MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Filsafat » Psikologi » Sufisme » Teologi » Kepingin Diam

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kepingin Diam



“Oh, Tuan!
Biarkan Kau tulis aku
laksana lafad ‘yakûnu’
yang dimasuki ‘âmil ‘lam’ jâzem
....lam yakûn!
Sukun!

Diam!”





d
iam. Pernahkah kalian diam sejenak untuk sekedar memberikan kesempatan bernafas pada pikiranmu? Sudah mafhum tingkah laku manusia bilamana sudah sadar bahwa dirinya merasa mendapatkan beban permasalahan didadanya yang sulit diterimanya sehingga—bila penulis tak berlebihan—sulit bernafas. Contoh gampangnya saja—bila kamu masih disebut anak muda—ketika patah hati; kekasihmu memintamu sudahan, selingkuh, atau dinikahkan pada orang lain. Atau—bila kamu sudah tak bisa dibilang muda—ketika kamu difitnah. Ah, betapa sakitnya perasaan kita. Sekujur tubuh rasa-rasanya lemas semua. Bila penulis tidak berlebihan, ketika itu juga rasa-rasanya dunia mendung; mungkin mau runtuh detik-detik itu juga! Waktu-waktu itulah—ketika dihinggapi masalah yang sulit kita terima—kita maunya diam ditengah kesendirian. Hanya itulah, kawan!
Ya, terkadang kita—sebagai manusia yang normal—memerlukan diam seperti pemuda kasmaran yang sedang rindu pada kekasihnya. Lho, kok begitu? Ya, begitu kok! Sebab manusia—sebagai individu—terkadang memerlukan waktu untuk loading seperti halnya mengakses jaringan internet dari computer anda untuk menerima data. Bisa jadi—dalam proses diam itulah—manusia akan menerjemahkan, memaknai, dan menulisnya benar-benar secapat mungkin di dalam hati apa-apa yang terjadi semacam para santri memaknai kitab kuning. Ya, kita manusia biasa yang—sebagai pemula—membutuhkan proses untuk memaknai hidup yang terkesan rumit ini. Entahlah, apakah memang benar rumit adanya atau hanya kita saja yang belum memahami betul tentang hidup ini? Semacam santri pemula yang perlu memaknai kitabnya di surau atau mencarinya dikamus seadanya. Satu per satu sampai lengkap satu kalâm pembahasan!
Ketika diam sendiri apakah yang kalian rasakan? Bisa jadi, pada awalnya adalah gelisah. Gelisah tidak melihat siapa pun disitu. Kita merasa terasing, kawan! Sampai kamu akan  melihat runtutan peristiwa itu. Melihat orang-orang yang terlibat; termassuk dirimu sendiri! Ya, kamu melihat dirimu disana, kawan. Cobalah lebih dekat…dan lebih dekat dengan dirimu. Terkadang kita perlu lebih akrab dengan diri kita untuk memahami dan tahu siapa kita. Kenalanlah! Kamu akan melakukan adegan dialog dengan dirimu. Minimal, kamu akan mampu mengendalikan diri dari pengaruh pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya ketika diam sehingga mendapatkan keadaan yang damai.
Dr. Haidar baqir dalam bukunya—mengutip pendapatnya Mihaly Csikszentmihalyi, psikolog yang memplopori psikologi positif—memberi nama keadaan yang di dalamnya orang merasakan kebahagiaan sebagai “flow”. Flow adalah suatu keadaan pikiran yang di dalamnya kesadaran manusia berada dalam keadaan teratur dan selaras. Dan keadaan seperti ini biasa dicapai lewat pengendalian diri dan pengendalian hidup (h. 59).
Maka janganlah heran bila banyak tokoh, psikolog, dan ilmuwan menyebut bahwa berbagai cara meditasi Timur, termasuk yoga, dan berbagai praktik dalam Buddhisme dan Taoisme, tak terkecuali juga tasawuf, telah dipakai—dan terbukti memiliki keberhasilan—untuk mencapai keadaan ketika pelakunya mampu mengendalikan diri dari pengaruh pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya.
Namun dalam shalat—atau sembahyang dalam bahasa masyarakat kampung—terdapat
satu rukun yang namanya “thuma’nînah”. Bila dilihat dari asal katanya, thuma’nînah ini berasal dari asal kata yang sama dengan “al-nafs al-muthma’innah”. Ada apa dengan keduanya? Apakah ada hubungan sepesial seperti kamu dengan pacarmu? Mari kita lihat ayat al-Qur’an:
“Wahai jiwa yang tenang (muthma’innah). Pulanglah kamu kepada Rabbmu dalam keadaan kamu rela dan Tuhan rela kepadamu. Maka masuklah kamu ke golongan hamba-hamba-Ku. Dan, masuklah kamu ke surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)

Sayyid Quthb—semoga Tuhan memberi manfaat dengan barakah ilmunya kepada kita—mengomentari ayat tersebut dalam Kitab Tafsirnya, “Ayat-ayat tersebut mencurahkan nuansa keamanan, keridhaan, kepuasan, dan ketenangan. Irama musikalnya yang landai dan teduh sekitar pemandangan itu mengesankan kasih sayang, kedekatan dan ketenangan.” (Tafsîr fî Zhilâl al-Qur'an) Hal itu menandakan bahwa ketika diam—atau thuma’nînah—kalian disana seakan-akan memang kita diajari untuk merasakan rasa aman, rela (menerima apa yang telah terjadi), sehingga timbullah rasa puas dan tenang. Ya, ketika diam—sudah penulis katakan—sedang kita mencoba memaknai satu per satu apa yang telah terjadi dan sedang terjadi. Setelah makna itu sampai pada kalâm terahir yang melengkapi pemahaman kita barulah kita mengerti sehingga suaramu terdengar; ternyata hidup ini tak rumit! Aku adalah milik Nya. Tentunya Dia pasti—wajib secara akal—mengetahui diriku dari awal sampai ahirku, bukankah Dia memang Maha Tahu seperti yang dikatakan guru-guru ku? Dan tentu saja, Dia berhak melakukan apa saja kepadaku. Apa pun itu!
Ketika sudah begitu timbullah rasa menerima dengan sesuatu yang amat sulit ditelan perasaan kita dan mencoba membiarkan diri kita luruh. Luruh—bila penulis meminjam bahasanya Tere Liye—seperti sehelai daun. Daun jatuh yang tak pernah membenci angin meski terenggut dari tangkai pohonnya. Bukankah awan di lingkunganmu juga begitu; luruh menjadi rintik hujan, jatuh ke sungai, mengalir ke laut, terus menguap ke langit dan menjadi awan lagi? Bukankah setitik hujan tak pernah bertanya, kenapa mereka harus meninggalkan tata langit saat membasuh bukit? (Laras Hati) Sehingga secara otomatis akan membuat kamu kembali ringan.
Bukankah Islam itu memang tunduk patuh; luruh menyerah pada Nya?
Ayat tersebut (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)—masih menurut Sayyid Quthb—juga mengisyaratkan kepada kita tentang puncak perjalanan jiwa kita sebagai manusia kembali kepada asalnya. “Kembaliah kepada sumber asalmu setelah kamu terasing dari bumi dan terlepas dari buaian. Kembalilah kepada Tuhanmu, karena antara kamu dan Dia terdapat hubungan, saling mengenal dan jalinan….dengan keteduhan yang melimpah, yang memenuhi seluruh angkasanya dengan kelemah lembutan.” (Tafsîr fî Zhilâl al-Qur'an)
Ya, kembali kepada Nya. Belajar mati sebelum mati.[1] Membunuh diri (hawa nafsu/ego) sendiri. Mematikan hasrat yang selalu menggebu-gebu. Belajar tidur lelap dalam jaga. Mengembalikan segala urusan yang datang dari Nya kepada Nya; Tawakkal. Sebab…Innâ lil-Lâh wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya, kita hanyalah milik Allah dan kepada Allah jualah kita kembali).
Bukankah Islam itu memang tunduk patuh; luruh menyerah pada Nya?
Ya, Semoga saja kita—terutama penulis—mampu diam memaknai apa yang terjadi semacam memaknai kitab disurau sehingga mampu thuma’nîna; menjadi jiwa muthma’innah; tidur dalam jaga; mati sebelum mati. Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]


[1] Mûtû qabla al-mûtû!
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.25

Belum ada komentar untuk "Kepingin Diam"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  Agustus (7)
      • Kenapa dan Kenapa?
      • Kepingin Diam
      • Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!
      • Belajar dari Mencintai
      • (Tentang) Perempuan
      • Galau!
      • Baik dan Buruk
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kepingin Diam



“Oh, Tuan!
Biarkan Kau tulis aku
laksana lafad ‘yakûnu’
yang dimasuki ‘âmil ‘lam’ jâzem
....lam yakûn!
Sukun!

Diam!”





d
iam. Pernahkah kalian diam sejenak untuk sekedar memberikan kesempatan bernafas pada pikiranmu? Sudah mafhum tingkah laku manusia bilamana sudah sadar bahwa dirinya merasa mendapatkan beban permasalahan didadanya yang sulit diterimanya sehingga—bila penulis tak berlebihan—sulit bernafas. Contoh gampangnya saja—bila kamu masih disebut anak muda—ketika patah hati; kekasihmu memintamu sudahan, selingkuh, atau dinikahkan pada orang lain. Atau—bila kamu sudah tak bisa dibilang muda—ketika kamu difitnah. Ah, betapa sakitnya perasaan kita. Sekujur tubuh rasa-rasanya lemas semua. Bila penulis tidak berlebihan, ketika itu juga rasa-rasanya dunia mendung; mungkin mau runtuh detik-detik itu juga! Waktu-waktu itulah—ketika dihinggapi masalah yang sulit kita terima—kita maunya diam ditengah kesendirian. Hanya itulah, kawan!
Ya, terkadang kita—sebagai manusia yang normal—memerlukan diam seperti pemuda kasmaran yang sedang rindu pada kekasihnya. Lho, kok begitu? Ya, begitu kok! Sebab manusia—sebagai individu—terkadang memerlukan waktu untuk loading seperti halnya mengakses jaringan internet dari computer anda untuk menerima data. Bisa jadi—dalam proses diam itulah—manusia akan menerjemahkan, memaknai, dan menulisnya benar-benar secapat mungkin di dalam hati apa-apa yang terjadi semacam para santri memaknai kitab kuning. Ya, kita manusia biasa yang—sebagai pemula—membutuhkan proses untuk memaknai hidup yang terkesan rumit ini. Entahlah, apakah memang benar rumit adanya atau hanya kita saja yang belum memahami betul tentang hidup ini? Semacam santri pemula yang perlu memaknai kitabnya di surau atau mencarinya dikamus seadanya. Satu per satu sampai lengkap satu kalâm pembahasan!
Ketika diam sendiri apakah yang kalian rasakan? Bisa jadi, pada awalnya adalah gelisah. Gelisah tidak melihat siapa pun disitu. Kita merasa terasing, kawan! Sampai kamu akan  melihat runtutan peristiwa itu. Melihat orang-orang yang terlibat; termassuk dirimu sendiri! Ya, kamu melihat dirimu disana, kawan. Cobalah lebih dekat…dan lebih dekat dengan dirimu. Terkadang kita perlu lebih akrab dengan diri kita untuk memahami dan tahu siapa kita. Kenalanlah! Kamu akan melakukan adegan dialog dengan dirimu. Minimal, kamu akan mampu mengendalikan diri dari pengaruh pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya ketika diam sehingga mendapatkan keadaan yang damai.
Dr. Haidar baqir dalam bukunya—mengutip pendapatnya Mihaly Csikszentmihalyi, psikolog yang memplopori psikologi positif—memberi nama keadaan yang di dalamnya orang merasakan kebahagiaan sebagai “flow”. Flow adalah suatu keadaan pikiran yang di dalamnya kesadaran manusia berada dalam keadaan teratur dan selaras. Dan keadaan seperti ini biasa dicapai lewat pengendalian diri dan pengendalian hidup (h. 59).
Maka janganlah heran bila banyak tokoh, psikolog, dan ilmuwan menyebut bahwa berbagai cara meditasi Timur, termasuk yoga, dan berbagai praktik dalam Buddhisme dan Taoisme, tak terkecuali juga tasawuf, telah dipakai—dan terbukti memiliki keberhasilan—untuk mencapai keadaan ketika pelakunya mampu mengendalikan diri dari pengaruh pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya.
Namun dalam shalat—atau sembahyang dalam bahasa masyarakat kampung—terdapat
satu rukun yang namanya “thuma’nînah”. Bila dilihat dari asal katanya, thuma’nînah ini berasal dari asal kata yang sama dengan “al-nafs al-muthma’innah”. Ada apa dengan keduanya? Apakah ada hubungan sepesial seperti kamu dengan pacarmu? Mari kita lihat ayat al-Qur’an:
“Wahai jiwa yang tenang (muthma’innah). Pulanglah kamu kepada Rabbmu dalam keadaan kamu rela dan Tuhan rela kepadamu. Maka masuklah kamu ke golongan hamba-hamba-Ku. Dan, masuklah kamu ke surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)

Sayyid Quthb—semoga Tuhan memberi manfaat dengan barakah ilmunya kepada kita—mengomentari ayat tersebut dalam Kitab Tafsirnya, “Ayat-ayat tersebut mencurahkan nuansa keamanan, keridhaan, kepuasan, dan ketenangan. Irama musikalnya yang landai dan teduh sekitar pemandangan itu mengesankan kasih sayang, kedekatan dan ketenangan.” (Tafsîr fî Zhilâl al-Qur'an) Hal itu menandakan bahwa ketika diam—atau thuma’nînah—kalian disana seakan-akan memang kita diajari untuk merasakan rasa aman, rela (menerima apa yang telah terjadi), sehingga timbullah rasa puas dan tenang. Ya, ketika diam—sudah penulis katakan—sedang kita mencoba memaknai satu per satu apa yang telah terjadi dan sedang terjadi. Setelah makna itu sampai pada kalâm terahir yang melengkapi pemahaman kita barulah kita mengerti sehingga suaramu terdengar; ternyata hidup ini tak rumit! Aku adalah milik Nya. Tentunya Dia pasti—wajib secara akal—mengetahui diriku dari awal sampai ahirku, bukankah Dia memang Maha Tahu seperti yang dikatakan guru-guru ku? Dan tentu saja, Dia berhak melakukan apa saja kepadaku. Apa pun itu!
Ketika sudah begitu timbullah rasa menerima dengan sesuatu yang amat sulit ditelan perasaan kita dan mencoba membiarkan diri kita luruh. Luruh—bila penulis meminjam bahasanya Tere Liye—seperti sehelai daun. Daun jatuh yang tak pernah membenci angin meski terenggut dari tangkai pohonnya. Bukankah awan di lingkunganmu juga begitu; luruh menjadi rintik hujan, jatuh ke sungai, mengalir ke laut, terus menguap ke langit dan menjadi awan lagi? Bukankah setitik hujan tak pernah bertanya, kenapa mereka harus meninggalkan tata langit saat membasuh bukit? (Laras Hati) Sehingga secara otomatis akan membuat kamu kembali ringan.
Bukankah Islam itu memang tunduk patuh; luruh menyerah pada Nya?
Ayat tersebut (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)—masih menurut Sayyid Quthb—juga mengisyaratkan kepada kita tentang puncak perjalanan jiwa kita sebagai manusia kembali kepada asalnya. “Kembaliah kepada sumber asalmu setelah kamu terasing dari bumi dan terlepas dari buaian. Kembalilah kepada Tuhanmu, karena antara kamu dan Dia terdapat hubungan, saling mengenal dan jalinan….dengan keteduhan yang melimpah, yang memenuhi seluruh angkasanya dengan kelemah lembutan.” (Tafsîr fî Zhilâl al-Qur'an)
Ya, kembali kepada Nya. Belajar mati sebelum mati.[1] Membunuh diri (hawa nafsu/ego) sendiri. Mematikan hasrat yang selalu menggebu-gebu. Belajar tidur lelap dalam jaga. Mengembalikan segala urusan yang datang dari Nya kepada Nya; Tawakkal. Sebab…Innâ lil-Lâh wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya, kita hanyalah milik Allah dan kepada Allah jualah kita kembali).
Bukankah Islam itu memang tunduk patuh; luruh menyerah pada Nya?
Ya, Semoga saja kita—terutama penulis—mampu diam memaknai apa yang terjadi semacam memaknai kitab disurau sehingga mampu thuma’nîna; menjadi jiwa muthma’innah; tidur dalam jaga; mati sebelum mati. Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]


[1] Mûtû qabla al-mûtû!
Diposting oleh Mas Zain di 20.25
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger