MAS ZAIN

  • Bearanda
  • Aku?
  • Facebook-ku
Home » Archive for Agustus 2014

Minggu, 17 Agustus 2014

Kenapa dan Kenapa?

“Guru sejatiku adalah realitas. Realitas saya adalah spiritual.” (Gus Dur) Dalam hidup kadang kala kita menemui kendala dala...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
19.50

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kepingin Diam

“ Oh, Tuan! Biarkan Kau tulis aku laksana lafad ‘ yak û nu ’ yang dimasuki ‘â mil ‘ lam ’ j â zem ....lam yak û n! Sukun! ...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Mas Zain
20.25
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)
Monggo :

About Me

Foto Saya
Mas Zain
Aku..... ya aku!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (9)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ▼  2014 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  Agustus (7)
      • Kenapa dan Kenapa?
      • Kepingin Diam
      • Ternyata Kita (Masih) Sekedar Lebay Kawan!
      • Belajar dari Mencintai
      • (Tentang) Perempuan
      • Galau!
      • Baik dan Buruk
    • ►  Juli (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Oktober (1)

Categories

  • Filsafat (19)
  • Psikologi (14)
  • Puisi (1)
  • Sastra (1)
  • Sosial (1)
  • Sufisme (19)
  • Teologi (20)

Entri Populer

  • Hasratku (Manusia)
    “Aku tidak memiliki alasan apa pun menyangkut kepergianku. Yang kutahu hanyalah aku harus pergi ke mana pun getaran ini menuntutku. Hi...
  • MERENGEK RENGEK
    بسم الله الرحمن الرحيم “Duhai, Tuhan ku. Harapanku kepada Mu tak pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada Mu. Kecemasanku tak a...
  • Baik dan Buruk
    "Tuhan itu tunggal. Maka kita—sebagai makhluk-Nya—wajib ber-dualisme; dua-dua alias berpasang-pasanga...

My Facebook

Mas Zain

Buat Lencana Anda

Followers

Links

  • Emha Ainun Najib
  • Kumpulan Puisi
  • Salafiyah Syafi'iyah
  • SufiNews
  • www.arabic.web.id
  • Achmad's Blog

Blogroll

  • panggilakuella

Minggu, 17 Agustus 2014

Kenapa dan Kenapa?


“Guru sejatiku adalah realitas.
Realitas saya adalah spiritual.”
(Gus Dur)

Dalam hidup kadang kala kita menemui kendala dalam yang amat pelik untuk kita terima. Namun, disisi lain kita juga mengetahui—mungkin lebih tepatnya meyakini—bahwa semua ini adanya sudah dari Tuhan sumua-muanya semenjak jaman “azali” sebagaimana yang pernah diungkapkan para pemikir dan sufi seperti Imam al-Ghazali. Menurutnya, tidak akan terjadi peristiwa yang ada di alam raya ini sedikit pun melenceng dari qadha’ dan qadar Gusti Allah sebagaimana;
“Allah mencatat takdir-takdir makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi dengan selisih lima puluh tahun.” (HR. imam Muslim, Ibnu Majah, dll)
Maka tidaklah mungkin apa yang kita lihat melenceng dari pengetahuan dan kekuasaan Nya, bukan? Oleh karena itu tidaklah mungkin Tuhan menciptakan—atau mengadakan—sesuatu yang “salah” dalam pandangan Tuhan (hakikat). Namun, kita terkadang—bahkan sering kali—bingung seakan terjebak dalam lubang yang belum diketahui kedalamannya. Pikiran melayang-layang mencari makna yang pelik untuk diketahui dan diterima. Coba bayangkan—misalnya saja—kalian sedang patah hati, diputus oleh kekasih sendiri. Ah, betapa wah, rasa sakitnya. Seakan kita melihat mendung setiap hari; kelabu! Sebenarnya kita—yang memang sudah pernah membaca atau mempelajari tentang “takdir”—sudah paham bahwa semua-muanya tak akan keluar dari pengetahuan dan kehendaknya Tuhan yang menjadi dalang dan sutradara alam semesta yang kita lihat sampai saat ini. Namun, sepertinya kita tak menggubris pengetahuan itu. Kita lebih memilih untuk mengetahui dan menggugat kenapa semuanya seperti ini. Kita mencari tahu, seakan hati kita berteriak; Kenapa dan kenapa patah hati terjadi padaku? Salah apa aku?! Mungkin pikiran kita seakan sudah terkonsep semenjak kita memasuki arena pendidikan dinegri ini dengan cara pemikiran kritis model libral bila ada sesuatu yang tak sesuai dengan kebenaran logika ataupun mayoritas. Bila ada yang aneh akan bertanya “kenapa?” dan “kenapa?” yang membuat otak kita melayang seakan mengelilingi dunia mencari-cari jawaban semacam browsing di google untuk memuaskan hasrat kemanusian yang memang ingin mengetahui. Atau karena kita memang tidak menerima—terlalu sakit hati—dengan apa yang terjadi pada kita. Atau bisa jadi karena kedua-duanya? Kalian yang tahu bagaimana kalian.

Ada ungkapan yang menarik dari dawuh Kiai Khofifuddin, wakil pengasuh bidang pendidikan ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo-Situbondo, pada waktu pemakaman Kiai A. Fawaid, pengasuh ponpes, dalam suasana kelabu; manusia dan alam pada saat itu—memang pada hari jum’at itu yang biasanya cerah namun tiba-tiba mendung dan gerimis—seakan tidak menerima dengan wafatnya beliau yang mesih dibilang masih muda dan semangat juangnya membara. Banyak orang-orang yang bertanya-tanya kenapa beliau wafat semuda itu? Bukankah beliau masih muda? Dan ditanggapi oleh Kiai Khofifuddin dengan ayat لايسئل عما يفعل وهم يسئلون…. “Dia tak akan ditanya tentang sesuatu yang Dia perbuat dan (bahkan) merekalah yang akan ditanya.” (Q.S. Al Anbiyaa'; 23) Bahwa Tuhan memang tidaklah pantas untuk ditanya-tanya seakan menggugatnya dengan pertanyaan kenapa dan kenapa. Sebab apapun yang di-mau (baca; kehendak) Tuhan adalah benar meskipun memang sulit diterima—bahkan salah—dalam pandangan mayoritas manusia. Yang benar untuk menanyakan peristiwa semacam itu adalah apa hikmah dibalik kejadian itu.
Ya, memang hikmah adalah makna. Makna dibalik rentetan peristiwa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Seakan-akan itu adalah rentetan kata demi kata dalam rangkaian kaliamat di dalam sebuah buku pelajaran. Ya, kita seakan di-ajari oleh Tuhan melalui hidip kita; semua yang kita lalui; semua yang kita lihat. Diajari untuk mengenal apa? Bila penulis boleh mengkira-kira, yaitu untuk mengenal hidup. Mengenal hidup berarti mengenal diri kita sendiri (yang di bahasakan dalam naskah buku-buku sufi dengan nafs). Mengenal diri berarti mengenal Tuhan nya. Ya, kita di ajari tentang “siapa Tuhan kita” melalui rentetan peristiwa dalam kehidupan kita. Tuhan seakan mengenalkan diri Nya melalui rentetan-rentan yang ada dilam dan (bahkan) dalam diri kita. Yang oleh sebagian orang dibahasakan dengan “alam adalah ayat Tuhan” atau sebagian lagi menmbahasakan dengan “alam adalah tajally (penampakan) Tuhan”.
Semoga saja kita tak sekedar ingin tahu apa makna yang terjadi peda kita dan kita lihat. Tapi semoga saja rasa ingin tahu kita menjadi tangga kecil untuk ma’rifaturabbi. Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm!  
Wallahu A’lam![]
Diposting oleh Mas Zain di 19.50 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, East Java, Indonesia

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kepingin Diam



“Oh, Tuan!
Biarkan Kau tulis aku
laksana lafad ‘yakûnu’
yang dimasuki ‘âmil ‘lam’ jâzem
....lam yakûn!
Sukun!

Diam!”





d
iam. Pernahkah kalian diam sejenak untuk sekedar memberikan kesempatan bernafas pada pikiranmu? Sudah mafhum tingkah laku manusia bilamana sudah sadar bahwa dirinya merasa mendapatkan beban permasalahan didadanya yang sulit diterimanya sehingga—bila penulis tak berlebihan—sulit bernafas. Contoh gampangnya saja—bila kamu masih disebut anak muda—ketika patah hati; kekasihmu memintamu sudahan, selingkuh, atau dinikahkan pada orang lain. Atau—bila kamu sudah tak bisa dibilang muda—ketika kamu difitnah. Ah, betapa sakitnya perasaan kita. Sekujur tubuh rasa-rasanya lemas semua. Bila penulis tidak berlebihan, ketika itu juga rasa-rasanya dunia mendung; mungkin mau runtuh detik-detik itu juga! Waktu-waktu itulah—ketika dihinggapi masalah yang sulit kita terima—kita maunya diam ditengah kesendirian. Hanya itulah, kawan!
Ya, terkadang kita—sebagai manusia yang normal—memerlukan diam seperti pemuda kasmaran yang sedang rindu pada kekasihnya. Lho, kok begitu? Ya, begitu kok! Sebab manusia—sebagai individu—terkadang memerlukan waktu untuk loading seperti halnya mengakses jaringan internet dari computer anda untuk menerima data. Bisa jadi—dalam proses diam itulah—manusia akan menerjemahkan, memaknai, dan menulisnya benar-benar secapat mungkin di dalam hati apa-apa yang terjadi semacam para santri memaknai kitab kuning. Ya, kita manusia biasa yang—sebagai pemula—membutuhkan proses untuk memaknai hidup yang terkesan rumit ini. Entahlah, apakah memang benar rumit adanya atau hanya kita saja yang belum memahami betul tentang hidup ini? Semacam santri pemula yang perlu memaknai kitabnya di surau atau mencarinya dikamus seadanya. Satu per satu sampai lengkap satu kalâm pembahasan!
Ketika diam sendiri apakah yang kalian rasakan? Bisa jadi, pada awalnya adalah gelisah. Gelisah tidak melihat siapa pun disitu. Kita merasa terasing, kawan! Sampai kamu akan  melihat runtutan peristiwa itu. Melihat orang-orang yang terlibat; termassuk dirimu sendiri! Ya, kamu melihat dirimu disana, kawan. Cobalah lebih dekat…dan lebih dekat dengan dirimu. Terkadang kita perlu lebih akrab dengan diri kita untuk memahami dan tahu siapa kita. Kenalanlah! Kamu akan melakukan adegan dialog dengan dirimu. Minimal, kamu akan mampu mengendalikan diri dari pengaruh pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya ketika diam sehingga mendapatkan keadaan yang damai.
Dr. Haidar baqir dalam bukunya—mengutip pendapatnya Mihaly Csikszentmihalyi, psikolog yang memplopori psikologi positif—memberi nama keadaan yang di dalamnya orang merasakan kebahagiaan sebagai “flow”. Flow adalah suatu keadaan pikiran yang di dalamnya kesadaran manusia berada dalam keadaan teratur dan selaras. Dan keadaan seperti ini biasa dicapai lewat pengendalian diri dan pengendalian hidup (h. 59).
Maka janganlah heran bila banyak tokoh, psikolog, dan ilmuwan menyebut bahwa berbagai cara meditasi Timur, termasuk yoga, dan berbagai praktik dalam Buddhisme dan Taoisme, tak terkecuali juga tasawuf, telah dipakai—dan terbukti memiliki keberhasilan—untuk mencapai keadaan ketika pelakunya mampu mengendalikan diri dari pengaruh pengaruh atau gangguan-gangguan dari luar dirinya.
Namun dalam shalat—atau sembahyang dalam bahasa masyarakat kampung—terdapat
satu rukun yang namanya “thuma’nînah”. Bila dilihat dari asal katanya, thuma’nînah ini berasal dari asal kata yang sama dengan “al-nafs al-muthma’innah”. Ada apa dengan keduanya? Apakah ada hubungan sepesial seperti kamu dengan pacarmu? Mari kita lihat ayat al-Qur’an:
“Wahai jiwa yang tenang (muthma’innah). Pulanglah kamu kepada Rabbmu dalam keadaan kamu rela dan Tuhan rela kepadamu. Maka masuklah kamu ke golongan hamba-hamba-Ku. Dan, masuklah kamu ke surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)

Sayyid Quthb—semoga Tuhan memberi manfaat dengan barakah ilmunya kepada kita—mengomentari ayat tersebut dalam Kitab Tafsirnya, “Ayat-ayat tersebut mencurahkan nuansa keamanan, keridhaan, kepuasan, dan ketenangan. Irama musikalnya yang landai dan teduh sekitar pemandangan itu mengesankan kasih sayang, kedekatan dan ketenangan.” (Tafsîr fî Zhilâl al-Qur'an) Hal itu menandakan bahwa ketika diam—atau thuma’nînah—kalian disana seakan-akan memang kita diajari untuk merasakan rasa aman, rela (menerima apa yang telah terjadi), sehingga timbullah rasa puas dan tenang. Ya, ketika diam—sudah penulis katakan—sedang kita mencoba memaknai satu per satu apa yang telah terjadi dan sedang terjadi. Setelah makna itu sampai pada kalâm terahir yang melengkapi pemahaman kita barulah kita mengerti sehingga suaramu terdengar; ternyata hidup ini tak rumit! Aku adalah milik Nya. Tentunya Dia pasti—wajib secara akal—mengetahui diriku dari awal sampai ahirku, bukankah Dia memang Maha Tahu seperti yang dikatakan guru-guru ku? Dan tentu saja, Dia berhak melakukan apa saja kepadaku. Apa pun itu!
Ketika sudah begitu timbullah rasa menerima dengan sesuatu yang amat sulit ditelan perasaan kita dan mencoba membiarkan diri kita luruh. Luruh—bila penulis meminjam bahasanya Tere Liye—seperti sehelai daun. Daun jatuh yang tak pernah membenci angin meski terenggut dari tangkai pohonnya. Bukankah awan di lingkunganmu juga begitu; luruh menjadi rintik hujan, jatuh ke sungai, mengalir ke laut, terus menguap ke langit dan menjadi awan lagi? Bukankah setitik hujan tak pernah bertanya, kenapa mereka harus meninggalkan tata langit saat membasuh bukit? (Laras Hati) Sehingga secara otomatis akan membuat kamu kembali ringan.
Bukankah Islam itu memang tunduk patuh; luruh menyerah pada Nya?
Ayat tersebut (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)—masih menurut Sayyid Quthb—juga mengisyaratkan kepada kita tentang puncak perjalanan jiwa kita sebagai manusia kembali kepada asalnya. “Kembaliah kepada sumber asalmu setelah kamu terasing dari bumi dan terlepas dari buaian. Kembalilah kepada Tuhanmu, karena antara kamu dan Dia terdapat hubungan, saling mengenal dan jalinan….dengan keteduhan yang melimpah, yang memenuhi seluruh angkasanya dengan kelemah lembutan.” (Tafsîr fî Zhilâl al-Qur'an)
Ya, kembali kepada Nya. Belajar mati sebelum mati.[1] Membunuh diri (hawa nafsu/ego) sendiri. Mematikan hasrat yang selalu menggebu-gebu. Belajar tidur lelap dalam jaga. Mengembalikan segala urusan yang datang dari Nya kepada Nya; Tawakkal. Sebab…Innâ lil-Lâh wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya, kita hanyalah milik Allah dan kepada Allah jualah kita kembali).
Bukankah Islam itu memang tunduk patuh; luruh menyerah pada Nya?
Ya, Semoga saja kita—terutama penulis—mampu diam memaknai apa yang terjadi semacam memaknai kitab disurau sehingga mampu thuma’nîna; menjadi jiwa muthma’innah; tidur dalam jaga; mati sebelum mati. Ihdinâ ash shirâth al-mustaqîm! Âmin!
Wallahu A’lam![]


[1] Mûtû qabla al-mûtû!
Diposting oleh Mas Zain di 20.25 0 komentar
Label: Filsafat, Psikologi, Sufisme, Teologi
Lokasi: Rembang, Pasuruan, East Java, Indonesia
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2013 MAS ZAIN - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger