MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Sosial » (Tentang) Perempuan

Kamis, 07 Agustus 2014

(Tentang) Perempuan

"Ada mubtada' maka ada khabar. Khabar ada karena ada mubtada'. Namun mubtada' membutuhkan khabar untuk melengkapi maknanya."




p
erempuan adalah makhluk Tuhan terkuat daya pesonanya. Tapi (anehnya) juga sering dipandang sebelah mata, sering di remehkan (di permainkan), dan sering di lecehkan pula! Masih begitu banyak orang-orang yang memandang perempuan dengan mata satu. Entah kenapa sebabnya? Mungkinkah mereka hanya punya satu mata? Ataukah karena begitu berpengaruhnya karya-karya tentang keunggulan makhluk berjenis laki-laki atas perempuan? Sehingga melupakan kehebatan dan kelebihan seorang perempuan? Juga ketangguhan ibunya dalam ibunya dalam mengandung, melahirkan, dan merawatnya?
Sebuah keterpurukan!
Pernahkah anda—laki-laki—“naksir” pada  seorang perempuan? Ah, pasti pernah bukan? Pada waktu itu di dalam perasaan anda, ada rasa dan keinginan untuk menundukkan perempuan yang anda sukai agar menjadi milik anda. Maka ketika itulah anda sebenarnya telah dikalahkan oleh seorang perempuan. Buktinya, pikiran anda ketika itu kacau—terkabuti oleh bayang-bayang perempuan tersebut. Pikiran anda seolah-olah kapten kapal yang kebingungan karena laut telah tertutupi oleh kabut! Anda telah terhipnotis oleh pesona perempuan! Semacam besi yang ada dikawasan gaya magnetis! Maka akan sangat mudah anda melakukan hal-hal yang (di pandang) bodoh—hanya demi perempuan tersebut—yang belum pernah anda lakukan sebelumnya. Misalnya, anda memberi bingkisan pada perempuan itu—seakan tanpa sebab—tanpa mempedulikan dia merespon atau tidak. Bahkan lebih gilanya lagi, anda memberinya tanpa ada alamat “pengirim”—mungkin anda berpikir yang penting mengirimkan “sesuatu” pada sang pujaan. Tidak salah apabila ada yang berkata “seseuatu kegilaan yang pernah aku lakukan dengan sadar adalah sebab perempuan!”  Penulis amat mengakui hal itu! Mengakukah anda dengan hal itu?
Tahukah anda?
Pesona seorang perempuan mampu mengalahkan pesona seorang laki-laki. Nyata! Buktinya, model-model iklan—yang bermodel—di media massa mayoritas diperankan oleh kaum hawa. Pernahkah anda bertanya-tanya atau berpikir, kenapa fenomena itu bisa terjadi? Pikirkan dan jawablah sendiri!
Bagi penulis, laki-laki adalah mubtada’ dan perempuan adalah khabarnya. Laki-laki dan perempuan; mubtada’ dan khabar adalah sejoli yang muthabiq (serasi/harmoni). Ada mubtada’ pasti ada khabar. Mubtada’ pasti membutuhkan khabar dan khabar tidaklah ada apabila mubtada’ tidak ada. Memang ada istilah “mubtada’ lahu marfu’un sadda musadda al-khabar, mubtada’ yang memiliki isim marfu’ yang menempati tempatnya khabar—sebagai penggantinya khabar” yang mana mubtada’ tersebut sudah tidak lagi membutuhkan khabar sebagai pelengkap dan pasangannya. Namun, anda tahu? Mubtada’ semacam itu bukanlah mubtada’ yang benar-benar mubtada’, alias mubtada’ yang terkena penyakit;di dahului istifham atau nafi dan berbentuk isim sifat. Seperti laki-laki yang tidak laki-laki. Tentu saja hal itu tidak normal meskipun sudah biasa. Apakah anda mau seperti itu? Penulis sih tidak mau.

Di dalam kisah Jawa, ada Diah Belitung yang membangun kemegahan candi Prambanan, ada Dewi Sekartaji yang menyatukan dua kerajaan, ada Ken Dedes yang melahirkan kisah para raja besar Nusantara. Sudah masyhur cerita-cerita tersebut—terutama kisah Ken Dedes yang berhasil menarik perhatian Ken Arok—padahal dia sudah bersuami—sehingga terjadi pembunuhan. Sebenarnya masih banyak kisah lokal tentang pesona dan kehebatan perempuan yang masih belum kita ketahui.

Dalam kisah-kisah Islam juga banyak tokoh-tokoh perempuan yang berpengaruh. Sebut saja Siti Hawa yang berhasil menemani dan mengusir kegundahan Nabi Adam serta menciptakan kisah perselisihan sesama manusia pertama kali, antara Qabil dan Habil. Ada Sarah, yang setianya melukis cinta Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Ada Siti Khatijah, yang menjadi tameng bagi Nabi Muhammad untuk menangkis hujatan dan serangan dari kaum Quraisy. Dan banyak sekali yang lainnya—yang belum kita ketahui. Mungkin juga—di masa kini—ketabahan dan kesabaran para Nyai yang menjadi tokoh di balik layar bagi para Kiai. Ya! penulis termasuk pengagum beliau-beliau itu yang mampu bersabar—sesabar-sabarnya—(bahkan) melebihi kaum laki-laki. Bukankah kesabaran perempuan—yang (terkadang) terefleksi ke wajahnya—adalah salah satu faktor para laki-laki tertarik untuk mempersuntingnya? 
Maka seharusnya anda jangan teruskan sikap “menyepelekan” dan “meremehkan” pada seorang perempuan hanya disebabkan anda berfikir, laki-laki lebih unggul atas kaum perempuan. Sesuatu yang amat tidak bijak! Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
22.05

Belum ada komentar untuk "(Tentang) Perempuan"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  Agustus (7)
      • Kenapa dan Kenapa?
      • Kepingin Diam
      • Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!
      • Belajar dari Mencintai
      • (Tentang) Perempuan
      • Galau!
      • Baik dan Buruk
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Kamis, 07 Agustus 2014

(Tentang) Perempuan

"Ada mubtada' maka ada khabar. Khabar ada karena ada mubtada'. Namun mubtada' membutuhkan khabar untuk melengkapi maknanya."




p
erempuan adalah makhluk Tuhan terkuat daya pesonanya. Tapi (anehnya) juga sering dipandang sebelah mata, sering di remehkan (di permainkan), dan sering di lecehkan pula! Masih begitu banyak orang-orang yang memandang perempuan dengan mata satu. Entah kenapa sebabnya? Mungkinkah mereka hanya punya satu mata? Ataukah karena begitu berpengaruhnya karya-karya tentang keunggulan makhluk berjenis laki-laki atas perempuan? Sehingga melupakan kehebatan dan kelebihan seorang perempuan? Juga ketangguhan ibunya dalam ibunya dalam mengandung, melahirkan, dan merawatnya?
Sebuah keterpurukan!
Pernahkah anda—laki-laki—“naksir” pada  seorang perempuan? Ah, pasti pernah bukan? Pada waktu itu di dalam perasaan anda, ada rasa dan keinginan untuk menundukkan perempuan yang anda sukai agar menjadi milik anda. Maka ketika itulah anda sebenarnya telah dikalahkan oleh seorang perempuan. Buktinya, pikiran anda ketika itu kacau—terkabuti oleh bayang-bayang perempuan tersebut. Pikiran anda seolah-olah kapten kapal yang kebingungan karena laut telah tertutupi oleh kabut! Anda telah terhipnotis oleh pesona perempuan! Semacam besi yang ada dikawasan gaya magnetis! Maka akan sangat mudah anda melakukan hal-hal yang (di pandang) bodoh—hanya demi perempuan tersebut—yang belum pernah anda lakukan sebelumnya. Misalnya, anda memberi bingkisan pada perempuan itu—seakan tanpa sebab—tanpa mempedulikan dia merespon atau tidak. Bahkan lebih gilanya lagi, anda memberinya tanpa ada alamat “pengirim”—mungkin anda berpikir yang penting mengirimkan “sesuatu” pada sang pujaan. Tidak salah apabila ada yang berkata “seseuatu kegilaan yang pernah aku lakukan dengan sadar adalah sebab perempuan!”  Penulis amat mengakui hal itu! Mengakukah anda dengan hal itu?
Tahukah anda?
Pesona seorang perempuan mampu mengalahkan pesona seorang laki-laki. Nyata! Buktinya, model-model iklan—yang bermodel—di media massa mayoritas diperankan oleh kaum hawa. Pernahkah anda bertanya-tanya atau berpikir, kenapa fenomena itu bisa terjadi? Pikirkan dan jawablah sendiri!
Bagi penulis, laki-laki adalah mubtada’ dan perempuan adalah khabarnya. Laki-laki dan perempuan; mubtada’ dan khabar adalah sejoli yang muthabiq (serasi/harmoni). Ada mubtada’ pasti ada khabar. Mubtada’ pasti membutuhkan khabar dan khabar tidaklah ada apabila mubtada’ tidak ada. Memang ada istilah “mubtada’ lahu marfu’un sadda musadda al-khabar, mubtada’ yang memiliki isim marfu’ yang menempati tempatnya khabar—sebagai penggantinya khabar” yang mana mubtada’ tersebut sudah tidak lagi membutuhkan khabar sebagai pelengkap dan pasangannya. Namun, anda tahu? Mubtada’ semacam itu bukanlah mubtada’ yang benar-benar mubtada’, alias mubtada’ yang terkena penyakit;di dahului istifham atau nafi dan berbentuk isim sifat. Seperti laki-laki yang tidak laki-laki. Tentu saja hal itu tidak normal meskipun sudah biasa. Apakah anda mau seperti itu? Penulis sih tidak mau.

Di dalam kisah Jawa, ada Diah Belitung yang membangun kemegahan candi Prambanan, ada Dewi Sekartaji yang menyatukan dua kerajaan, ada Ken Dedes yang melahirkan kisah para raja besar Nusantara. Sudah masyhur cerita-cerita tersebut—terutama kisah Ken Dedes yang berhasil menarik perhatian Ken Arok—padahal dia sudah bersuami—sehingga terjadi pembunuhan. Sebenarnya masih banyak kisah lokal tentang pesona dan kehebatan perempuan yang masih belum kita ketahui.

Dalam kisah-kisah Islam juga banyak tokoh-tokoh perempuan yang berpengaruh. Sebut saja Siti Hawa yang berhasil menemani dan mengusir kegundahan Nabi Adam serta menciptakan kisah perselisihan sesama manusia pertama kali, antara Qabil dan Habil. Ada Sarah, yang setianya melukis cinta Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Ada Siti Khatijah, yang menjadi tameng bagi Nabi Muhammad untuk menangkis hujatan dan serangan dari kaum Quraisy. Dan banyak sekali yang lainnya—yang belum kita ketahui. Mungkin juga—di masa kini—ketabahan dan kesabaran para Nyai yang menjadi tokoh di balik layar bagi para Kiai. Ya! penulis termasuk pengagum beliau-beliau itu yang mampu bersabar—sesabar-sabarnya—(bahkan) melebihi kaum laki-laki. Bukankah kesabaran perempuan—yang (terkadang) terefleksi ke wajahnya—adalah salah satu faktor para laki-laki tertarik untuk mempersuntingnya? 
Maka seharusnya anda jangan teruskan sikap “menyepelekan” dan “meremehkan” pada seorang perempuan hanya disebabkan anda berfikir, laki-laki lebih unggul atas kaum perempuan. Sesuatu yang amat tidak bijak! Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]
Diposting oleh Mas Zain di 22.05
Label: Sosial
Lokasi: Rembang, Pasuruan, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger