MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Sufisme » Teologi » Belajar dari Mencintai

Jumat, 08 Agustus 2014

Belajar dari Mencintai

"Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Kuingin kutahu
Engkau ada"
 
 (Dewi Lestari/ Dee; Aku Ada)

Hei…kawan! Mungkin anda pernah mendengar pertanyaan-pertanyaan tentang “mencintai dan dicintai”, bukan? Tidak jarang kita mendengar pertanyaan begini; enak mana sih, antara orang yang mencintai dengan orang yang dicintai?
Sepintas kita—sebagai anak muda yang normal—lebih cenderung ingin menjadi orang yang dicintai (meskipun tidak mencintai) dari pada menjadi orang yang mencintai (tapi tidak dicintai). Di sini penulis tidak membicarakan orang yang saling mencintai. “Hem…, siapa sih yang mau mencintai seseorang yang gak balik mencintai?!”
Ini dia, perkataan yang spontan. Tidak dipikir dalam-dalam! Seperti itu, benar tidak?
Pernahkah anda mencintai seseorang yang tidak balik mencintai anda? Atau anda malah dicintai seseorang yang tidak anda cintai? Atau bahkan lebih parahnya lagi—mungikin lebih enak kita sebut “aneh” dari pada parah—orang yang kita cintai itu mencintai orang lain. Bagaimanakah rasaaya?
Baik, mari kita muai dari perasaan ketika anda dicintai seseorang!
Bila anda renungkan sejenak, ketika anda dicintai seseorang tanpa anda balik mencintai. Hem…anda akan menikmati aplikasi dari cintanya si dia—orang yang menganggap anda si pujaan hatinya. Anda akan mendapatkan senyuman manis dari si dia, anda akan mendapatkan salam dari si dia, bahkan anda akan mendapatkan hadiah istimewa dari si dia. Anda akan menikmati itu semua dengan cuma-cuma! Namun, ingatlah, anda tidak akan pernah—selama anda tidak mencintai—menikmati nikmatnya cinta! Dan…tahukah anda? Lama-kelamaan anda akan menerima senyumannya yang manis akan terlihat biasa-biasa saja, mendengarkan salam dari dia biasa-biasa saja seperti angin lalu saja. Anda mendapatkan hadiah istimewa dari si dia juga akan nampak biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu yang luar biasa disitu! Semuanya terasa biasa-biasa saja, sebab anda tidak merasakan cintanya! Senang, namun sementara. Atau hanya perasaan bangga saja yang hinggap!
Namun, bagaimana bila kenyataannya adalah anda malah mencintai seseorang—meski ketika itu anda belum tahu dia balik mencintai anda atau tidak mencintai anda—wah…ketika anda (hanya) mendapatkan sebuah salam singkat dari (yang dianggap) si pujaan hati, maka perasaan anda sulit untuk anda gambarkan! Mungkin lebih enak anda akan mengungkapkan perasaan anda ketika itu dengan ungkapan “gimana gitu…!” Apalagi bila anda bertemu dan langsung bertatap muka dengan si dia. Wah…serasa dunia hanya milik anda, tiada orang lain! Semacam la nafi liljinsi yang bertemu langsung dengan isimnya, maka bisa meniadakan semua jenis (nafyu jami’i al-jinsy).
Namun sebaliknya, jikalau anda mendengar—atau (bahkan)—melihat si dia dengan orang lain (yang dicintainya) serasa hati anda dipukul dengan godam baja, menyakitkan sekali! Semacam kalimah isim yang sengaja dimasuki huruf jer, mau tak mau harus nge-jer! 
Cinta memang misteri, kawan…!
Lain ceritanya bila cinta anda adalah cinta yang tulus. Ketika itu anda akan memikirkan kebahagian si pujaan hati yang amat anda cintai tanpa memandang dia balik mencintai atau tidak—memang sudah seharusnya para pecinta sejati berfikir seperti itu! Sehingga anda merasakan kebahagiaannya, anda tidak lagi mengalami galau berat! Anda akan terus mencintainya meskipun tahu dia tidak mencintai anda. Anda akan terus memberikan bingkisan-bingkisan manis tanpa mengharap apa-apa. Bahkan anda merasa bahagia dengan kegilaan itu! Sampai cinta itu hilang dengan sendirinya, sampai anda tidak lagi berperan menjadi orang yang mencintai si dia. Semacam metahari—yang selalu terihat ceria—yang setiap detik menyinari bumi tanpa berfikir untuk kembali di sinari oleh bumi, sampai ditakdirkan untuk tidak lagi menyinari bumi.
Cinta memang misteri, kawan…!
Sangat senang rasanya, bilamana kita dicintai seseorang, namun lebih nikmat sekali bilamana kita mencintai seseorang dengan tulus. Sebab disitu kita merasakan cinta! Cinta bukanlah sekedar kata-kata yang indah diungkapkan! Tapi cinta adalah rasa yang amat nikmat bila kita rasakan dan kita aplikasikan! Maka sangat indah sekali apa yang diungkapkan al-Qur’an tentang hal cinta-mencintai ini; 
"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran: 31)
Kita perlu bertanya sedikit saja, kenapa diayat tadi tidak menyuruh kita untuk “katakanlah!” tapi “ikutlah!”. Sebab cinta bukanah kata-kata yang perlu diungkapkan dan belaian-belaian saja, tapi cinta itu rasa yang nikmat bila kita aplikasikan!
Sungguh nikmat sekali bilamana kita bisa mencintai dengan tulus! Belajar menjadi matahari yang selalu menyinari bumi tanpa berfikir bumi akan balik menyinarinya! Kita akan diajari bagaimana Tuhan mencintai kita—semua makhluknya—tanpa memerlukan cinta para makhluk Nya. Bukankah Nabi kita pernah menyuruh kita untuk berakhlak seperti akhak-Nya?
Bilamana itu yang terjadi pada kita, sungguh amat bahagialah kita! Tanpa ada kata-kata galau yang terucap dari hati kita meski si pujaan hati tidak balik mencintai kita. Namun hal ini amat sulit bagi kita (terutama penulis)—selagi masih berstatus manusia awam—yang tidak sadar akan cinta-Nya? Yang tidak merasakan cinta-Nya? Seperti para manusia-manusia salaf—yang mungkin sudah dianggap jadul—yang selalu berusaha mendapatkan ridha-Nya dan mencintai sesama dengan dasar mencintai-Nya. Coba kita bayangkan kisah Rabi’ah al-Adawiyah, Jaluddin el-Rumi, dan banyak lagi manusia-manusia pencari cinta sejati lainnya.
Maukah kita selamanya disebut manusia awam? Penulis memang bukan termasuk orang-orang hebat semacam orang-orang dulu (salaf), penulis masilah berstatus manusia awam yang berharap seperti orang-orang yang mencintai-Nya sehingga mencintai sesama ber-alas-kan (baca;berdasarkan) cinta Nya.
Maka kita hanya bisa berdo’a, mengharap-harap pada-Nya, “Duh, Gusti! Berialah saya rizki ‘cinta’ pada-Mu, cinta pada manusia yang mencintai-Mu dan cinta pada sesuatu yang membuat aku cinta pada-Mu. Dan jadikanlah cinta-Mu lebih besar dari cinta pada diriku dan air dingin.… اللهم ارزقني حبك وحب من أحبك وحب ما يقربني الى حبك وأجعل حبك أحب اليً من الماء البارد (do’a Nabi Muahammad).”
Pemberian Mu amatlah banyak, Tuhan 
Dan semua perbuatan Mu itu indah
Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]

Bangsal Sari, Jember
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
22.42

Belum ada komentar untuk "Belajar dari Mencintai"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  Agustus (7)
      • Kenapa dan Kenapa?
      • Kepingin Diam
      • Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!
      • Belajar dari Mencintai
      • (Tentang) Perempuan
      • Galau!
      • Baik dan Buruk
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Jumat, 08 Agustus 2014

Belajar dari Mencintai

"Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Kuingin kutahu
Engkau ada"
 
 (Dewi Lestari/ Dee; Aku Ada)

Hei…kawan! Mungkin anda pernah mendengar pertanyaan-pertanyaan tentang “mencintai dan dicintai”, bukan? Tidak jarang kita mendengar pertanyaan begini; enak mana sih, antara orang yang mencintai dengan orang yang dicintai?
Sepintas kita—sebagai anak muda yang normal—lebih cenderung ingin menjadi orang yang dicintai (meskipun tidak mencintai) dari pada menjadi orang yang mencintai (tapi tidak dicintai). Di sini penulis tidak membicarakan orang yang saling mencintai. “Hem…, siapa sih yang mau mencintai seseorang yang gak balik mencintai?!”
Ini dia, perkataan yang spontan. Tidak dipikir dalam-dalam! Seperti itu, benar tidak?
Pernahkah anda mencintai seseorang yang tidak balik mencintai anda? Atau anda malah dicintai seseorang yang tidak anda cintai? Atau bahkan lebih parahnya lagi—mungikin lebih enak kita sebut “aneh” dari pada parah—orang yang kita cintai itu mencintai orang lain. Bagaimanakah rasaaya?
Baik, mari kita muai dari perasaan ketika anda dicintai seseorang!
Bila anda renungkan sejenak, ketika anda dicintai seseorang tanpa anda balik mencintai. Hem…anda akan menikmati aplikasi dari cintanya si dia—orang yang menganggap anda si pujaan hatinya. Anda akan mendapatkan senyuman manis dari si dia, anda akan mendapatkan salam dari si dia, bahkan anda akan mendapatkan hadiah istimewa dari si dia. Anda akan menikmati itu semua dengan cuma-cuma! Namun, ingatlah, anda tidak akan pernah—selama anda tidak mencintai—menikmati nikmatnya cinta! Dan…tahukah anda? Lama-kelamaan anda akan menerima senyumannya yang manis akan terlihat biasa-biasa saja, mendengarkan salam dari dia biasa-biasa saja seperti angin lalu saja. Anda mendapatkan hadiah istimewa dari si dia juga akan nampak biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu yang luar biasa disitu! Semuanya terasa biasa-biasa saja, sebab anda tidak merasakan cintanya! Senang, namun sementara. Atau hanya perasaan bangga saja yang hinggap!
Namun, bagaimana bila kenyataannya adalah anda malah mencintai seseorang—meski ketika itu anda belum tahu dia balik mencintai anda atau tidak mencintai anda—wah…ketika anda (hanya) mendapatkan sebuah salam singkat dari (yang dianggap) si pujaan hati, maka perasaan anda sulit untuk anda gambarkan! Mungkin lebih enak anda akan mengungkapkan perasaan anda ketika itu dengan ungkapan “gimana gitu…!” Apalagi bila anda bertemu dan langsung bertatap muka dengan si dia. Wah…serasa dunia hanya milik anda, tiada orang lain! Semacam la nafi liljinsi yang bertemu langsung dengan isimnya, maka bisa meniadakan semua jenis (nafyu jami’i al-jinsy).
Namun sebaliknya, jikalau anda mendengar—atau (bahkan)—melihat si dia dengan orang lain (yang dicintainya) serasa hati anda dipukul dengan godam baja, menyakitkan sekali! Semacam kalimah isim yang sengaja dimasuki huruf jer, mau tak mau harus nge-jer! 
Cinta memang misteri, kawan…!
Lain ceritanya bila cinta anda adalah cinta yang tulus. Ketika itu anda akan memikirkan kebahagian si pujaan hati yang amat anda cintai tanpa memandang dia balik mencintai atau tidak—memang sudah seharusnya para pecinta sejati berfikir seperti itu! Sehingga anda merasakan kebahagiaannya, anda tidak lagi mengalami galau berat! Anda akan terus mencintainya meskipun tahu dia tidak mencintai anda. Anda akan terus memberikan bingkisan-bingkisan manis tanpa mengharap apa-apa. Bahkan anda merasa bahagia dengan kegilaan itu! Sampai cinta itu hilang dengan sendirinya, sampai anda tidak lagi berperan menjadi orang yang mencintai si dia. Semacam metahari—yang selalu terihat ceria—yang setiap detik menyinari bumi tanpa berfikir untuk kembali di sinari oleh bumi, sampai ditakdirkan untuk tidak lagi menyinari bumi.
Cinta memang misteri, kawan…!
Sangat senang rasanya, bilamana kita dicintai seseorang, namun lebih nikmat sekali bilamana kita mencintai seseorang dengan tulus. Sebab disitu kita merasakan cinta! Cinta bukanlah sekedar kata-kata yang indah diungkapkan! Tapi cinta adalah rasa yang amat nikmat bila kita rasakan dan kita aplikasikan! Maka sangat indah sekali apa yang diungkapkan al-Qur’an tentang hal cinta-mencintai ini; 
"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran: 31)
Kita perlu bertanya sedikit saja, kenapa diayat tadi tidak menyuruh kita untuk “katakanlah!” tapi “ikutlah!”. Sebab cinta bukanah kata-kata yang perlu diungkapkan dan belaian-belaian saja, tapi cinta itu rasa yang nikmat bila kita aplikasikan!
Sungguh nikmat sekali bilamana kita bisa mencintai dengan tulus! Belajar menjadi matahari yang selalu menyinari bumi tanpa berfikir bumi akan balik menyinarinya! Kita akan diajari bagaimana Tuhan mencintai kita—semua makhluknya—tanpa memerlukan cinta para makhluk Nya. Bukankah Nabi kita pernah menyuruh kita untuk berakhlak seperti akhak-Nya?
Bilamana itu yang terjadi pada kita, sungguh amat bahagialah kita! Tanpa ada kata-kata galau yang terucap dari hati kita meski si pujaan hati tidak balik mencintai kita. Namun hal ini amat sulit bagi kita (terutama penulis)—selagi masih berstatus manusia awam—yang tidak sadar akan cinta-Nya? Yang tidak merasakan cinta-Nya? Seperti para manusia-manusia salaf—yang mungkin sudah dianggap jadul—yang selalu berusaha mendapatkan ridha-Nya dan mencintai sesama dengan dasar mencintai-Nya. Coba kita bayangkan kisah Rabi’ah al-Adawiyah, Jaluddin el-Rumi, dan banyak lagi manusia-manusia pencari cinta sejati lainnya.
Maukah kita selamanya disebut manusia awam? Penulis memang bukan termasuk orang-orang hebat semacam orang-orang dulu (salaf), penulis masilah berstatus manusia awam yang berharap seperti orang-orang yang mencintai-Nya sehingga mencintai sesama ber-alas-kan (baca;berdasarkan) cinta Nya.
Maka kita hanya bisa berdo’a, mengharap-harap pada-Nya, “Duh, Gusti! Berialah saya rizki ‘cinta’ pada-Mu, cinta pada manusia yang mencintai-Mu dan cinta pada sesuatu yang membuat aku cinta pada-Mu. Dan jadikanlah cinta-Mu lebih besar dari cinta pada diriku dan air dingin.… اللهم ارزقني حبك وحب من أحبك وحب ما يقربني الى حبك وأجعل حبك أحب اليً من الماء البارد (do’a Nabi Muahammad).”
Pemberian Mu amatlah banyak, Tuhan 
Dan semua perbuatan Mu itu indah
Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]

Bangsal Sari, Jember
Diposting oleh Mas Zain di 22.42
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger