MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Sufisme » Teologi » Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!

Selasa, 12 Agustus 2014

Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!


"Sulit sekali bagiku untuk sekedar mengingat Mu meski aku ada di hadapan Mu
Apa karena aku tak merasa di hadapan Mu sehingga aku tak bisa mengingat Mu?
Oh, Tuan!
Bagaimana aku ini, Tuan?"



Sudah sering kali, kita dalam shalat membaca kalimat إنّى وجّهت وجهي للذي فطر السموات والارض حنفا مسلما seakan-akan kita berkata pada Tuhan “Tuhan... sungguh aku telah menghadapkan wajahku pada Mu!”
Ah, manis sekali! Bukankah orang yang shalat adalah orang yang berdialog intim dengan Tuhan-nya?[1]
Bila kamu bertanya; apakah ketika itu Tuhan juga menghadapkan “Wajah”[2] Nya padaku?
Ya, tentu saja, kawan! Tuhan begitu sayang dan selali memperhatikan kita—makhluk Nya. Bukankah Tuhan akan menghadapkan “Wajah” Nya pada hambanya selama ia tidak menoleh dalam shalatnya (HR. Tirmidzi & Hakim)? Bahkan semenjak seorang hamba itu berdiri untuk melaksanakan shalat Tuhan sudah menyambutnya dengan “Wajah” Nya!
Wah, romantis sekali! Seakan-akan kita—memang!—bersama kekasih! Berdua-duaan, duduk manis di taman. Berhadap-hadapan. Saling memandang; ia memandang aku dan aku memandangnya.
Romantis, bukan?
Begitu pula dengan shalat! Seharusnya begitu, kawan!
Namun apakah kita—terutama saya sendiri—telah menghadapkan wajah (hati) kita pada Nya? Apakah pikiran kita sibuk memikirkan Nya? Atau waktu itu (shalat) kita sedang sibuk memikirkan sandal; hilang apa gak ya? Apakah ketika itu kita memikirkan makan; nanti aku akan membeli nasi batagor! Atau malah kita sedang sibuk memikirkan pacar kita; ah, kau cantik sekali, sayang!
Bilamana bibir kita bergerak-gerak mengucapkan إنّى وجّهت وجهي للذي فطر السموات والارض حنفا مسلما waktu itu sedangkan kita (pikiran dan hati) terbayang sandal—mungkin karena baru beli?—atau sibuk memikirkan lainnya sedangkan kita ada di hadapannya—saling berhadap-hadapan, bahkan! Maka kita—meminjam bahasanya Imam al-Ghazali—termasuk orang yang membuka munajat dengan dengan bohong dan mengada-ada (membual saja)![3] Mungkin anak remaja—anak baru gede—menyebut kita dengan “lebay”! Ya, kita—terutama saya—termasuk orang-orang lebay, kawan!
Coba saja bayangkan; ketika kamu duduk berdua dengan kekasihmu yang melihatmu dengan pandangan cinta di taman bunga yang romantis. Lalu mulutmu berkata “Lihatlah, aku sedang melihat wajahmu, sayang!” padahal pada waktu itu kamu jelas-jelas sedang melihat ke arah lain. Atau malah melihat ponsel, sibuk sms-an dengan kekasih lain? Bagaimana dengan perasaan kekasih yang ada di hadapanmu ketika itu?
Marah!
...Putus!
......Kurang ajar!
.........Lebay!
............Keparat!   
Bagaimana dengan Tuhan Yang Maha Tahu dengan makhluk melebihi pengetahuan mekhluknya sendiri?
Ah, bohongnya kita!
...ah, lebay-nya kita!
......ah, kurang ajarnya kita!
Dan hal itu bukan terjadi sekali atau sesekali saja bagi kita. Bahkan, boleh jadi setiap kita shalat seperti itu? Tapi—lihatlah Dia!—Dia masih tetap memberi kita nafas dan makan setiap hari. Oh, Dia memang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, kawan!
Ternyata kita tak lebih dari seorang lebay kampungan yang merayu perempuan di taman kota! Lebih kurang ajar, bahkan!  
Oh, Tuan!
Aku sering lupa pada Mu
Bahkan pada waktu berdua di hadapan Mu pun aku 
melupakan Mu
Bagaimana aku ini, Tuan?

Sulit sekali bagiku untuk sekedar mengingat Mu 
meski aku ada di hadapan Mu
Apa karena aku tak merasa di hadapan Mu 
sehingga aku tak bisa mengingat Mu?
Oh, Tuan!
Bagaimana aku ini, Tuan?

Ternyata aku tak bisa merasa di hadapan Mu ketika ‘Kau ada di hadapanku
Oh, Tuan!
Bagaimana aku ini, Tuan?

Tuan...
Bolehkah ‘Kau buat aku merasa di hadapan Mu biar aku bisa mengingat Mu?
Semacam para kekasihmu itu, Tuan
Yang selalu mengingat Mu karena Mu
...untuk Mu
...dari Mu  

Semoga saja kita semua—terutama saya—mendapatkan hidayah dan taufiq Nya! Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam.[]


[1] Hadits dari Anas “المصلى يناجي ربه”.
[2] Kata majasi; bukan makna sebenarnya. Maksudnya adalah Dzat Nya Tuhan itu sendiri.
[3] Abu Hamid Al-Ghazali. 2008. Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn. Beirut: Darul Fikr, hal. 213.
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.03

Belum ada komentar untuk "Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  Agustus (7)
      • Kenapa dan Kenapa?
      • Kepingin Diam
      • Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!
      • Belajar dari Mencintai
      • (Tentang) Perempuan
      • Galau!
      • Baik dan Buruk
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Selasa, 12 Agustus 2014

Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!


"Sulit sekali bagiku untuk sekedar mengingat Mu meski aku ada di hadapan Mu
Apa karena aku tak merasa di hadapan Mu sehingga aku tak bisa mengingat Mu?
Oh, Tuan!
Bagaimana aku ini, Tuan?"



Sudah sering kali, kita dalam shalat membaca kalimat إنّى وجّهت وجهي للذي فطر السموات والارض حنفا مسلما seakan-akan kita berkata pada Tuhan “Tuhan... sungguh aku telah menghadapkan wajahku pada Mu!”
Ah, manis sekali! Bukankah orang yang shalat adalah orang yang berdialog intim dengan Tuhan-nya?[1]
Bila kamu bertanya; apakah ketika itu Tuhan juga menghadapkan “Wajah”[2] Nya padaku?
Ya, tentu saja, kawan! Tuhan begitu sayang dan selali memperhatikan kita—makhluk Nya. Bukankah Tuhan akan menghadapkan “Wajah” Nya pada hambanya selama ia tidak menoleh dalam shalatnya (HR. Tirmidzi & Hakim)? Bahkan semenjak seorang hamba itu berdiri untuk melaksanakan shalat Tuhan sudah menyambutnya dengan “Wajah” Nya!
Wah, romantis sekali! Seakan-akan kita—memang!—bersama kekasih! Berdua-duaan, duduk manis di taman. Berhadap-hadapan. Saling memandang; ia memandang aku dan aku memandangnya.
Romantis, bukan?
Begitu pula dengan shalat! Seharusnya begitu, kawan!
Namun apakah kita—terutama saya sendiri—telah menghadapkan wajah (hati) kita pada Nya? Apakah pikiran kita sibuk memikirkan Nya? Atau waktu itu (shalat) kita sedang sibuk memikirkan sandal; hilang apa gak ya? Apakah ketika itu kita memikirkan makan; nanti aku akan membeli nasi batagor! Atau malah kita sedang sibuk memikirkan pacar kita; ah, kau cantik sekali, sayang!
Bilamana bibir kita bergerak-gerak mengucapkan إنّى وجّهت وجهي للذي فطر السموات والارض حنفا مسلما waktu itu sedangkan kita (pikiran dan hati) terbayang sandal—mungkin karena baru beli?—atau sibuk memikirkan lainnya sedangkan kita ada di hadapannya—saling berhadap-hadapan, bahkan! Maka kita—meminjam bahasanya Imam al-Ghazali—termasuk orang yang membuka munajat dengan dengan bohong dan mengada-ada (membual saja)![3] Mungkin anak remaja—anak baru gede—menyebut kita dengan “lebay”! Ya, kita—terutama saya—termasuk orang-orang lebay, kawan!
Coba saja bayangkan; ketika kamu duduk berdua dengan kekasihmu yang melihatmu dengan pandangan cinta di taman bunga yang romantis. Lalu mulutmu berkata “Lihatlah, aku sedang melihat wajahmu, sayang!” padahal pada waktu itu kamu jelas-jelas sedang melihat ke arah lain. Atau malah melihat ponsel, sibuk sms-an dengan kekasih lain? Bagaimana dengan perasaan kekasih yang ada di hadapanmu ketika itu?
Marah!
...Putus!
......Kurang ajar!
.........Lebay!
............Keparat!   
Bagaimana dengan Tuhan Yang Maha Tahu dengan makhluk melebihi pengetahuan mekhluknya sendiri?
Ah, bohongnya kita!
...ah, lebay-nya kita!
......ah, kurang ajarnya kita!
Dan hal itu bukan terjadi sekali atau sesekali saja bagi kita. Bahkan, boleh jadi setiap kita shalat seperti itu? Tapi—lihatlah Dia!—Dia masih tetap memberi kita nafas dan makan setiap hari. Oh, Dia memang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, kawan!
Ternyata kita tak lebih dari seorang lebay kampungan yang merayu perempuan di taman kota! Lebih kurang ajar, bahkan!  
Oh, Tuan!
Aku sering lupa pada Mu
Bahkan pada waktu berdua di hadapan Mu pun aku 
melupakan Mu
Bagaimana aku ini, Tuan?

Sulit sekali bagiku untuk sekedar mengingat Mu 
meski aku ada di hadapan Mu
Apa karena aku tak merasa di hadapan Mu 
sehingga aku tak bisa mengingat Mu?
Oh, Tuan!
Bagaimana aku ini, Tuan?

Ternyata aku tak bisa merasa di hadapan Mu ketika ‘Kau ada di hadapanku
Oh, Tuan!
Bagaimana aku ini, Tuan?

Tuan...
Bolehkah ‘Kau buat aku merasa di hadapan Mu biar aku bisa mengingat Mu?
Semacam para kekasihmu itu, Tuan
Yang selalu mengingat Mu karena Mu
...untuk Mu
...dari Mu  

Semoga saja kita semua—terutama saya—mendapatkan hidayah dan taufiq Nya! Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam.[]


[1] Hadits dari Anas “المصلى يناجي ربه”.
[2] Kata majasi; bukan makna sebenarnya. Maksudnya adalah Dzat Nya Tuhan itu sendiri.
[3] Abu Hamid Al-Ghazali. 2008. Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn. Beirut: Darul Fikr, hal. 213.
Diposting oleh Mas Zain di 20.03
Label: Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger