MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Sufisme » Galau!

Kamis, 07 Agustus 2014

Galau!




 "Heran aku.
Kenapa kesunyian terasa terus membuntuti hatiku?
Terasa lembut mengalir semacam air jernih.
Bahkan akan merindukan kesunyian bila keramaian datang menyerbu telinga."
 



Pernahkah anda “diputisin”—atau ditinggal pergi—oleh orang yang anda cintai? Bila anda masih mengaku manusia, pastinya anda akan menjawab, pernah dong! Bagaimanakah rasanya? Wah, rasa-rasanya tak cukup untuk digambarkan, kawan! Ya, kebanyakan orang jaman sekarang—terutama dari kalangan muda-mudi—akan mengungkapkannya dengan istilah “galau”!
Ada yang bilang, keadaan seperti itu dengan gambaran; sepi; sunyi. Ya, perasaan kita waktu itu akan terasa sunyi-senyap, kawan! Coba saja, bila anda dalam suasana galau, anda lebih senang sendirian menyendiri di pojok, mendengarkan lagu sendu—kalau tidak mau dikatakan lagu cengeng!—atau menonton film drama dramatis semacam Titanic. Benar, bukan?
Bilamana anda mencari di kamus Bahasa Indonesia, kata “galau” akan diartikan dengan sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Arti yang terahir inilah yang penulis maksud. Dalam bahasa psikologi kegalauan, di istilahkan dengan “kecemasan” yang ditengarai dengan adanya kegelisahan, kekecewaan, dll.
Baiklah, mari kita renungi masalah ini!
Bila kita merenungi—merasakan—sebenarnya setiap hari hati kita (seakan) dibuntuti kesunyian. Terasa lembut mengalir semacam air jernih. Bahkan akan merindukan kesunyian bila keramaian datang menyerbu telinga. Hal inilah menyebabkan kegalauan—atau kecemasan—kita menganga seperti luka yang belum kering disiram dengan air garam! Bisa jadi, kita diuntit oleh kegalauan setiap hari, setiap saat seperti bayangan yang selalu mengikuti tubuh kita. Bahkan filosof asal Negara Jerman, Nietzsche, pernah mengatakan kalau kesunyian adalah rumahnya. Dan filosof Muslim, Muhammad Iqbal menyimpulkan bahwa kesunyian adalah keadaan dasar jiwa manusia. Itu berarti kegalauan yang terjadi pada kita—manusia—sebenarnya bukan cuma kita alami ketika di kita di “putusin” cinta! Aneh sekali! Ada apa dengan kegalauan, kok berani-beraninya mengikuti kita setiap saat?
Bayangkan, ketika kita dalam keadaan sendirian di tinggal pulang oleh teman-teman—biasanya ketika malam telah larut—bagaimanakah rasanya? Sepi, kawan! Sepi-sunyi seperti terasing di tengah-tengah luasnya lautan sendiri! Sepi-sunyi seperti terasing di tengah-tengah gersangnya padang pasir sendirian! Bila kita jujur, kita akan merasakan cemas di situ. Di saat-saat seperti itulah jiwa kita terasa ada yang kurang. Seperti ada yang hilang—entah apa itu? Seakan-akan kita sedang merindukan sesuatu—entah apa itu?
Penulis jadi curiga; apa memang benar kita sedang mencari sesuatu? Kita sedang merindukan sesuatu? Bila jawabannya memang benar; kita mencari sesuatu dan sedang merindukannya, berarti kita sebenarnya telah mencintai—sampai saat ini—sesuatu dan pernah bersama sesuatu itu seakan-akan kita sedang berpisah dengan sesuatu saja!
Bingung ya? Ah, penulis sebenarnya juga belum mengerti betul, kenapa kesimpulannya begitu? Memang benar-benar membingungkan, kawan!
Mari kita liahat apa kata ahli psikoanalisis (salah satu teori psikologi kepribadian  yang dikenalkan Sigmound Froud) dan filosof keturunan Yahudi, Erich Fromm pernah menulis dalam “The Art of Love” bahwa, “Pengalaman keterpisahan; itulah sesungguhnya yang menjadi
sumber dari segala kegelisahan.” Apabila, apa yang dikatakan fiosof keturunan Yahudi itu benar, maka kegelisahan—atau kita lebih sering menyebutnya galau—disebabkan oleh rasa keterpisahan yang telah kita sadari.
Jauh sebelum Fromm mengungkapkan konsepnya tentang perpisahan, seorang penyair sufi, Jalaluddin Rumi pernah mengungkapkan tentang konsep perpisahan dalam syairnya:
“Dengarkan bagaimana alang-alang membawakan sebuah dongeng mengeluhkan tentang perpisahan
Mengatakan. ‘sejak aku dipisahkan dari rumpun alang-alang ratapanku membuat laki-laki dan perempuan merintih.’”
Ungkapan itu sama dengan apa yang pernah juga di syairkan oleh Bapak dokter, filosof, dan psikolog, Ibnu Sinna:
“Ia menangis mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mata mencucurkan air mata, deras tiada henti.”
Maka, benar saja para Sufi menyebut dunia ini sebagai penjara yang penuh dengan kekotoran. Benar saja bila hati manusia menjadi tentram bila menyebut—atau mengingat nama Allah (QS: ar-Ra’d. 28). Benar saja bila para Ulama’ mengatakan bahwa, paling lezatnya sesuatu itu melihat Allah (el-Ghazel). Benar saja bila Kanjeng Nabi kita enggan mau turun lagi ke dunia ini ketika telah sampai di hadapan Gusti Allah dalam perjalnan Mi’raj-nya. Benar saja hati manusia—bila mau jujur—selalu di naungi kegalauan yang sebenarnya itu adalah gejala rindu—karena keterpisahan—akan Sesuatu Yang Masih Maha Misteri!
Oleh karena itu, dengarkanlah kegalauan dalam sunyi ketika berbicara padamu. Biarkan dia melukis rindu yang ada. Sebab manusia yang belum bisa merasakan kesunyian, belumlah sadar akan keterpisahannya sendiri. Dan biarkan ia menyenandungkan lagu syahdu;
“Ada, tiada rasa dalam jiwa
Rindu akan memanggilmu
Karena setiap jiwa telah bersama
Setia hanyalah kepada Mu
…….”
(Opik: Ketika Cinta Memanggil)

Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
21.26

Belum ada komentar untuk "Galau!"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  Agustus (7)
      • Kenapa dan Kenapa?
      • Kepingin Diam
      • Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!
      • Belajar dari Mencintai
      • (Tentang) Perempuan
      • Galau!
      • Baik dan Buruk
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Kamis, 07 Agustus 2014

Galau!




 "Heran aku.
Kenapa kesunyian terasa terus membuntuti hatiku?
Terasa lembut mengalir semacam air jernih.
Bahkan akan merindukan kesunyian bila keramaian datang menyerbu telinga."
 



Pernahkah anda “diputisin”—atau ditinggal pergi—oleh orang yang anda cintai? Bila anda masih mengaku manusia, pastinya anda akan menjawab, pernah dong! Bagaimanakah rasanya? Wah, rasa-rasanya tak cukup untuk digambarkan, kawan! Ya, kebanyakan orang jaman sekarang—terutama dari kalangan muda-mudi—akan mengungkapkannya dengan istilah “galau”!
Ada yang bilang, keadaan seperti itu dengan gambaran; sepi; sunyi. Ya, perasaan kita waktu itu akan terasa sunyi-senyap, kawan! Coba saja, bila anda dalam suasana galau, anda lebih senang sendirian menyendiri di pojok, mendengarkan lagu sendu—kalau tidak mau dikatakan lagu cengeng!—atau menonton film drama dramatis semacam Titanic. Benar, bukan?
Bilamana anda mencari di kamus Bahasa Indonesia, kata “galau” akan diartikan dengan sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Arti yang terahir inilah yang penulis maksud. Dalam bahasa psikologi kegalauan, di istilahkan dengan “kecemasan” yang ditengarai dengan adanya kegelisahan, kekecewaan, dll.
Baiklah, mari kita renungi masalah ini!
Bila kita merenungi—merasakan—sebenarnya setiap hari hati kita (seakan) dibuntuti kesunyian. Terasa lembut mengalir semacam air jernih. Bahkan akan merindukan kesunyian bila keramaian datang menyerbu telinga. Hal inilah menyebabkan kegalauan—atau kecemasan—kita menganga seperti luka yang belum kering disiram dengan air garam! Bisa jadi, kita diuntit oleh kegalauan setiap hari, setiap saat seperti bayangan yang selalu mengikuti tubuh kita. Bahkan filosof asal Negara Jerman, Nietzsche, pernah mengatakan kalau kesunyian adalah rumahnya. Dan filosof Muslim, Muhammad Iqbal menyimpulkan bahwa kesunyian adalah keadaan dasar jiwa manusia. Itu berarti kegalauan yang terjadi pada kita—manusia—sebenarnya bukan cuma kita alami ketika di kita di “putusin” cinta! Aneh sekali! Ada apa dengan kegalauan, kok berani-beraninya mengikuti kita setiap saat?
Bayangkan, ketika kita dalam keadaan sendirian di tinggal pulang oleh teman-teman—biasanya ketika malam telah larut—bagaimanakah rasanya? Sepi, kawan! Sepi-sunyi seperti terasing di tengah-tengah luasnya lautan sendiri! Sepi-sunyi seperti terasing di tengah-tengah gersangnya padang pasir sendirian! Bila kita jujur, kita akan merasakan cemas di situ. Di saat-saat seperti itulah jiwa kita terasa ada yang kurang. Seperti ada yang hilang—entah apa itu? Seakan-akan kita sedang merindukan sesuatu—entah apa itu?
Penulis jadi curiga; apa memang benar kita sedang mencari sesuatu? Kita sedang merindukan sesuatu? Bila jawabannya memang benar; kita mencari sesuatu dan sedang merindukannya, berarti kita sebenarnya telah mencintai—sampai saat ini—sesuatu dan pernah bersama sesuatu itu seakan-akan kita sedang berpisah dengan sesuatu saja!
Bingung ya? Ah, penulis sebenarnya juga belum mengerti betul, kenapa kesimpulannya begitu? Memang benar-benar membingungkan, kawan!
Mari kita liahat apa kata ahli psikoanalisis (salah satu teori psikologi kepribadian  yang dikenalkan Sigmound Froud) dan filosof keturunan Yahudi, Erich Fromm pernah menulis dalam “The Art of Love” bahwa, “Pengalaman keterpisahan; itulah sesungguhnya yang menjadi
sumber dari segala kegelisahan.” Apabila, apa yang dikatakan fiosof keturunan Yahudi itu benar, maka kegelisahan—atau kita lebih sering menyebutnya galau—disebabkan oleh rasa keterpisahan yang telah kita sadari.
Jauh sebelum Fromm mengungkapkan konsepnya tentang perpisahan, seorang penyair sufi, Jalaluddin Rumi pernah mengungkapkan tentang konsep perpisahan dalam syairnya:
“Dengarkan bagaimana alang-alang membawakan sebuah dongeng mengeluhkan tentang perpisahan
Mengatakan. ‘sejak aku dipisahkan dari rumpun alang-alang ratapanku membuat laki-laki dan perempuan merintih.’”
Ungkapan itu sama dengan apa yang pernah juga di syairkan oleh Bapak dokter, filosof, dan psikolog, Ibnu Sinna:
“Ia menangis mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mata mencucurkan air mata, deras tiada henti.”
Maka, benar saja para Sufi menyebut dunia ini sebagai penjara yang penuh dengan kekotoran. Benar saja bila hati manusia menjadi tentram bila menyebut—atau mengingat nama Allah (QS: ar-Ra’d. 28). Benar saja bila para Ulama’ mengatakan bahwa, paling lezatnya sesuatu itu melihat Allah (el-Ghazel). Benar saja bila Kanjeng Nabi kita enggan mau turun lagi ke dunia ini ketika telah sampai di hadapan Gusti Allah dalam perjalnan Mi’raj-nya. Benar saja hati manusia—bila mau jujur—selalu di naungi kegalauan yang sebenarnya itu adalah gejala rindu—karena keterpisahan—akan Sesuatu Yang Masih Maha Misteri!
Oleh karena itu, dengarkanlah kegalauan dalam sunyi ketika berbicara padamu. Biarkan dia melukis rindu yang ada. Sebab manusia yang belum bisa merasakan kesunyian, belumlah sadar akan keterpisahannya sendiri. Dan biarkan ia menyenandungkan lagu syahdu;
“Ada, tiada rasa dalam jiwa
Rindu akan memanggilmu
Karena setiap jiwa telah bersama
Setia hanyalah kepada Mu
…….”
(Opik: Ketika Cinta Memanggil)

Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]
Diposting oleh Mas Zain di 21.26
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme
Lokasi: Rembang, Pasuruan, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger