiah al-Adawiyah, ingin membakar surga dan neraka. Bukan karena beliau mampu membakar dua tempat itu. Sepertinya beliau tidak sehebat itu. Namun beliau mencoba membakar hasrat-hasrat nafsu yang lebih menginginkan surga dan takut neraka dari pada untuk menemui kekasihnya. Bukankah manusia yang dinamakan hebat adalah yang mampu menaklukkan musuh terbesar kita; nafsu sendiri? Sebagaimana sabda kekasih Tuhan; Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar; melawan hawa nafsu (ego).[1] Bukan setan. Maka janganlah sering menyalahkan kesalahan sendiri pada setan. Semoga saja kita termasuk orang yang mampu mengalahkan nafsu sendiri sehingga kita lebih berhasrat menemui kekasih daripada memasuki surga itu sendiri. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! 
Wallahu A’lam![]


 Rembang-Pasuruan, 07 April 2015



[1] Hadits riwayat Al-Baihaqi.
Diposting oleh Mas Zain di 14.09 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger